Mempertahankan Budaya Sumba Melalui Tenun Alami

Warisan Budaya yang Menjadi Bagian dari Tren Eco-Fashion

Pewarna alam dalam tenun Sumba merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Proses pembuatannya menggunakan benang kapas dengan bahan pewarna alami, menghasilkan kain yang memiliki keindahan yang sulit diungguli oleh kain dengan pewarna sintetis. Kain ini tidak hanya menawarkan estetika yang luar biasa, tetapi juga menjadi bagian dari tren eco-fashion yang semakin diminati.

Meski begitu, proses pembuatan tenun dengan pewarna alam bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk melakukan berbagai tahapan, mulai dari pengumpulan bahan, ekstraksi, hingga pencelupan. Setiap langkah memerlukan keahlian khusus yang semakin langka seiring berkembangnya teknologi dan perubahan zaman.

Seiring waktu, praktik pewarnaan alami sempat ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya regenerasi penenun yang mampu mempertahankan keahlian tersebut. Namun, upaya untuk melestarikan tradisi ini terus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk lembaga seperti Bakti BCA.

Program Pembinaan untuk Melestarikan Tenun Sumba

Bakti BCA melalui program pembinaan wastra warna alam berupaya menjaga keberlanjutan tradisi tenun Sumba. Salah satu inisiatifnya adalah pelatihan kepada kelompok penenun Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 50 penenun dari empat kelompok, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu, terlibat dalam kegiatan ini.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menyatakan bahwa para penenun Sumba Timur adalah garda terdepan dalam menjaga warisan budaya Nusantara. "Salah satu tantangan yang mereka hadapi adalah penguasaan teknik pewarnaan alami di tengah berkembangnya industri eco-fashion," katanya.

Melalui kerja sama dengan WARLAMI, BCA ingin memastikan bahwa keahlian penenun tidak hanya terjaga, tetapi juga bisa bersaing di pasar modern. Dengan demikian, tenun Sumba dapat tetap relevan dalam dunia fashion kontemporer.

Motif-Motif Khas Sumba yang Penuh Makna Filosofis

Koleksi wastra Sumba Timur menghadirkan berbagai motif yang sarat makna filosofis dan telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Motif-motif ini kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk syair oleh penulis asal Sumba, Diana Timoria. Ia menciptakan dua karya, yaitu “Menenun Rasa, Mengikat Masa” dan “Menenun Ingatan Tentang Tanah Marapu”.

Syair-syair ini lahir dari visual dan simbol yang sudah lama hidup dalam tradisi tenun Sumba Timur. Selain itu, syair ini juga merekam hubungan masyarakat dengan alam dan kepercayaan Marapu, yang menjadi dasar dari kehidupan masyarakat Sumba.

Keragaman Motif Tenun Sumba

Dari data yang dikumpulkan pada 2022, diketahui bahwa kain tenun Sumba memiliki jumlah motif terbanyak dibandingkan daerah lain di Indonesia. Total motif yang masih diproduksi mencapai 85 jenis. Ini menunjukkan betapa kaya dan beragamnya tradisi tenun Sumba.

Selain meningkatkan nilai estetika dan budaya, penggunaan warna alam juga memperkuat posisi wastra Sumba Timur di pasar eco-fashion. Produk tenun ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan potensi untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Hal ini memberikan sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi para penenun dan keluarga mereka.

Keterlibatan Duta Bakti BCA dalam Diskusi dan Praktik Bersama

Dalam rangkaian kegiatan ini, Duta Bakti BCA Nicholas Saputra terlibat dalam diskusi bersama para penenun. Kegiatan ini menjadi wadah dialog dan pertukaran pengetahuan antara para penenun dan pihak Bakti BCA. Selain itu, dilakukan praktik bersama dalam pengolahan pewarnaan dari bahan alami, serta kunjungan ke kebun aneka tanaman bahan warna alam yang dikembangkan oleh kelompok penenun.

Nicholas menyampaikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, tenun tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah nyata bagi kehidupan para penenun.

Inisiatif Bakti Budaya BCA

Program Pembinaan Wastra Warna Alam merupakan salah satu inisiatif Bakti BCA di pilar Bakti Budaya yang telah berjalan sejak 2022. Tujuan utamanya adalah melestarikan tradisi tenun Indonesia sekaligus meningkatkan kapasitas para perajin lokal.

Selain Sumba Timur, program ini juga telah dijalankan di beberapa wilayah lain di Indonesia, seperti Timor Tengah Selatan dan Baduy, Banten. Dengan demikian, Bakti BCA berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan dan kekayaan budaya Indonesia melalui inisiatif-inisiatif yang berkelanjutan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan