Mendorong Budaya Baca Melalui Festival Babakan Madang 2025

Festival Literasi Babakan Madang 2025: Kekuatan Literasi yang Berawal dari Komunitas

Festival Literasi Babakan Madang 2025 resmi digelar pada Jumat, 12 Desember 2025, bertempat di Sekolah Taruna Bangsa Sentul, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor. Kegiatan tahunan ini kembali menjadi ruang perjumpaan para pegiat literasi, pendidik, serta pemangku kepentingan untuk memperkuat budaya membaca dan menulis di tingkat lokal.

Mengusung tema Sehati Membangun Literasi Negeri, festival ini menjadi penyelenggaraan ketiga sejak pertama kali digelar. Tema tersebut menegaskan komitmen bersama dalam membangun literasi sebagai fondasi penting bagi kemajuan pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, khususnya di wilayah Babakan Madang dan Kabupaten Bogor secara umum.

Acara dibuka secara protokoler pada pukul 13.00 hingga 16.00 WIB, dengan dihadiri perwakilan pemerintah daerah. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Dr. Rusliandy S.STP., M.Si., M.E., serta Camat Babakan Madang turut hadir memberikan dukungan terhadap gerakan literasi yang tumbuh dari komunitas. Kehadiran pemerintah dinilai memperkuat sinergi antara masyarakat sipil dan negara dalam mendorong ekosistem literasi berkelanjutan.

Festival Literasi Babakan Madang 2025 merupakan puncak dari rangkaian kegiatan panjang yang telah berlangsung sejak Agustus hingga September 2025. Rangkaian tersebut meliputi lomba menulis cerita pendek, membaca puisi, mendongeng, hingga mewarnai yang digelar bersamaan dengan Open House Sekolah Taruna Bangsa Sentul. Selain itu, kegiatan nonton bareng film edukatif Terima Kasih karya seorang guru dari Sumba, NTT, juga menjadi bagian dari agenda festival pada awal Desember lalu.

Agenda puncak festival diisi dengan Bincang Literasi bertema Menjadi Pendidik Inspiratif yang Membangun Budaya Literasi dengan Keteladanan dan Cinta. Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber nasional, yakni Dr. Edi Sutarto selaku Founder Aksi Literasi Indonesia, Hety A. Nurcahyarini dari Guru Belajar Foundation, serta Indira Ratna, Founder Kayuh Literasi. Diskusi dipandu oleh Jessica Hostiadi, Kepala Yayasan Rhema En Cara School.

Dalam forum tersebut, para narasumber menekankan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keteladanan, empati, dan cinta dalam praktik pendidikan sehari-hari. Literasi dinilai sebagai gerakan sosial yang harus dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga, sekolah, dan komunitas.

Founder Kayuh Literasi, Indira Ratna, menyampaikan bahwa festival ini diharapkan mampu menjaga api literasi agar terus menyala di tengah masyarakat. Melalui Kayuh Literasi, ia bersama relawan aktif membina taman baca dan pojok literasi, serta mendampingi sekolah dan madrasah di Babakan Madang agar literasi menjadi budaya, bukan sekadar program.

Festival Literasi Babakan Madang 2025 sekaligus menjadi refleksi bahwa gerakan literasi dapat tumbuh kuat dari daerah ketika dijalankan secara kolaboratif. Dalam semangat Sehati Membangun Literasi Negeri, acara ini membuka ruang dialog, mempertemukan gagasan, dan meneguhkan harapan akan Indonesia yang lebih adil, terbuka, dan berpengetahuan melalui kekuatan literasi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan