Melintasi Lumpur untuk Menemukan Dua Desa Hilang di Aceh Timur

Dua Desa di Aceh Timur Akhirnya Dapat Diakses Melalui Jalur Darat

ACEH TAMIANG, berita Setelah sekian lama terisolasi akibat banjir yang menghancurkan akses jalan, dua desa yang sebelumnya hilang tersapu air, yakni Desa Sahraja dan Desa Sijudo di Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, akhirnya dapat ditembus melalui jalur darat pada Jumat (12/12/2025).

Kedua desa tersebut mengalami kerusakan parah setelah banjir besar yang terjadi pada 26 November 2025. Banjir dengan ketinggian mencapai lebih dari 8 meter menyebabkan seluruh kawasan tenggelam, termasuk bangunan-bangunan penting seperti masjid dan rumah warga. Sebagian besar penduduk harus mengungsi ke tempat-tempat aman seperti SMP 4 Pante Bidari dan perbukitan.

Akses menuju kedua desa tersebut sangat sulit. Hanya kendaraan jenis trail yang mampu melewati jalur berlumpur tebal yang menutupi badan jalan menuju kawasan pedalaman yang berbatasan dengan pegunungan Bener Meriah. Perjalanan ini tidak hanya membutuhkan ketangguhan tetapi juga kesiapan penuh untuk menghadapi kondisi yang tidak menentu.

Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, menjelaskan bahwa perjalanan menuju Sijudo dan Sahraja sangat menantang. Area yang berlumpur dan bekas banjir belasan meter membuat perjalanan semakin sulit dan harus berhati-hati, ujarnya melalui sambungan telepon.

Ia turut membawa bantuan logistik, layanan kesehatan gratis, serta jaringan internet Starlink untuk warga di kamp pengungsian. Bantuan ini bertujuan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi meski dalam situasi yang sangat sulit.

Kondisi Wilayah Terdampak

Dari penuturan warga, banjir di dua desa tersebut mencapai ketinggian lebih dari 8 meter. Seluruh kawasan tenggelam, termasuk rumah ibadah seperti masjid. Warga yang terdampak banjir mengungsi ke beberapa titik, antara lain SMP 4 Pante Bidari dan perbukitan. Mereka membutuhkan tenda, kelambu, dan bahan logistik. Nanti akan disusul kebutuhan-kebutuhan lain yang akan segera diantarkan.

Bupati Al-Farlaky menegaskan bahwa desa yang hilang akibat banjir di Aceh Timur adalah Sahraja dan Sijudo. Pemerintah daerah terus berupaya mengirimkan suplai bahan pangan ke wilayah terdampak. Meski sulit, saya tidak mau mendengar ada cerita mati kelaparan, tegasnya.

Dampak Banjir di Aceh

Sebelumnya diberitakan, banjir dan longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025 berdampak pada 18 kabupaten/kota. Hingga kini, ratusan korban jiwa dilaporkan meninggal dunia akibat bencana tersebut. Bencana ini memberikan dampak yang sangat luas, baik secara fisik maupun sosial, bagi masyarakat Aceh.

Pemerintah dan berbagai lembaga terus berkoordinasi untuk mempercepat proses pemulihan dan bantuan kepada para korban. Upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan normal dan merasa aman di lingkungan mereka sendiri.

Langkah-Langkah Penanggulangan Bencana

Beberapa langkah telah diambil untuk menangani dampak banjir di Aceh. Di antaranya adalah:

  • Pengiriman bantuan logistik seperti makanan, air bersih, dan perlengkapan kebutuhan pokok.
  • Pemulihan infrastruktur, termasuk jalan dan jembatan yang rusak akibat banjir.
  • Pemantauan kondisi cuaca dan penggunaan teknologi untuk memprediksi potensi bencana.
  • Pelibatan masyarakat dalam proses pemulihan dan pencegahan bencana di masa depan.

Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah, diharapkan Aceh dapat segera pulih dari dampak bencana dan membangun kembali kehidupan yang lebih baik.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan