
Peringatan Dari BMKG: Ancaman Bibit Siklon Tropis 91S dan 93S
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan terkait adanya dua bibit siklon tropis, yaitu 91S dan 93S. Peringatan ini menunjukkan bahwa Indonesia masih rentan terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin tidak normal. Meskipun belum mencapai fase siklon penuh, kedua bibit siklon ini membawa ancaman serius yang perlu diwaspadai.
Bibit siklon adalah cikal bakal dari siklon tropis. Mereka memiliki kemampuan untuk menjadi pusat konvergensi angin dan uap air yang sangat kuat. Hal ini menciptakan pompa masif yang menarik massa udara lembab dari Samudra Hindia dan menyalurkannya ke daratan Indonesia. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa pemantauan intensif dilakukan terhadap dua sistem tekanan rendah tersebut. Sistem 91S berada di Samudra Hindia barat Lampung, sedangkan 93S berada di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat (NTB). Keduanya memerlukan pengawasan 24 jam non-stop.
Sains Di Balik Pembentukan Bibit Siklon
Menurut analisis BMKG, pembentukan dan intensifikasi kedua bibit siklon ini didukung oleh tiga faktor utama dalam dinamika atmosfer:
- Suhu Permukaan Laut (SPL) Hangat: SPL di sekitar lokasi pembentukan bibit siklon berada di atas ambang batas, sekitar 2930 derajat Celcius. Hal ini menyediakan suplai energi panas yang besar bagi sistem tersebut.
- Aktivitas MJO: Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang aktif di wilayah Indonesia juga memperkuat kondisi atmosfer, mendukung pembentukan awan konvektif dan tekanan rendah.
- Peluang Rendah Jadi Siklon Penuh: Meski demikian, peluang kedua bibit ini untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-72 jam ke depan masih dikategorikan rendah.
"Secara tidak langsung, sistem dari bibit siklon 91S dan 93S dapat memicu cuaca ekstrem 1-2 hari ke depan," kata Faisal.
Ancaman Hujan dan Gelombang Meski Bukan Siklon Penuh
Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa bahaya utama bibit siklon bukan hanya terletak pada kekuatannya menjadi siklon penuh, melainkan pada dampak tidak langsungnya berupa bencana hidrometeorologi.
"Bahaya utama yang kami soroti adalah dampak tidak langsungnya, yaitu peningkatan curah hujan ekstrem dan gelombang tinggi. Bibit siklon secara efektif menarik massa uap air, memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah yang dipengaruhinya," jelas Guswanto.
Rincian dampak yang harus diwaspadai:
- Peningkatan Curah Hujan: Bibit siklon secara efektif menarik massa uap air, memicu peningkatan curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah yang dipengaruhinya.
- Dampak 91S: Fokus dampaknya adalah di wilayah Sumatera bagian selatan seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.
- Dampak 93S: Fokus dampaknya adalah di wilayah selatan, terutama Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
- Peningkatan Gelombang: Kecepatan angin di sekitar sistem meningkatkan tinggi gelombang, terutama di Samudra Hindia barat Mentawai hingga Lampung dan Selat Sunda bagian selatan, yang dapat mencapai kategori Rough Sea (2,5 hingga 4,0 meter).
"Kami mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk sangat mewaspadai gelombang yang mencapai 2,5 hingga 4,0 meter. Ini adalah kategori Rough Sea yang sangat berbahaya bagi pelayaran dan aktivitas perikanan," tambah Guswanto.
BMKG memastikan akan terus memantau pergerakan kedua bibit siklon ini secara intensif 24 jam non-stop dan akan mengeluarkan pembaruan informasi secara berkala.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar