Makna Warisan yang Terlupakan: Rasa dalam Pentas Gambus Tandabaca Kindang Bulukumba

Makna Warisan yang Terlupakan: Rasa dalam Pentas Gambus Tandabaca Kindang Bulukumba

Pentas Gambus di Tandabaca: Menyambung Kembali Jembatan Budaya

Angin dan dedaunan berdenting, namun kali ini dibersamai alunan gambus. Di Dusun Sapayya, udara sejuk akan didominasi oleh musik tradisional yang khas. Beberapa hari menjelang Pentas Gambus, Tandabaca, sebuah area yang juga menjadi nama komunitas literasi dan budaya, sudah memancarkan auranya.

Ada irama yang ritmis dan magis yang telah berpadu dengan penataan stage. Matahari sore perlahan turun, menyelimuti kontur perbukitan Kindang dengan warna jingga karamel, menciptakan siluet dramatis yang siap menjadi latar belakang pentas. Di sudut stage yang sebentar lagi rampung, para maestro telah bersila. Jari-jari mereka yang terlatih menari di atas dawai. Dentingan gambus yang dimainkan perlahan itu bergetar pula di membran rebana yang dipukul lembut, seolah sedang menyetel resonansi alam dengan nada-nada kuno.

Program Inovasi Seni Nusantara 2025 Kemdiktisaintek

Poster dengan tipografi yang elegan telah dipasang, mengumumkan sebuah perhelatan istimewa: "PENTAS GAMBUS". Acara ini merupakan bagian vital dari Program Inovasi Seni Nusantara 2025 yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Keheningan sawah yang memantul ke tempat itu terasa dijaga; hanya ada suara gesekan senar. Lalu terdengar arahan dari Idris Makkatutu, S.Pd., M.Pd., pendiri komunitas Tandabaca.

Idris Makkatutu melihat Pentas Gambus ini sebagai momentum untuk menegaskan kembali posisi seni tradisi di tengah gempuran budaya modern. Ia mengingatkan urgensinya dalam memastikan keberlangsungan musik lokal.

"Kami ingin Tandabaca ini menjadi oase bagi seni-seni yang mulai terpinggirkan. Gambus, dengan sejarah panjangnya di Bulukumba, harus didengar lagi oleh anak-anak muda, bukan hanya sebagai peninggalan, tapi sebagai musik yang hidup dan relevan," jelasnya.

Pelibatan yang Menjadi Ciri Khas

Idris juga menyoroti aspek pelibatan yang menjadi ciri khas Pentas Gambus kali ini.

"Pentas ini adalah perpaduan. Kami tidak hanya mengundang masyarakat umum, tetapi juga para pegiat, tokoh adat, hingga pemerintah. Tujuannya satu: agar kita semua sadar bahwa warisan ini adalah tanggung jawab kolektif. Semoga ini bisa menginspirasi komunitas lain untuk terus bersuara melalui tradisi," tambahnya penuh harap.

Mereka sedang membangun kembali jembatan ingatan yang menghubungkan masa kini dengan sejarah peradaban Islam dan niaga di Bulukumba. Inilah yang akan disajikan dalam "PENTAS GAMBUS" pada Kamis, 11 Desember 2025, sebuah perhelatan vital dari Program Inovasi Seni Nusantara 2025 Kemdiktisaintek.

Simpul Pertemuan Generasi dan Budaya

Di tengah siluet sawah yang terhampar luas dan kontur perbukitan yang perlahan dibalut cahaya senja, stage itu bersiap menjadi pusat pusaran budaya. Tempat itu, yang biasanya hanya menjadi latar belakang bagi aktivitas baca, bermain, olahraga, dan berdiskusi, kini juga bertransformasi menjadi ruang seni yang intim.

Dari pukul 14.00 hingga 21.00 Wita, Tandabaca akan menjadi lebih dari sekadar panggung terbuka; ia menjadi simpul pertemuan antara generasi dan antara kebijakan budaya dengan akar komunitas.

Musik gambus, yang memiliki sejarah panjang dalam jalur perdagangan dan penyebaran Islam di Nusantara, akan hadir tidak hanya sebagai melodi, tetapi juga sebagai narasi. Di bawah langit terbuka Kindang, Bulukumba, kisah-kisah masa lalu dan pesan-pesan pewarisan budaya akan berdenting.

Keberlanjutan Seni Tradisi

Inisiatif ini menegaskan bahwa keberlanjutan sebuah seni tradisi tidak hanya terletak pada pelestariannya di museum atau gedung pertunjukan mewah, tetapi justru pada kemampuannya untuk berinteraksi secara intim dengan lingkungan tempat ia tumbuh, disaksikan langsung oleh masyarakat yang menjadi pewaris sejati.

Dengan melibatkan pejabat dan musisi lokal dalam format yang egaliter, "PENTAS GAMBUS" di Sapayya berupaya menjembatani kesenjangan dan memastikan bahwa warisan budaya yang terancam punah ini mendapat tempat yang layak di hati generasi muda Bulukumba.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan