Melawan Stigma, Suara Baru Pecinta Sepak Bola di Cirebon


Oleh: Ananda Riffan Fachrizki & Widi Ardiansyah

Di tengah kota Cirebon, Jawa Barat, sebuah fenomena unik sedang berkembang. Suporter sepak bola yang biasanya dikenal dengan sikap fanatik dan sering kali mengakibatkan kerusuhan, kini menunjukkan sisi lain dari diri mereka. Mereka memilih untuk merayakan identitas mereka melalui musik, bukan kekerasan. Kelompok suporter yang tergabung dalam komunitas Sunday Service menciptakan ritual yang berbeda, yaitu After Match Party.

Ritual "After Match Party"

Setelah pertandingan Persib Bandung, ratusan pemuda berkumpul di area acara pasca-pertandingan. Tidak ada atribut benda tumpul atau ketegangan yang terlihat. Yang terdengar adalah koor massal lagu Don't Look Back in Anger milik band legendaris Inggris, Oasis, yang menggema di ruangan.

Diki Darmawan, perwakilan dari Sunday Service, menjelaskan bahwa kegiatan ini dinamakan After Match Party. Tujuannya adalah untuk meredam tensi tinggi setelah pertandingan. Awalnya, kegiatan ini hanya dimaksudkan sebagai hiburan, agar suporter bisa lebih bersatu dan menjaga kebersamaan antara sesama penggemar.

Genre Britpop dipilih karena memiliki sejarah yang kuat dengan kultur sepak bola di Inggris. Misalnya, Oasis identik dengan Manchester City, sedangkan Blur identik dengan Chelsea. Hal ini membuat musik menjadi jembatan antara budaya sepak bola dan identitas suporter.

Musik sebagai Perekat Sosial

Fenomena berkumpulnya suporter untuk bernyanyi bersama ini bukan sekadar pesta pora tanpa makna. Ryan, seorang pengamat budaya populer, menganalisis aktivitas ini menggunakan pendekatan sosiologi. Menurutnya, kegiatan Sunday Service adalah bentuk mekanisme sosial yang disebut Communitas.

Musik bekerja pada level simbol yang mampu menyatukan emosi kolektif. Saat banyak orang menyanyikan lagu yang sama, otak mereka melepaskan hormon yang membuat rasa kebersamaan meningkat. Batas antara individu dan kelompok melebur jadi satu.

Ryan juga menginterpretasikan ritual ini sebagai katup pelepasan (safety valve). Energi fanatisme yang biasanya meluap menjadi amarah saat tim kalah, atau euforia berlebih saat menang, disalurkan menjadi aktivitas menyanyi bersama. Hal ini mencegah potensi gesekan fisik di jalanan yang kerap dikeluhkan masyarakat.

Transformasi Gaya Hidup dan Ekonomi

Selain aspek sosial, pergeseran budaya suporter di Cirebon ini juga menyentuh sektor ekonomi kreatif. Ryan menyoroti bahwa fanatisme kini telah melebur dengan gaya hidup (lifestyle). Suporter tidak hanya loyal pada klub, tetapi juga pada identitas fashion yang mereka kenakan.

"Dunia lifestyle dan sepak bola tidak bisa dipungkiri melebur jadi satu. Sepak bola jalan, lifestyle juga jalan," ujar Ryan. Hal ini terlihat dari banyaknya suporter yang mengenakan jenama (brand) lokal, yang secara tidak langsung menggerakkan roda ekonomi UMKM di daerah.

Dokumentasi Visual

Rekaman utuh mengenai atmosfer After Match Party dan wawancara mendalam dengan para narasumber dapat disaksikan melalui video dokumenter berikut:


Dokumenter

Dalam video tersebut, tergambar bagaimana musik menjadi medium yang efektif untuk mengubah ketegangan pasca-laga menjadi harmoni sosial.

Menutup Ruang Kekerasan

Kehadiran wadah positif seperti Sunday Service menjadi angin segar. Selama bertahun-tahun, energi berlebih suporter seringkali tumpah ke jalanan dalam bentuk negatif.

"Sangat disayangkan kalau masih ada hal-hal negatif. Sekarang sudah banyak wadah positif, mau itu musik atau bahkan boxing event," tutup perwakilan Sunday Service dengan nada optimis.

Pada akhirnya, sepak bola adalah tentang merayakan kehidupan. Dan seperti lirik lagu Britpop yang terus diputar sang DJ, fanatisme seharusnya membuat kita Live Forever dalam kegembiraan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan