
Kasus Kematian Maria Antoineta Evia Mangolo: Dugaan Pelecehan dan Pemerasan oleh Seorang Dosen
Maria Antoineta Evia Mangolo, seorang mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima), ditemukan tewas tak wajar di kamar kosnya di Kota Tomohon pada Selasa (30/12/2025). Kasus ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai latar belakang kejadian yang dialaminya. Dugaan terkuat adalah bahwa ia bukan hanya menjadi korban pelecehan, tetapi juga pemerasan oleh seorang dosen perempuan terkait pengurusan nilai akademik.
Peristiwa yang Menggemparkan
Sepupu korban, Zefanya Brenda Montung, mengungkapkan bahwa Evia sering bercerita tentang pengalamannya dengan seorang dosen perempuan. Menurut Zefanya, dosen tersebut tidak terlibat dalam kasus pelecehan yang diduga dilakukan oleh oknum lain, tetapi justru meminta biaya makan setiap kali mereka bertemu. Ini menjadi indikasi awal adanya pemerasan yang dialami Evia.
Percakapan terakhir antara Zefanya dan Evia terjadi pada 22 Desember 2025, beberapa hari sebelum kematian tragisnya. Percakapan itu berjalan biasa tanpa tanda-tanda mencurigakan. Namun, Zefanya masih ingat sebuah peristiwa penting yang terjadi pada 20 November 2025, ketika Evia sedang berada di Manado dan mengatakan bahwa dirinya akan bertemu dengan dosen perempuan di kawasan Komo Luar.
Pesan Perpisahan yang Tak Terduga
Zefanya juga mengenang komunikasi terakhir melalui WhatsApp, ketika dirinya sempat menanyakan rencana Evia untuk pulang kampung. Dalam unggahan terakhirnya, Evia membagikan video lama dirinya bersama sang adik saat mandi di pantai dengan caption "hadiah Natal for mama." Unggahan tersebut kini terasa seperti pesan perpisahan yang tak disadari sebelumnya.
Surat Pengaduan yang Menyentuh Hati
Di balik kepergian Evia, ditemukan sebuah surat pengaduan yang berisi dugaan pelecehan seksual oleh seorang dosen. Surat ini ditujukan kepada Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) UNIMA, Dr. Aldjon Dapa, M.Pd. Dalam surat tersebut, Maria mengungkap dugaan pelecehan seksual yang dialaminya, termasuk kronologi kejadian yang sangat memengaruhi kondisi psikologisnya.
Dalam surat itu, korban menyebut terduga pelaku berinisial DM, seorang dosen di fakultas tempatnya menempuh pendidikan. Maria menuliskan bagaimana kejadian dimulai dari sebuah pesan singkat yang tidak nyaman. Ia merasa tertekan dan trauma akibat peristiwa tersebut.
Kejadian yang Membuat Rasa Tidak Aman
Peristiwa berlanjut ketika korban diminta oleh dosen tersebut untuk naik ke mobilnya. Tanpa kecurigaan berlebih, korban menuruti permintaan tersebut. Namun sejak awal perjalanan, rasa tidak nyaman mulai muncul. Korban sempat menanyakan tujuan perjalanan, termasuk kaitannya dengan urusan akademik dan nilai. Jawaban yang diterimanya justru membuat kebingungan semakin dalam.
Mobil sempat berhenti di samping gedung pascasarjana. Di lokasi itu, korban mengaku dipaksa pindah ke kursi depan. Ia menolak, namun tetap didesak dengan alasan “melangkah saja.” Dalam kondisi tertekan, korban akhirnya berpindah tempat duduk, meski perasaan tidak nyaman terus menghantuinya.
Perubahan yang Menjadi Pelecehan
Setibanya di lokasi, situasi berubah semakin mencekam. Korban mengaku dosen tersebut merebahkan sandaran kursi dan kembali meminta diurut. Ia menolak, dengan alasan tidak tahu caranya. Namun penolakan itu tak menghentikan tindakan terduga pelaku. Ia justru memberi contoh langsung. Korban menyebut tangan dosen tersebut mulai menyentuh bagian belakang tubuhnya, lalu berpindah ke paha korban tanpa izin.
Ucapan bernuansa seksual pun dilontarkan, membuat korban merasa terhina dan ketakutan. Maria menegaskan bahwa tindakan tersebut telah melewati batas, tetapi respons yang diterima justru semakin menekan kondisi mentalnya.
Akhir yang Tragis
Korban akhirnya diturunkan di depan prodi sekitar pukul 15.03 WITA. Ia mengaku merasa jijik, marah, dan kecewa karena perilaku dosen tersebut jauh dari nilai seorang pendidik. Dalam pengaduannya, Maria menyatakan mengalami trauma, ketakutan, dan tekanan psikologis. Ia merasa malu dan khawatir terlihat bersama dosen tersebut karena takut menjadi bahan pembicaraan di lingkungan kampus.
Penutup
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak kampus maupun terlapor. Informasi yang beredar menyebutkan, sebelum tragedi terjadi, Maria sempat melaporkan dugaan pelecehan tersebut kepada dosen pembimbing akademiknya. Namun laporan itu diduga tidak memperoleh respons yang memadai.
Berita di atas tidak bertujuan menginspirasi siapapun melakukan tindakan serupa. Bunuh diri bisa terjadi di saat seseorang mengalami depresi dan tak ada orang yang membantu. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada. Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, Anda bisa simak website Into the Light Indonesia di bawah ini:
https://www.intothelightid.org/tentang-bunuh-diri/hotline-dan-konseling/
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar