BUDAmFEST 2025: Laboratorium Ide dan Ruang Pertemuan Talenta Teater Nusantara Resmi Dimulai
Dalam rangkaian BUDAmFEST 2025, tema Partisipasi dan Adaptasi membuka ruang bagi para praktisi seni untuk menafsir ulang berbagai isu sosial yang mengemuka. Di antara sejumlah karya yang tampil, pertunjukan monoplay “Malam Tanpa Akhir” oleh Dyah Ayu Setyorini (Ading) menjadi salah satu penanda penting yang menyoroti bagaimana tubuh perempuan dibentuk, dibatasi, dan sekaligus dipaksa untuk terus menyesuaikan diri dalam ekosistem seni pertunjukan.
Lewat pendekatan kelas Bongkar Muat yang diselenggarakan Lab Teater Ciputat (LTC), Ading menghadirkan gagasan feminisme dalam pusaran male gaze, sembari menyigi kembali teks klasik Sotoba Komachi karya Yukio Mishima. Adaptasi bebas ini justru membawanya pada penelusuran personal tentang bagaimana perempuan dibaca, diatur, dan didefinisikan—bahkan oleh dirinya sendiri.
Pertunjukan yang Menghadirkan Perspektif Baru tentang Komachi
Dipentaskan pada Selasa, 9 Desember 2025, di Museum Kebangkitan Nasional, Malam Tanpa Akhir memperkenalkan pembacaan baru terhadap figur Komachi. Tokoh legendaris yang selama berabad-abad hidup di bawah bayang-bayang tafsir laki-laki ini tampil melalui kesadaran tubuh seorang aktor perempuan.
Alih-alih menggambarkan Komachi sebagai sosok tragis, pertunjukan ini menghadirkan versi yang lebih reflektif dan kontemporer. Komachi tidak lagi ditempatkan sebagai ikon kecantikan atau korban romansa, tetapi sebagai representasi perempuan yang harus bernegosiasi dengan berbagai ekspektasi sosial.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana ruang pertunjukan dapat menjadi media kritik; bukan hanya pada teks klasik, tetapi juga pada cara masyarakat memandang perempuan hingga hari ini.

Tubuh Perempuan sebagai Medium Tafsir
Dalam monoplay ini, tubuh Ading berfungsi sebagai medan tafsir yang kompleks. Setiap gestur menjadi penanda bagaimana identitas perempuan diproduksi oleh masyarakat—dan bagaimana perempuan sering kali terjebak dalam konstruksi itu.
- Gerak diperbesar
- Ritme diperlambat
- Momen-momen hening dipertahankan
Pilihan artistik tersebut menimbulkan ketegangan yang mengganggu kenyamanan penonton. Namun justru dari situ gagasan feminisme menyelinap masuk: bahwa tuntutan “kuat”, “pantang rapuh”, “mandiri” sering kali berubah menjadi beban baru bagi perempuan.
Melalui intensitas tubuh, Ading menyingkap paradoks tersebut tanpa harus mengucapkannya sebagai slogan. Ia menghadirkannya sebagai pengalaman emosional.
Membongkar Narasi Besar Komachi dalam Kacamata Feminisme
Pertunjukan ini membawa penonton memasuki dialog internal antara Ading dan sosok Komachi. Dalam dialog ini, masa lalu dan masa kini dipertemukan, sementara tubuh perempuan menjadi ruang uji bagi ingatan-ingatan budaya.
Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana Komachi hidup bukan hanya sebagai tokoh dalam cerita, tetapi sebagai simbol:
- kecantikan yang dibentuk oleh struktur patriarki,
- kesunyian yang dialami perempuan dalam masyarakat,
- beban moral yang diwariskan tanpa persetujuan mereka.
Dengan begitu, Malam Tanpa Akhir tidak hanya mengadaptasi teks Mishima, tetapi juga mengajak penonton menelusuri apa yang membelenggu perempuan dalam kehidupan sehari-hari.
Mise-en-Scène Minimalis yang Sarat Makna
Tiga benda tertutup kain putih—dua kursi taman dan sebuah lampu taman—menjadi elemen penting dalam mise-en-scène. Ketiganya tidak sekadar properti; ia berfungsi sebagai metafora ruang sosial yang:
- menuntut kehadiran perempuan,
- tetapi tidak menyediakan tempat bagi suara mereka.
Pendekatan minimalis ini menghadirkan ruang kosong yang beresonansi kuat dengan tema pertunjukan.
Pengamat teater dan Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta, Bambang 'Bembeng' Prihadi, menyebut pementasan ini sebagai kritik feminis yang “tidak terjebak glorifikasi”. Menurutnya, pertunjukan ini mempertahankan kerentanan perempuan sebagai bagian organik dari pengalaman sosial.
Sementara itu, Rizki Pangestu, salah satu penonton, menilai bahwa Malam Tanpa Akhir mengingatkan publik bahwa feminisme tidak semata tentang independensi, tetapi juga tentang relasi, empati, dan merawat satu sama lain.
Ketika Aktor Perempuan Menjadi Subjek Panggung
Salah satu momen paling kuat muncul ketika Ading berbicara langsung kepada penonton. Di hadapan sorotan lampu, ia menyingkap jarak antara perempuan ideal yang dibayangkan masyarakat dan perempuan nyata yang memikul kehidupan.
Pada titik inilah pertunjukan bergerak dari estetika menuju etika. Seni tidak lagi sekadar bahasa visual, tetapi menjadi alat untuk menantang cara kita memandang perempuan.
Malam Tanpa Akhir menjadi salah satu persembahan penting dalam BUDAmFEST 2025. Pertunjukan ini tidak hanya menyajikan adaptasi kreatif dari karya klasik, tetapi juga menghadirkan refleksi tajam tentang bagaimana perempuan dibentuk oleh realitas sosial.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar