Menelusuri luka dan trauma Aurelie Moeremans dalam "Broken Strings"

Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menanggung sebuah cerita yang tak terungkap di dalam diri. Kalimat itu nampaknya relevan untuk semua orang yang menyimpan banyak luka, tapi tak kuasa untuk mengutarakannya. Mungkin takut dianggap terlalu berisik, aneh, baper (bawa perasaan), gila, penuh drama, atau bahkan dianggap hanya mengada-ngada saja. 

Ramainya sebuah buku digital bertajuk "Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah" bagai sebuah cerminan bahwa kebenaran hanya ada pada pemiliknya. Penulisnya adalah public figure yang selama ini kita kenal lewat senyum manis dan peran-peran apiknya di layar lebar, Aurelie Moeremans. Perempuan blasteran yang cantik, manis, dengan mata yang teduh.

Broken Strings bisa diakses oleh siapa saja dengan mudah. Tidak untuk diperjual belikan atau menjadikan sebuah luka sebagai pundi-pundi menambah kekayaan. Broken Strings ditulis untuk mengungkapkan apa yang selama ini mengendap, sekaligus perayaan atas kembalinya sebuah kehidupan sang penulis yang merdeka, bebas, sebagai manusia. Aurelie menyematkan link di bio Instagramnya dengan dua versi, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Broken Strings bukanlah buku harian selebriti biasa yang berisi tip kecantikan, resep diet, atau kisah cinta yang berbunga-bunga. Ia adalah sebuah tumpahan tangis hingga darah di atas kertas digital. Ia adalah lembaran-lembaran yang memuat luka-luka tentang manipulasi, grooming, dan kekerasan yang dialami saat masih remaja.

Apa yang dilakukan Aurelie mengingatkan pada satu fungsi dari sebuah tulisan. Sastra hadir saat tidak ada lagi ruang untuk menyuarakan kesakitan, karena takut dihakimi, dibilang penuh drama, atau bahkan dicap lebay dalam merawat luka. Kita hidup di era di mana orang-orang yang berpegang teguh pada logika kritisnya seringkali menganggap enteng sudut pandang orang lain. Mereka menakar luka orang lain dengan gelas ukur logika mereka sendiri yang dingin.

Namun, ketika luka terlalu perih untuk diucapkan dengan lisan, dan ketika kebenaran terlalu rumit untuk dijelaskan dalam perdebatan yang bising, sastra hadir memberi ruang. Tulisan menjadi satu-satunya tempat di mana sang tokoh bisa menjadi jujur tanpa takut diinterupsi.

Membaca Broken Strings seperti menelusuri lorong waktu yang gelap. Berdasarkan struktur bab yang tersusun, Aurelie tidak sekadar bercerita secara acak. Ia menyusun peta bagaimana sebuah kekerasan emosional bekerja secara sistematis. Aurelie menggunakan tulisan untuk merekonstruksi kebenaran yang selama ini diputarbalikkan. Jika membedah isi bukunya, kita akan menemukan pola psikologis yang mengerikan. 

Pada bab-bab awal seperti "Kesempatan Sekali Seumur Hidup" dan "Kita Lihat", pembaca diajak merasakan euforia masa remaja Aurelie. Kita merasakan getaran hati seorang gadis muda yang dijanjikan mimpi besar. Aurelie menggambarkan bagaimana sosok antagonis seringkali datang bukan dengan wajah menyeramkan, melainkan sebagai sosok penyelamat atau pemberi peluang.

Ini adalah fase Love Bombing. Hujan perhatian yang membuat Aurelie merasa spesial, padahal itu adalah jaring yang sedang dirajut. Tulisan ini membungkam logika kritis pembaca dan menggantinya dengan empati. Siapa pun di usia semuda itu, dengan mimpi sebesar itu, dan belum mengerti apa itu cinta, bisa terperdaya dengan mudah.

Bagian paling menyayat hati dan mungkin menjadi inti dari metafora buku ini terletak pada bab pertengahan, terutama bab 4 "Dentang Rantainya" dan bab 6 "Boneka Miliknya".

Judul "Boneka Miliknya" sangat simbolik dan menohok. Di bab ini, Aurelie mencurahkan realitas pahit di mana ia kehilangan otonomi atas tubuh dan pikirannya sendiri. Ia bukan lagi manusia yang punya kehendak. Ia adalah objek. Ia didikte cara berpakaiannya, cara bicaranya, hingga senyumnya. Narasi di bagian ini sangat kuat menggambarkan betapa halusnya proses dehumanisasi itu terjadi, sampai-sampai korban tidak sadar bahwa ia sedang dimatikan perlahan-lahan. Ia hidup, tapi tidak bernyawa.

Konflik memuncak pada bab-bab seperti "Sah Tapi Tak Bebas" dan "Gereja di Waktu Fajar". Di sini, Aurelie menunjukkan keadaan yang menyiksa. Sebuah ikatan yang seharusnya suci dan legal (sah), justru menjadi penjara. Ia terjebak dalam dilema antara norma sosial, ketakutan religius, dan insting bertahan hidup. Pembaca dibawa masuk ke dalam kebingungan mental sang tokoh yang merasa tidak punya jalan keluar karena rantai itu kini berbalut legalitas dan dogma.

Bagi orang luar yang hanya memakai logika, mungkin mudah berkata "Tinggal lari saja!". Tapi lewat tulisan ini, Aurelie menjelaskan betapa rumitnya untuk keluar dari lingkaran. Ketakutan, ancaman terhadap keluarga, dan manipulasi dogma agama membuatnya lumpuh. Tulisan ini menjadi pembelaan dirinya yang paling fasih tanpa perlu berteriak.

Bab 11, "Bukan Putriku", adalah bagian yang paling menguras air mata. Ini adalah taktik klasik pelaku kekerasan. Memisahkan dari benteng pertahanan terakhirnya, yaitu orang tua. Aurelie menggambarkan keruntuhan dunianya saat hubungan darah itu diputus paksa oleh manipulasi si pelaku.

Menyelesaikan tulisan yang penuh luka dari Aurelie hanya butuh satu malam saja. Menelusuri slide demi slide sampai berakhir di halaman terakhir, halaman 214. Sepanjang membacanya, keluar tangisan, umpatan, kekesalan, dengan mata terbelalak. Jika diukur dengan nalar standar manusia, semuanya seperti sebuah karangan biasa, di mana sastra sedang memberi kesan hiperbola agar cerita semakin asyik. Namun sayangnya, manusia-manusia yang merasa benar akan kebenarannya sendiri terkadang memang tidak merasa bersalah telah membuat hidup orang lain sulit.

Saya teringat pada tulisan "Konsep Usia Hanyalah Angka dalam Percintaan Bisa Berujung Child Grooming" yang saya tulis di akhir 2024. Tulisan itu lahir dari keresahan karena pemberitaan tentang seorang aktris muda yang menjalin hubungan dengan pria dewasa sampai pergi dari rumahnya. Tentu saya menulis itu bukan untuk bergosip, hanya mencoba memberikan insight untuk melihat dari banyak sudut pandang.

Ya, Aurelie adalah salah satu contoh yang terjebak pada child grooming. Di usianya yang masih 15 tahun, ia harus bertemu, berkenalan, dan menjalin hubungan dengan pria matang yang malah membuatnya terperangkap. Bukannya mengayomi sebagai orang yang lebih dewasa, justru malah ingin mengambil hak hidup seorang gadis remaja yang sedang bertumbuh.

Seringkali, masyarakat menuntut korban untuk sempurna. Korban harus melapor polisi segera, korban harus punya bukti visum, korban harus memiliki alasan-alasan masuk akal. Orang-orang yang mendewakan logika sering lupa bahwa trauma itu tidak logis. Trauma itu berantakan (messy).

Trauma seringkali tersimpan dalam memori sebagai sebuah kekacauan (chaos). Bagi seseorang yang memiliki trauma, ingatan masa lalu itu seperti kepingan puzzle yang berserakan dan tajam. Ada teriakan, ada rasa takut di ruang tertutup, ada rasa bersalah yang tidak logis. Semuanya bercampur aduk tanpa struktur, menjadi hantu yang terus membisikkan rasa cemas.

Ada saja orang yang mempertanyakan kenapa baru bersuara sekarang, kenapa tidak dari awal, dan suara-suara lainnya dengan nada tendensius. Alhasil banyak yang menganggap enteng sudut pandang orang lain hanya karena mereka tidak pernah merasakannnya. Mereka menyebut ini hanya sebatas curhatan  sebagai drama yang lebay.

Di sinilah Broken Strings berfungsi. Dengan menuliskan kisahnya secara runut dan jujur, Aurelie memaksa pembaca untuk menurunkan ego logikanya dan mengaktifkan rasa kemanusiaannya. Tulisan ini memberi ruang aman di mana Aurelie tidak perlu berdebat dengan netizen. Dia hanya bercerita. Dan dalam cerita itu, pembaca akhirnya mengerti bahwa diamnya selama ini bukan karena menikmati, tapi karena ketakutan yang melumpuhkan.

Aurelie mengubah memori buruk dan tangisan menjadi monumen peringatan. Rasa sakit itu tidak hilang, tapi ia berubah wujud. Dari hantu yang menakutkan dan tak berbentuk, menjadi deretan kalimat yang bisa dibaca, dipahami, dan dikendalikan.

Tulisan Aurelie memaksa pembaca meminjam matanya, merasakan sesaknya menjadi boneka yang tak bisa berteriak, merasakan dinginnya lantai tempatnya menangis. Kata-kata memiliki kekuatan magis untuk meruntuhkan tembok penghakiman. Lewat tulisan, kebenaran yang selama ini tertutup oleh gosip miring, akhirnya terungkap terang benderang. Bukan dengan teriakan kemarahan, tapi dengan kejujuran yang lirih.

Aurelie merebut kembali pena yang selama ini dipegang oleh masa lalunya. Selama belasan tahun, mungkin narasi hidupnya dikendalikan oleh si pelaku, bahwa Aurelie itu nakal, Aurelie itu lari dari rumah. Dengan buku ini, dia merebut pena itu dan mendeklarasikan bahwa dialah penulis skenario hidupnya sendiri. Bahwa dialah Tokoh Utama (Main Character) yang berhak menentukan ending ceritanya.

Fenomena buku ini sejatinya lebih besar dari sekadar sosok Aurelie Moeremans. Ini adalah cermin bagi kita semua.

Siapa di antara kita yang tidak punya luka? Siapa yang tidak punya trauma masa kecil, patah hati yang belum selesai, atau kata-kata menyakitkan yang masih terngiang di telinga? Kita mungkin bukan selebriti, tapi esensinya sama, bahwa semua luka itu butuh saluran.

Jika kita membiarkan luka itu mengendap tanpa pernah diurai, ia akan membusuk menjadi penyakit batin. Jika hari ini kamu merasa sesak oleh sesuatu yang tak terkatakan, cobalah menulis. Tidak perlu menjadi puitis, tidak perlu memikirkan ejaan. Tulis saja. Muntahkan saja. Biarkan kertas (atau layar laptopmu) menampung nanah dan darah dari luka hati.

Seperti Broken Strings, sebuah tulisan yang bisa menjadi pedang untuk memotong rantai trauma, sekaligus menjadi jarum untuk menjahit kembali kepingan hati yang pecah. Kebenaran mungkin pahit, tapi saat ia disentuh oleh keberanian sastra, ia berubah menjadi sayap yang membebaskan.

Buku ini ditutup dengan harapan. Kata "Broken Strings" yang awalnya bermakna kehancuran mimpi, di akhir buku berubah makna menjadi putusnya tali kekang. Boneka itu kini sudah memutus senarnya, dan ia berdiri tegak sebagai manusia yang utuh.

Bagi siapa pun di luar sana yang sedang membungkam lukanya karena takut dihakimi orang lain, tulislah! Biarkan tintamu berbicara saat mulutmu tak sanggup lagi berkata-kata. Sebuah kebenaran, sepedih apa pun itu, akan selalu menemukan jalannya lewat keindahan sastra.

@siskafajarrany

Menelusuri luka dan trauma. Sampai akhirnya bisa menuliskan semuanya dengan tegak. Kebenaran hanya milik pemiliknya. Dan itu cukup. @aureliebigenho ? #brokenstrings #aureliemoeremans #reviewbuku #bookreview #rekomendasibuku

♬ disarankan di bandung - Dongker & Jason Ranti

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan