Membaca Kembali Tulisan Lama dan Pelajaran Berharga

Masa Lalu dan Era Multiply

Dalam sebuah sesi obrolan santai di sela-sela kopi darat sesama blogger baru-baru ini, sebuah pertanyaan standar terlontar kepada saya. "Sudah berapa lama, Bang, mulai aktif ngeblog?" tanya seorang kawan. Dengan santai saya menjawab, "Saya sudah mulai sejak zaman Multiply lagi jaya-jayanya".

Seketika, suasana meja yang tadinya bising jadi sedikit hening. Saya melihat ekspresi yang beragam. Kawan-kawan yang usianya jauh lebih muda menatap saya seolah sedang melihat fosil hidup dari era prasejarah internet. Sementara mereka yang lebih tua, yang juga pernah mencicipi era itu, justru menunjukkan ekspresi yang lebih kocak: alis terangkat, mata membelalak, seolah tidak percaya saya masih "bertahan" hingga hari ini.

"Wah, berarti sudah sepuh banget dong?" atau "Gila, angkatan veteran itu!" menjadi reaksi yang lumrah saya terima. Namun, saya hanya tersenyum menanggapi label "tua" atau "veteran" tersebut. Saya belum setua itu kok. Mungkin saya hanya memulainya lebih awal.

Saya jadi teringat sebuah kalimat bijak dari aktor legendaris Slamet Rahardjo. Beliau pernah berkata bahwa dalam dunia seni, tidak ada istilah tua atau muda. Yang ada hanyalah proses kreatif yang terus bergulir. Pesan ini sangat relevan jika kita tarik ke dunia tulis-menulis. Tidak peduli kapan kita mulai menorehkan kata-kata pertama, yang terpenting adalah kemauan untuk senantiasa belajar dan melakukan upgrade diri.

Usia yang banyak bukan jaminan seseorang menjadi "paling senior" jika ia baru saja terjun menulis. Dan yang muda pun tidak perlu merasa "si paling hebat" meski pengalamannya sudah melimpah. Karena.... menulis adalah perjalanan panjang menundukkan ego, bukan balapan lari.

Kehilangan "harta karun" yang tak ternilai

Bicara soal masa lalu dan era Multiply, ada satu penyesalan besar yang hingga kini masih sering menyisakan sesak di dada. Sekitar tahun 2013, dunia digital kita dikejutkan dengan kabar tutupnya Multiply. Bagi banyak orang, itu mungkin hanya penutupan sebuah platform. Tapi bagi saya, itu adalah penguburan massal bagi "harta karun" intelektual saya.

Saat kabar penutupan itu berhembus, saya sedang berada di titik tersibuk dalam hidup saya sebagai seorang bankir. Rutinitas perbankan yang kaku dan menyita waktu membuat saya abai untuk melakukan backup data. Saya pikir, "Ah, nanti saja". Namun, kesibukan dunia korporat ternyata sanggup membuat saya lupa pada dunia kreatif yang telah membersamai saya sejauh itu.

Tahu-tahu, Multiply benar-benar hilang dari peradaban internet, membawa serta ratusan tulisan, curhatan, dan dokumentasi foto yang saya susun bertahun-tahun. Semuanya lenyap. Tidak ada satu pun tulisan yang sempat saya selamatkan. Hingga suatu hari, saya curhat di sebuah grup komunitas blogger. Seseorang menyarankan saya untuk mencoba peruntungan di Wayback Machine (Internet Archive).

Dengan perasaan antara yakin dan tidak, saya mencoba memasukkan alamat blog lama saya. Hasilnya? Untung-untungan. Seperti menyusuri puing-puing bangunan setelah gempa, banyak halaman yang hilang total, gambar-gambar yang rusak, namun ada beberapa tulisan yang secara ajaib berhasil muncul kembali ke permukaan.

Membaca kembali tulisan lama

Bagi saya, membaca kembali tulisan-tulisan lama itu adalah pengalaman yang sangat emosional. Ada momen di mana saya harus menutup muka dengan telapak tangan sambil bergumam, "Duh, ternyata saya dulu alay banget ya?" Ditambah diksi yang acak-acakan, penggunaan tanda baca yang sembarangan, hingga gaya bahasa yang mungkin terlalu mendayu-dayu.

Namun, setelah tawa kecil itu mereda, saya sadar bahwa itulah proses. Di setiap tulisan yang tayang pada masa itu, saya sedang meniti tangga pembelajaran. Dari komentar-komentar yang masuk, baik yang memuji maupun yang pedas, dan dari saran kritis sesama blogger di kolom komentar, saya belajar bagaimana menyusun gagasan yang lebih baik.

Tanpa "ke-alay-an" di masa lalu, tidak akan ada kematangan dalam tulisan saya hari ini. Menulis bukan tentang langsung menjadi sempurna, tapi tentang keberanian untuk terlihat "bodoh" demi menjadi lebih bijak di kemudian hari.

Dari sekian tulisan lama yang berhasil dipulihkan, ada satu tulisan yang membuat saya terdiam cukup lama dan tersenyum sendirian. Sebuah artikel pendek tentang Festival Film Bandung (FFB) 2008 yang saya tulis pada April 2008. Saat itu, FFB belum semegah sekarang. Namanya belum menasional secara luas, dan tidak banyak media besar yang memberikan sorotan khusus.

Tapi, sebagai seseorang yang memiliki dorongan kuat dan cinta yang besar terhadap dunia film, saya menuliskan apa yang bisa saya analisis dari hasil FFB tersebut. Tulisan itu murni lahir dari kecintaan seorang penonton biasa yang ingin merayakan sebuah apresiasi seni. Siapa yang menyangka? Tulisan yang saya anggap sederhana dan mungkin sedikit "alay" itu ternyata adalah manifestasi dari lubuk hati yang terdalam.

Enam tahun setelah tulisan itu tayang, takdir membawa saya pada posisi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya: saya resmi menjadi pengamat (juri) Festival Film Bandung. Dan kini, tanpa terasa, perjalanan itu telah memasuki tahun ke-12.

Mengapa kita perlu membaca tulisan lama?

Membaca ulang jejak digital bukan sekadar kegiatan bernostalgia yang melankolis. Ada manfaat luar biasa yang bisa kita petik sebagai seorang penulis. Beberapa manfaat yang saya rasakan dari membaca tulisan lama adalah sebagai berikut:

  • Menakar sejauh mana kita tumbuh. Tulisan adalah jejak pemikiran. Dengan membaca tulisan 10 atau 15 tahun lalu, kita bisa melihat evolusi sudut pandang kita. Jika kita merasa tulisan lama kita buruk, itu sebenarnya kabar baik. Artinya, standar kualitas kita sudah meningkat.
  • Menemukan kembali identitas yang hilang. Terkadang, kesibukan masa kini membuat kita kehilangan percikan semangat yang dulu kita miliki. Membaca tulisan lama sering kali mengingatkan kita kembali pada alasan awal mengapa kita mulai menulis.
  • Terapi emosional. Melihat bagaimana kita menghadapi masalah di masa lalu lewat tulisan bisa menjadi bentuk terapi. Kita jadi tersadar bahwa masalah yang dulu kita anggap berat, ternyata berhasil kita lalui. Ini memberikan kekuatan tambahan untuk menghadapi tantangan di masa kini dan masa depan.
  • Menemukan pola pikir dan passion tersembunyi. Seperti kasus saya dengan FFB, tulisan lama sering kali menunjukkan apa yang sebenarnya menjadi minat terdalam kita secara konsisten. Dan itu bisa membantu kita mengenal lebih dalam siapa diri kita sesungguhnya.

Pada akhirnya, tulisan adalah jembatan waktu. Ia menghubungkan diri kita yang belum tahu apa-apa dengan diri kita yang hari ini sedang terus mencoba untuk tahu. Kehilangan data Multiply mengajarkan saya bahwa jejak digital itu mungkin fana, namun makna di baliknya abadi.

Mungkin di antara kita ada yang baru mulai menulis, jangan pernah malu dengan tulisan kita saat ini. Jangan takut dibilang alay atau amatir. Menulislah sesering mungkin, karena bertahun-tahun dari sekarang, tulisan-tulisan itulah yang akan menjadi guru terbaik kita. Ia akan menunjukkan kepada kita bahwa kita pernah berjuang, pernah gagal, dan yang terpenting: kita pernah berproses.

Sebab, tidak ada tua atau muda dalam karya. Yang ada hanyalah kejujuran untuk terus bercerita.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan