
Beberapa malam lalu, sekitar pukul delapan malam, saya pergi menjemput putri saya dari rumah gurunya yang mengajarkan cara membaca Al-Qur’an. Ternyata saya datang lebih awal tiga puluh menit akibat lupa.
Untuk menghabiskan waktu, saya mengikuti kata hati dengan menelusuri beberapa jalan dan gang yang tidak terlalu jauh dari lokasi penjemputan. Saya mengendarai sepeda motor, perlahan melewati malam yang lumayan dingin setelah hujan. Jalanan tampak mengkilap, batang-batang pohon masih meneteskan sisa-sisa air.
Saya memang senang suasana hujan dan setelahnya, karena hati saya sering merasa tenang ketika berada dalam kondisi tersebut, meski kadang juga muncul penyesalan.
Sayangnya, banyak kenangan buruk dan penyesalan yang muncul pada malam tersebut. Tentang pencapaian materi yang biasa saja, kemewahan yang belum juga datang, dan kekuasaan yang tak pernah diraih. Kira-kira begitu garis besar keinginan dan sesal yang muncul.
Suara dengung khas kue putu menyadarkan saya yang sedang larut dalam lamunan. Penjualnya tersenyum kepada saya, senyum yang tulus. Saya membalas dengan senyum terbaik meskipun semua teman mengatakan bahwa wajah saya susah sekali tersenyum. Namanya juga berusaha.
Di sebelah penjual kue putu, ada seorang penjual kacang rebus. Ia seorang pria yang sepertinya berusia empat puluhan tahun. Pria itu sedang duduk di kursi plastik, dan di bawahnya terdapat hamparan potongan karton yang di permukaannya tampak seorang balita sedang tidur pulas.
Sejak menjadi seorang ayah, saya tidak pernah kuat melihat pemandangan seperti itu. Hati saya terasa seperti teriris.
Saya melanjutkan perjalanan sedikit lebih jauh. Saya menemukan sebuah rumah yang sangat bagus, berwarna putih, dan rapi. Samar-samar terlihat sebuah keluarga bahagia yang sedang bersiap-siap tidur (mereka sudah pakai piama), menikmati sejuknya malam.
Dalam hati saya bertanya: "Apakah yang baru saya lihat merupakan ironi?"
Namun muncul lagi keraguan lain, siapa yang bisa memastikan bahwa para pedagang di pinggiran jalan itu lebih bersedih ketimbang orang-orang yang berada di rumah mewah?
Jelas bahwa jika soal materi dunia, orang-orang yang memiliki rumah mewah pasti memiliki kelebihan. Tapi apakah menjamin kebahagiaan?
Jika kelebihan materi dapat menjamin kebahagiaan, mengapa masih ada orang kaya yang memutuskan mengakhiri hidup? Sebut saja Scot Young, Adolf Merckle, Otto Beishem, Xu Ming, Jesse Livermore, dan Steve Bing. Mereka telah terbukti memiliki reputasi dan kondisi keuangan yang lebih dari cukup (miliarder), namun mengambil sikap seperti orang yang tidak bahagia.
Tidak memiliki uang adalah kepahitan dan keadaan yang sangat menyulitkan. Itu jelas, saya setuju.
Seorang teman pernah berkata: "Lebih baik aku menangis di dalam mobil mewah, daripada menangis di gubuk rusak."
Pernyataan teman saya itu sekilas terdengar benar, tapi jika diselisik lebih dalam, maka baik di dalam mobil mewah maupun di gubuk, sedih adalah sedih, bahagia adalah bahagia. Bahkan bagi sebagian orang, mereka mengatakan bahwa hidup tanpa utang saja adalah kebahagiaan.
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa uang atau materi dunia pasti membawa kesenangan. Pasti! Kebahagiaan? Belum tentu.
Waktu dan arah akhirnya membawa saya kembali ke tempat di mana putri saya belajar membaca Al-Qur’an. Dari kejauhan saya sudah mendengar suaranya.
"Papa!" teriak putri saya. Senyum yang sangat cantik.
Saya menyadari bahwa keluarga adalah kebahagiaan terbesar saya, baik dalam keadaan senang maupun susah. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membawa kami ke arah kebaikan dunia-akhirat. Aaammiin!
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar