Mengapa Balita Tidak Paham Aturan? Ini Penjelasan Psikolog!


Usia balita adalah masa yang sangat penting dalam perkembangan anak. Pada fase ini, anak mulai aktif mengenal dunia sekitarnya, baik melalui kegiatan harian maupun interaksi dengan orang lain. Namun, pada usia ini, anak belum sepenuhnya memahami konsep-konsep abstrak, termasuk aturan dan keterbatasan.

Seorang ibu yang dikenal melalui akun Instagram @fitrisaid_ berbagi pengalamannya saat Senin pagi di rumah bersama putrinya, Kaluna. Awalnya, Kaluna meminta izin tidak pergi ke sekolah karena merasa badannya pegal. Namun, beberapa jam kemudian, ia justru meminta diantar ke sekolah karena rindu bertemu teman-temannya. Bahkan, Kaluna sempat menangis dan memohon kepada ibunya untuk mencari sekolah yang “tidak punya peraturan”. Ia ingin bisa berangkat ke sekolah pada jam 10 pagi, bukan pada jam biasanya.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa anak masih memahami dunia secara konkret dan emosional. Mereka belum sepenuhnya paham tentang aturan yang terlihat rumit atau terlalu formal.

Kapan Anak Perlu Diajari Adanya Peraturan?


Psikolog Klinis Raden Mutiara Puspa Wijaya, M.Psi, menjelaskan bahwa penjelasan panjang tentang aturan mungkin masih sulit bagi anak balita. Menurutnya, anak pada usia ini belum mampu memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak. Namun, mereka bisa mulai dikenalkan pada aturan melalui kebiasaan sehari-hari.

Menurut Mutiara, pemahaman anak tentang aturan biasanya mulai berkembang ketika mereka berusia sekitar 8 tahun ke atas. Oleh karena itu, pada usia balita, orang tua tidak perlu memberikan penjelasan yang terlalu rumit. Sebaliknya, cukup menyampaikan kalimat sederhana dan konkret. Misalnya: “Kalau sekolah, kita berangkat pagi. Kalau sudah siang, sekolahnya sudah selesai.”

Kalimat seperti ini lebih mudah dipahami oleh anak balita. Pada usia ini, disiplin bukanlah tentang menaati aturan, tetapi lebih berkaitan dengan:

  • Mengenal waktu
  • Membentuk kebiasaan atau rutinitas
  • Memahami batas sederhana

Dengan pendekatan ini, anak akan lebih nyaman menjalani rutinitas tanpa merasa terbebani oleh aturan yang belum sepenuhnya ia pahami.

Pentingnya Konsistensi dalam Pengajaran Aturan

Mutiara menekankan bahwa konsistensi dari orang tua jauh lebih penting daripada penjelasan panjang. Orang tua dianjurkan menggunakan kalimat yang pendek, jelas, dan diulang secara konsisten setiap hari. Dengan demikian, anak dapat belajar melalui pengulangan dan kebiasaan, bukan hanya melalui penjelasan teori.

Misalnya, jika anak terbiasa berangkat ke sekolah pada jam 7 pagi, maka orang tua harus konsisten menjaga waktu tersebut. Jika terjadi perubahan, orang tua perlu menjelaskan dengan cara yang sederhana dan sesuai dengan pemahaman anak.

Kesadaran akan aturan juga bisa dibangun melalui interaksi sehari-hari. Misalnya, saat anak sedang bermain, orang tua bisa memberikan batasan sederhana seperti “kita main sampai pukul 5 sore, lalu waktunya makan malam”. Batasan ini membantu anak memahami bahwa ada waktu untuk bermain dan waktu untuk melakukan aktivitas lain.

Dengan pendekatan yang tepat, anak balita bisa mulai memahami konsep dasar aturan melalui pengalaman dan kebiasaan. Hal ini menjadi fondasi penting untuk perkembangan selanjutnya, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan