Mbak Tutut Bocorkan Detik-Detik Akhir Ibu Tien Meninggal


Mbak Tutut mengungkapkan momen-momen terakhir sebelum Ibu Tien Soeharto meninggal dunia akibat serangan jantung.

Pada tanggal 28 April 1996, separuh nyawa Presiden Soeharto, yaitu Ibu Tien Soeharto, pergi untuk selamanya. Penyebab kematian beliau adalah serangan jantung yang tiba-tiba.

Siti Hardijanti Rukmana, atau lebih dikenal dengan panggilan Mbak Tutut, putri sulung dari Presiden Soeharto, menceritakan bagaimana Ibu Tien meninggal dunia. Dalam tulisannya di situs pribadinya, tututsoeharto.id, pada 29 April 2020, Mbak Tutut membagikan kenangan mendalam tentang kepergian ibundanya.

Ibu Tien wafat pada dini hari, tepatnya pada 28 April 1996. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman keluarga Astana Giribangun, Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Beberapa tahun setelahnya, Mbak Tutut mengungkap kembali pengalamannya saat itu.

Menurut Mbak Tutut, saat ia sedang bertugas memimpin sidang organisasi donor darah dunia di Prancis dan kemudian di London, ia mendengar kabar bahwa Ibu Tien telah tiada. Pada saat itu, ia menjabat sebagai Presiden Donor Darah Dunia. Kebetulan, ia baru saja berangkat, dan Ibu Tien masih dalam kondisi sehat.

Ketika mendengar kabar tersebut, Mbak Tutut langsung pulang ke Jakarta. Perjalanan yang biasanya singkat menjadi sangat panjang karena harus transit di Singapura. Suami Mbak Tutut menjemputnya di sana, lalu langsung menuju Solo.

Di sana, jenazah Ibu Tien sudah siap. Setelah bertemu dengan ayahnya, mereka langsung menuju makam di Giribangun. Mbak Tutut menemani ayahnya dalam satu mobil. Selama perjalanan, ayahnya bercerita tentang kejadian sebelum Ibu Tien meninggal.

"Seperti yang saya dengar, pagi itu Ibu mengeluh susah bernapas," kata ayah Mbak Tutut.

Ibu Tien berkata, "Tidak ada yang sakit, hanya susah nafas."

Ayahnya bertanya lagi, "Apakah dadanya sakit?"

Ibu Tien menjawab, "Tidak ada."

Ayahnya kemudian meletakkan bantal yang agak tinggi agar Ibu Tien bisa bernapas lebih mudah. Lalu, ia memanggil ajudan untuk segera menyiapkan ambulans.

Mbak Tutut bertanya kepada ayahnya, "Jadi Ibu tidak mengeluh sakit sama sekali, Pak?"

Ayahnya menjawab, "Tidak, Ibu hanya mengatakan susah nafas."

Waktu kejadian itu, menurut ayahnya, sekitar jam 3 pagi. Artinya, setelah ayahnya melaksanakan sholat tahajud.

Setelah itu, Ibu Tien tidak sadarkan diri. Saat dibawa ke rumah sakit, semua dokter berusaha membantu, tetapi Allah berkehendak lain.

Mbak Tutut mengungkapkan rasa sedihnya ketika mendengar isu yang menyebut bahwa Ibu Tien meninggal karena ditembak oleh adik-adiknya.

Ia merasa heran dengan orang-orang yang menyebarkan berita tersebut. Menurut Mbak Tutut, apa yang dikatakan ayahnya adalah kebenaran.

Ia juga mengatakan bahwa ia ingin masyarakat tahu kebenarannya. Dengan adanya media sosial, ia dapat menyampaikan informasi ini.

Siapa pun yang membuat dan menyebarkan berita palsu itu, Mbak Tutut menyerahkan kepada Allah untuk menilainya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabatnya atas doa-doa yang selalu dilantunkan untuk Ibu dan Bapaknya.

Ia juga memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa Ibu Tien, memaafkan kesalahannya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di surga-Nya yang terindah.

Ibu... tenanglah di atas sana... Doa kami selalu menyertaimu. We love you always, Ibu.

Jakarta, 29 April 2020
Hj Siti Hardiyanti Rukmana

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan