Melihat 'Dapur' Pengolahan Sampah, Taman Safari Indonesia Wujudkan Wisata Berkelanjutan


aiotrade, JAKARTA - Lokasi wisata berkelanjutan yang ramah lingkungan tengah menjadi tren dan diincar banyak pelancong dari seluruh dunia. Di Indonesia, salah satu yang sedang gencar mewujudkan pariwisata berkelanjutan adalah Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Sebagai lembaga konservasi terbesar di Asia, Taman Safari Indonesia juga berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan membangun Integrated Waste Management (IWM), berupa fasilitas pengolahan sampah, yang tak hanya sekadar memilah dan mengolah sampah, juga menjadi sumber perputaran ekonomi di kawasan sekitar TSI.

Fasilitas Pengolahan Sampah yang Menjadi Inspirasi

Arky Gilang Wahab, Direktur Utama Greenprosa, member of Taman Safari Indonesia Group menerangkan bahwa IWM yang didirikan sejak 2022 dan mulai beroperasi pada 2023 mengolah sampah dari restoran, food court, hotel, dan tempat sampah dari seluruh Taman Safari Bogor. Kehadiran fasilitas ini bahkan menginspirasi warga sekitar juga untuk turut memilah dan mengumpulkan sampah, setidaknya berdasarkan kategorinya, organik dan anorganik.

"Saat ini kapasitas IWM bisa mengolah sampai 50 ton sampah per hari. Bahkan kalau sedang high-season bisa lebih besar lagi. Untuk sampah yang parkir, baru datang akan dipilah secara manual misalnya untuk sisa makanan, botol, dan gelas, mana yang bisa didaur ulang dan tidak. Baru kemudian dipisahkan lagi pakai mesin yang organik dan anorganik," jelasnya di Bogor, Senin (10/11/2025).

Perputaran Ekonomi dari Sampah

Setelah sampah dipilah, selanjutnya IWM Taman Safari mengolah sampah hingga menghasilkan produk akhir. Di sinilah perputaran ekonomi dimulai. Sampah organik dari sisa makanan akan diumpankan ke jutaan maggot, belatung dari lalat Black Soldier (Black Soldier Fly/BSF), yang membuat proses kompos sampah menjadi 20 kali lebih cepat. Proses ini kemudian menghasilkan pupuk berkualitas tinggi yang bisa dijual dan bermanfaat bagi pertanian.

"Pupuk organik ini mikroorganismenya banyak sekali, banyak enzim-enzim juga. Selain dipakai sendiri, juga dibeli oleh petani-petani di wilayah puncak sini yang menghasilkan rumput dan mereka juga bisa menjual hasil taninya ke Taman Safari lagi," tambahnya.

Kemudian, larva yang sudah tidak "bertugas", akan dicuci bersih dan dipanaskan hingga kering. Larva yang kering kemudian bisa dikemas dalam bentuk utuh untuk pakan buruh, atau digiling menjadi bubuk maggot yang kaya akan protein dan minyak maggot yang banyak digunakan dalam produk kosmetik.

Selain sampah, IWM juga mengolah kotoran hewan dengan perlakuan berbeda, dan menghasilkan kertas dari kotoran hewan atau disebut "Poo Paper" yang juga dijual di Taman Safari.

Tantangan Pengelolaan Sampah

Sebagai tempat wisata dengan ribuan pengunjung yang berbeda setiap harinya, komunikasi untuk pemilahan sampah kepada para pengunjung masih menjadi tantangan. "Namanya tempat pariwisata itu kan tidak mungkin tidak ada sampah. Banyak tempat wisata global itu kesulitan untuk mengelola sampah karena setiap turis baru itu bisa membawa 1 - 1,5 kg sampah per hari. Jadi kami berkomitmen untuk bisa lebih baik untuk mengedukasi dan mengomunikasikan kepada pengunjung tentang apa saja yang sudah kami lakukan di Taman Safari Indonesia," imbuh Aswin.

Pengembangan IWM di Berbagai Lokasi

Dalam pengembangannya, Aswin Sumampau, Direktur Utama Taman Safari Indonesia Group menyebutkan bahwa Taman Safari menggelontorkan biaya investasi sekitar Rp15 miliar - Rp20 miliar. Namun, hingga kini IWM baru bisa dibangun di Bogor, lantaran pembangunan fasilitas pengolahan sampah menghadapi berbagai tantangan di lokasi lain, seperti Taman Safari Prigen di Jawa Timur dan Taman Safari Bali.

"Di lokasi lain, waste management ini kita sedang berbicara dengan beberapa pemerintah lokal ya. Di Taman Safari Bogor, mudah untuk kami berinvestasi karena sampahnya dan limbahnya cukup, serta bisa ambil dari lingkungan sekitar juga. Sementara, di Taman Safari kami yang lain belum mencapai angka yang cukup. Oleh karena itu, mungkin kami harus mengambil sampah dari daerah sekitar Taman Safari dan itu membutuhkan zonasi perizinan yang lebih sulit ya. Kami sedang melihat apabila ada potensi membangun di Prigen dan Bali. Pastinya kami berharap, untuk bisa memperluas Integrated Waste Management ini ke park-park kami yang lain," ujar Aswin.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan