Memang aneh, ya, pria bawa tas?

NONGKRONG bawa tas, kenapa tidak? Apalagi bepergian, tas menjadi wadah praktis untuk menaruh, menyimpan, dan membawa beragam barang.

Sebagian mungkin akan berpendapat, hanya kaum wanita yang membawa tas. Namun, bukan berarti pria tidak boleh memakainya. Boleh.

Saya biasa membawa tas. Bagi saya, bukan satu hal aneh ketika pria membawa tas. Entah menurut pandangan orang lain.

Tengok sejenak toko! Mereka menawarkan beragam model tas untuk pria. 

Menyontek ringkasan AI Google, jenis-jenis tas pria:

Tas ransel. Biasa digendong, wadah ini cukup besar untuk membawa laptop berikut pengisi dayanya, dokumen, charger telepon genggam (hape mungkin bisa dikantongi), dan lainnya.Tas selempang. Biasa disilangkan di dada untuk menaruh barang kecil yang wajib dibawa (hape, dompet, kartu uang elektronik).Tas pos. Modelnya memanjang, bisa untuk menyimpan laptop atau dokumen.Tas jinjing (tote bag). Biasanya digunakan untuk tujuan praktis.Tas kerja atau kadang disebut tas laptop. Biasa digunakan di kantor atau lingkungan resmi.Tas pinggang. Tas kecil yang diikatkan di pinggang untuk membawa barang kecil (hape, obeng, dompet).Tas olahraga. Bentuk silinder, biasa untuk menyimpan perlengkapan olahraga (semisal untuk fitness).Tas dokumen. Bentuk kotak untuk menyimpan berkas agar tidak terlipat.

Bahan pembentuk tas beragam: kanvas, kain, kulit asli dan tiruan, nilon.

Rasanya, saya pernah memakai semua jenis tas di atas. Apalagi waktu masih aktif ngantor. Perlu tas yang terlihat profesional (tas kerja, tas dokumen).

Ketika menjadi pemborong --kontraktor skala pecahan beling-- saya biasa memakai tas pinggang dan ransel.

Tas pinggang untuk menyimpan dompet, hape, recehan, bolpoin, meteren kecil. Tas punggung berisi laptop, pengisi daya, buku kwitansi, spidol, amplop, stapler, dokumen-dokumen, gambar kerja proyek, bon-bon, tumbler.

Terkadang, di dalam tas ransel bahan kanvas itu menyelip gepokan uang untuk berbagai keperluan di proyek. Bukankah sogokan lebih umum dibayar tunai, daripada ditransfer atau ditulis pada cek?

Tanpa tas-tas itu, saku celana dan kemeja akan tersedak kekenyangan. Malah, bisa muntah. Ketiak bakal kepayahan menjepit laptop dan dokumen. Tangan bakal kelabakan memegang segala printilan.

Satu dua tas dapat meringkas semua kerepotan.

Tas pinggang dan ransel pun mengikuti ketika nongkrong bersama teman, di warung kopi atau tempat makan dekat kantor Pemda. Dalam suasana serius maupun santai.

Ransel merupakan kantor. Sewaktu-waktu perlu membuka dokumen atau laptop untuk membahas satu pekerjaan. Kalau sedang santai, ransel ditaruh di bawah meja dekat kaki.

Disimpan di bagasi sepeda motor atau di dalam mobil? Sangat berisiko!

Teman saya kehilangan laptop dan uang Rp500 juta. Seseorang memecahkan kaca mobilnya di halaman parkir kafe. Rupanya, penjahat itu mengikuti sejak teman saya mengambil uang di Bank.

Tas benar-benar disimpan di rumah ketika saya hendak menghadiri, misalnya, undangan pernikahan. Itu merupakan saat-saat melupakan pekerjaan.

Setelah tidak aktif, saya masih membawa tas ransel. Ukurannya lebih kecil dibanding yang dulu.

Bukan laptop dan perlengkapan "tempur" proyek yang mengisi tas. Di dalamnya ada dompet isi uang dan kartu-kartu, hape (kadang berikut pengisi dayanya), kacamata baca, payung lipat, masker bersih, tumbler, kantong lipat, kantong kresek (untuk pembungkus dan sampah).

Tas punggung (juga bisa diubah menjadi tas selempang) ini meringkas bawaan. Tak perlu mengingat-ingat barang untuk ditaruh di saku celana dan kemeja, ketika hendak keluar rumah. Meminimalkan risiko ketinggalan barang.

Kalaupun ada bawaan agak lebih banyak dari biasanya, saya memasukkannya ke dalam tas jinjing.

Dari dulu saya membawa tas untuk pergi ngopi bareng teman-teman atau jalan-jalan. Bahkan, sekarang membawa tas kecil bentuk ransel/selempang itu ketika menghadiri hajatan.

Maka, saya tidak akan pernah merasa kikuk saat jalan-jalan atau nongkrong bawa tas. Bagi saya, pria membawa tas tidak terlihat aneh: tetap macho!

Namun, kebiasaan itu tidak berlaku bagi sebagian pria. Mereka biasa lenggang kangkung, mungkin lantaran punya ajudan pembawa tas.  Atau ada alasan lainnya, ya?

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan