Mantan Kabareskrim Akui Kesulitan Lacak Asal Kayu Terbawa Banjir Sumatra

Banjir Bandang di Sumatra: Temuan Gelondongan Kayu dan Dugaan Kerusakan Hutan

Banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Sumatra menunjukkan adanya anomali yang tidak biasa. Tidak hanya air bercampur lumpur, tetapi juga ribuan kubik gelondongan kayu berbagai ukuran terbawa arus air bah. Temuan ini mengindikasikan dugaan kerusakan hutan akibat penebangan ilegal atau masif.

Eks Kabareskrim Polri Komjen Pol (Purn) Ito Sumardi menyebut bahwa menelusuri asal-usul gelondongan kayu yang terbawa banjir bandang merupakan hal yang tidak mudah. Menurutnya, gelondongan kayu tersebut tidak hanya berasal dari penebangan ilegal, tetapi juga bisa berasal dari perusahaan legal maupun ilegal. Hal ini menjadi perhatian utama bagi Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) dari Kejaksaan Agung RI yang diterjunkan untuk menyelidiki dugaan kerusakan hutan yang memicu bencana banjir dan tanah longsor.

Wilayah Terdampak dan Penemuan Gelondongan Kayu

Bencana ekologis ini terjadi di sejumlah wilayah seperti Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatra Utara. Di Aceh, gelondongan kayu juga ditemukan di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara, Bireun, dan Pidie Jaya. Di Provinsi Sumatra Barat, gelondongan kayu ditemukan di Pasak Kayu, Nagari Salareh Aia, Palembayan, Agam, serta Danau Singkarak di Nagari Muaro Pingai, Kabupaten Solok. Bahkan, di Pantai Parkit dan Pantai Air Tawar, Kota Padang, juga ditemukan gelondongan kayu.

Pengalaman Ito dalam Penelusuran Kayu

Ito Sumardi, yang pernah menjabat sebagai Kapolda Riau (2005–2006) dan Kapolda Sumsel (2006–2008), menjelaskan bahwa penelusuran asal-usul gelondongan kayu harus dilakukan dengan alat transportasi helikopter. "Dari atas kita bisa menelusuri kayu itu dari mulai hilir ke hulu," ujarnya.

Menurut Ito, modus penebangan hutan di Sumatra adalah dengan menempatkan kayu di sungai-sungai dari hulu ke hilir agar kulitnya terlepas, lalu ditarik dengan kapal tongkang. Modus ini turut berperan memperparah peristiwa banjir bandang.

Fungsi Ekologis Hutan yang Berkurang

Ito menyebut bahwa banjir bandang yang terjadi di Sumatra belum pernah terjadi sebelumnya. Temuan ribuan kubik gelondongan kayu menunjukkan bahwa cakupan hutan yang dibuka sudah sangat luas, sehingga fungsi ekologisnya dalam menahan air sudah sangat berkurang. "Jika cakupan hutan yang dibuka itu sangat luas, maka tentunya tidak mampu menahan air dan air inilah yang kemudian membawa longsoran, masuk ke sungai sehingga akhirnya sungai itu meluap," ujarnya.

Penjualan Kayu dan Keterlibatan Perusahaan

Kayu hasil penebangan biasanya dijual karena harganya yang tinggi. Namun, hal ini membuat upaya penegakan hukum semakin sulit, karena masyarakat setempat sering kali terlibat dalam proses penebangan. Ito menilai, pemodal atau perusahaan yang menebang kayu dan mempekerjakan masyarakat sekitar harus diusut izinnya juga.

"Nah, di sini harus dilakukan penelitian kembali izin-izin ini, apakah memang harus diteruskan atau tidak, apakah memenuhi persyaratan atau tidak, karena biasanya mereka itu memperluas sendiri ya untuk area yang diizinkan," papar Ito.

Data Bencana Sumatra 2025

Update data bencana Sumatra 2025 menunjukkan jumlah korban yang sangat besar. Tiga provinsi di Sumatra, yakni Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh dilanda banjir bandang dan tanah longsor yang disebabkan hujan lebat sejak Senin (24/11/2025). Puncak intensitas tinggi hujan terjadi pada Selasa hingga Kamis (25–27/11/2025).

Menurut data terbaru dari Dashboard Penanganan Bencana Sumatra 2025 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (8/11/2025) sore hari ini pukul 15.30 WIB, tercatat sebanyak 961 orang meninggal dunia. Lalu, 234 orang dilaporkan hilang, sedangkan sekitar 5.000 orang mengalami luka-luka.

Di 52 kabupaten terdampak, tercatat setidaknya kerusakan baik berat maupun ringan menimpa 156.500 rumah, 1.200 fasilitas umum, 534 fasilitas pendidikan, 420 rumah ibadah, 435 jembatan, 234 gedung/kantor, dan 199 fasilitas kesehatan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan