Maria, Mahasiswi UNIMA, Diduga Diperkosa Dosennya Sebelum Ditemukan Tewas

Kematian Evia Maria Mangolo, Mahasiswi UNIMA yang Diduga Korban Pelecehan Seksual

Kasus kematian Evia Maria Mangolo, seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (UNIMA), menyisakan duka mendalam dan pertanyaan besar di kalangan masyarakat. Ditemukan tewas dalam kondisi tergantung di kamar kosnya, kasus ini menimbulkan kecurigaan bahwa ada hal tidak wajar di balik kematian wanita berusia 21 tahun tersebut.

Evia Maria diduga mengalami pelecehan seksual oleh seorang dosen sebelum meninggal. Kejadian ini terungkap melalui surat korban yang ditulis sebelum kematiannya. Surat tersebut menjelaskan kronologi pelecehan yang dialaminya, termasuk dipaksa masuk ke dalam mobil, diminta memijat, hingga dicium tanpa persetujuan.

Kronologi Pelecehan yang Terungkap

Menurut surat yang ditulis Evia Maria pada tanggal 16 Desember 2025, pelecehan terjadi pada Jumat (12/12/2025) di kawasan kampus. Dosen bernama Danny memulai percakapan dengan menanyakan apakah Maria bisa memberikan pijatan. Maria menolak karena merasa tidak wajib melakukan itu.

Namun, dosen tersebut tetap memaksa. Saat Maria berada di food court kampus, ia memberitahu dua temannya tentang isi chat tersebut. Meski mereka memperingatkan untuk tidak pergi, dosen itu beralih topik ke pembicaraan rekap nilai. Maria pun akhirnya pergi ke parkiran mobil kampus.

Saat tiba di parkiran, dosen Danny meminta Maria masuk ke dalam mobilnya. Bukan membicarakan nilai, dosen tersebut malah kembali meminta untuk dipijat. Maria duduk di kursi belakang dan dipaksa pindah ke depan. Di dalam mobil, dosen itu mulai melakukan pelecehan dengan mengusap paha Maria dan berbicara hal-hal vulgar.

Tanda-Tanda Kematian yang Mencurigakan

Pihak keluarga sangat curiga dengan kematian Evia Maria. Mereka melihat adanya tanda biru di bagian kaki korban dan posisi kain di kamar kos yang dinilai janggal. Pengacara keluarga, Cyprus Tatali, juga menyebutkan bahwa situasi kematian Maria tidak wajar.

Untuk itu, keluarga meminta agar jenazah Maria diotopsi guna mengungkap penyebab kematian secara pasti. Mereka menilai bahwa kematian ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Peran Surat Korban dalam Penyelidikan

Surat yang ditulis oleh Evia Maria menjadi bukti penting dalam penyelidikan. Dalam surat tersebut, ia menceritakan pengalaman buruk yang dialaminya selama di dalam mobil. Maria menunjukkan rasa takut dan ketidaknyamanan saat dosen itu mencoba menciumnya dan melakukan tindakan tidak senonoh.

Di tengah situasi yang mencekam, Maria mencoba menolak dan bahkan meminta izin untuk pulang. Namun, dosen itu justru mengatakan bahwa "tidak apa-apa" dan berusaha meyakinkan korban bahwa hal itu biasa terjadi.

Respons dari Pihak Kampus dan Penegak Hukum

Sejak kejadian ini, pihak kampus dan aparat penegak hukum telah melakukan penyelidikan intensif. Kasus ini menarik perhatian publik dan memicu diskusi tentang perlindungan mahasiswa dari pelecehan seksual.

Selain itu, masyarakat juga menuntut transparansi dalam proses penyelidikan. Mereka ingin tahu apakah ada pelaku yang bertanggung jawab atas kematian Evia Maria dan bagaimana sistem di kampus dapat mencegah kejadian serupa di masa depan.

Kesimpulan

Kasus kematian Evia Maria Mangolo tidak hanya menjadi duka bagi keluarga, tetapi juga menjadi peringatan akan pentingnya perlindungan terhadap mahasiswa dari tindakan tidak pantas. Surat yang ditulis oleh korban menjadi bukti nyata bahwa pelecehan seksual masih menjadi isu yang serius di lingkungan pendidikan.

Dengan adanya otopsi dan penyelidikan lebih lanjut, harapan besar diarahkan agar keadilan dapat ditegakkan dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan