Mempertahankan Rasa Campor Lorjuk Madura Dibawa Chef Terkenal hingga Bule Perancis

Warung Campor Lorjuk Bu Hamid, Warisan Rasa yang Menggugah Selera

Di tengah semakin banyaknya pilihan makanan modern, campor lorjuk tetap menjadi pengingat bahwa rasa autentik sering kali lahir dari tangan-tangan yang menjaga tradisi. Di kampung Kosabe, Sawahan, Desa Pademawu Timur, Kabupaten Pamekasan, tidak hanya dikenal sebagai wilayah pesisir. Di tempat itu, sebuah warung sederhana bernama Warung Campor Lorjuk Bu Hamid menjadi magnet bagi para pencinta kuliner tradisional.

Warung ini buka mulai jam 7 pagi hingga selesai Isya. Di balik pintu warung tersebut, sosok Siti Hamidah, perempuan yang setia menjaga cita rasa campor lorjuk yang kini makin langka. Ia melanjutkan warisan ibunya, menjadi generasi kedua setelah menyelesaikan sekolah menengah umum.

Meneruskan Warisan Keluarga

Di ruang dapur yang beraroma rempah, ia bercerita tentang awal mula terjun dalam dunia kuliner. Ia meneruskan usaha orang tuanya dengan memulai jualan di rumah selama 25 tahun. Dari tujuh bersaudara, hanya dia yang meneruskan warisan keluarga.

“Ibu saya dulu sehari-hari jualan keliling, termasuk menerima pesanan waktu ada manten atau kegiatan pertemuan keluarga,” ujar perempuan berusia 58 tahun itu.

“Awalnya saya jualan di rumah ya sudah 25 tahun. Saya 7 bersaudara hanya saya saja yang meneruskan, berawal dari suka bantu-bantu terus dikasih tau resepnya yang sampai sekarang tidak saya campur-campur lagi ya murni sama seperti ibu saya bikin,” imbuhnya.

Meski seiring berjalannya waktu ia tidak lagi menguleg bumbu secara manual, tetapi racikannya tetap sama. “Sekarang digiling karena badan sudah sakit semua kalau nguleg. Karena hampir satu kilo bumbu.”

Bahan Baku yang Unik dan Rasa yang Tidak Tergantikan

Isian campor lorjuk buatannya tetap khas lontong, mie suun, kecapar goreng, remahan peyek, lorjuk sebagai bintang utama yang diguyur kuah. Untuk kuahnya, ia menggunakan bumbu dasar merah sekaligus petisnya dicampur, jadi tidak terlalu pekat.

Lorjuk merupakan kerang kecil yang hanya hidup di pesisir Madura. Bentuknya memanjang, menyerupai bambu kecil dan bersembunyi vertikal di bawah pasir. Ada teknik khusus untuk menemukannya dengan menggunakan linggis. Karena itulah kuliner ini tidak ditemui di kota lain.

Dari Media Sosial Hingga Pengunjung Berbagai Kalangan

Dari medsos hingga didatangi moge, mahasiswa dan wisatawan Perancis, pengunjung warung ini sangat beragam. Baginya, perjalanan berjualan tetap penuh dinamika.

“Tidak menentu kadang-kadang ramai, ya ada pasang surutnya juga. Tapi ya alhamdulillah makin ke sini banyak peminatnya datang,” kata perempuan asli Pamekasan ini.

“Yang datang ke sini banyak yang awalnya lihat dari Instagram, Tiktok dan Google mulai dari Surabaya, Pasuruan, Probolinggo dll,” imbuhnya.

Seiring berjalannya waktu, pengunjung yang datang membuat warung kecil ini seperti titik temu banyak cerita. Mulai dari warga Madura sendiri, komunitas motor gede dari pulau Jawa, rombongan mahasiswa dari Malang datang. Bahkan turis dari Perancis pun pernah mencoba campor lorjuk buatannya.

Keistimewaan Pengunjung dan Kesukaan Pribadi

Chef asal Surabaya Rudy Choirudin juga masuk daftar pengunjung istimewanya. “Pernah ke sini tiga kali, dia makan sambil beli petis lorjuk, terus makan di sini sambil nanya resepnya juga,” kata Siti Hamidah.

“Senang ya kuliner legend banyak diminati, biar orang-orang tahu kalau setiap daerah punya ciri khas dan tidak boleh dihilangkan,” sambungnya.

Sampai saat ini, campor lorjuk yang dijual dengan harga merakyat sebesar Rp 10.000 per porsi, atau Rp 15.000 jika ingin menambah lorjuk.

Alasan Mengapa Seseorang Menikmati Kuliner Ini

Syahid Mujahidin, salah satu warga yang sering mampir menikmati campor Lorjuk buatan Siti Hamidah, punya alasan tersendiri. “Kuliner ini salah satu bagian dari sea food juga kebetulan suka sea food,” ucap pria yang biasa disapa Syahid itu.

Ia menyamakan kuliner ini dengan soto, tetapi dengan karakter rasa dan isinya sedikit berbeda. “Ini isian utamanya pakai lorjuk saya sukanya makan pas siang hari, sepulang dari pantai biasanya mampir sini karena di sini enak,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan