Sejarah dan Keunikan Keraton Surakarta
Keraton Surakarta, yang berdiri pada tahun 1744 setelah runtuhnya Keraton Kartasura, menjadi pusat dari Kesunanan Surakarta dan simbol sejarah Mataram. Kompleks keraton ini memiliki luas sekitar 157 hektar dengan arsitektur yang menggabungkan gaya Jawa dan Eropa. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan penting seperti pendapa, museum, dan Panggung Sangga Buwana.
Warna biru menjadi identitas utama dari Keraton Surakarta. Warna ini melambangkan ketenangan, pengaruh era Pakubuwana X, simbol langit, dan juga menjadi pembeda dari Keraton Yogyakarta. Berikut adalah beberapa alasan mengapa warna biru mendominasi keraton ini:
-
Biru sebagai simbol keagungan dan ketenangan
Dalam tradisi Jawa, biru menggambarkan keteduhan, kewibawaan, dan kendali diri. Sebagai pusat pemerintahan dan spiritual, keraton membutuhkan warna yang mencerminkan stabilitas dan keharmonisan. Biru juga dianggap sebagai warna yang ngayomi atau melindungi, sehingga cocok untuk istana raja. -
Pengaruh era Pakubuwana X
Pada masa Pakubuwana X, arsitektur keraton banyak dipugar dan diberi sentuhan Eropa. Di era itu, biru merupakan warna bangsawan (royal blue), sehingga perpaduan estetika JawaEropa melahirkan ikon warna khas Kesunanan Surakarta. -
Representasi hubungan keraton dengan langit
Dalam kosmologi Jawa, raja adalah penghubung antara dunia manusia dan dunia adikodrati. Warna biru melambangkan langit yang luas, tempat para dewa bersemayam, simbol bahwa raja mendapat wahyu Ilahi atau wahyu keprabon. -
Identitas pembeda dari Yogyakarta
Setelah Perjanjian Giyanti, dua keraton lahir dari satu akar Mataram. Untuk menegaskan identitas masing-masing:
Yogyakarta memilih warna hijauemas
Surakarta memilih biruputih
Sejak itu biru menjadi citra visual khas Surakarta. -
Warna biru mudah dipadukan dengan ornamen putih
Biru yang sering digunakan di keraton identik dengan warna laut atau langit cerah. Ketika dipadukan dengan putih, bangunan keraton tampak bersih, megah, dan menonjolkan struktur arsitektur Jawa yang simetris.

Berdiri dari Runtuhnya Kartasura
Akar sejarah Keraton Surakarta bermula dari kehancuran Keraton Kartasura akibat Geger Pecinan pada 1743. Kerusakan besar dianggap sebagai tandha kotor secara spiritual, sehingga Sri Susuhunan Pakubuwana II memilih membangun pusat pemerintahan baru. Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan komandan Belanda Van Hohendorff ditugasi mencari lokasi baru hingga akhirnya dipilihlah Desa Sala, sebuah kawasan di tepi Bengawan Solo. Tanah itu dibeli dari Ki Gedhe Sala dengan selaksa keping emas dan sejak saat itu nama Sala berubah menjadi Surakarta Hadiningrat, maknanya: kota kemakmuran yang dihuni orang-orang pemberani.
Keraton Surakarta kemudian menjadi saksi penyerahan kedaulatan Mataram kepada VOC pada 1749 dan, setelah Perjanjian Giyanti 1755, menjadi istana resmi Kesunanan Surakarta.
Kompleks yang Luas dan Penuh Filosofi
Kompleks Keraton Surakarta membentang sekitar 157 hektar, mencakup Alun-Alun Lor, Alun-Alun Kidul, Masjid Agung, Baluwarti, hingga Gapura Gladag. Kawasan intinya sendiri lebih dari 15 hektar. Arsitekturnya dirancang oleh Pangeran Mangkubumi, yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana I, sehingga tata ruang keraton Surakarta dan Yogyakarta memiliki kemiripan.
Bangunan-bangunannya bernuansa Jawa klasik dengan sentuhan Eropa, terutama pada era Pakubuwana X (18931939). Di dalamnya terdapat paviliun, pendapa, museum, hingga Panggung Sangga Buwana, menara ikonik tempat raja bermeditasi dan secara simbolis bertemu Ratu Kidul.
Keraton Kini: Tradisi yang Tetap Hidup
Setelah 1945, Keraton Surakarta resmi menjadi bagian dari Republik Indonesia. Meski begitu, kawasan inti keraton tetap berfungsi sebagai tempat tinggal Sunan dan keluarga, serta pusat pelestarian tradisi, upacara adat, museum, dan pendidikan budaya. Sebagian wilayah keraton terbuka untuk umum. Di dalamnya wisatawan dapat melihat gamelan pusaka, koleksi hadiah raja Eropa, arca-arca kuno, hingga bangunan-bangunan berarsitektur tradisional Jawa. Namun, yang paling mudah dikenali dan paling ikonik tetaplah warna birunya, yang menjadikan Keraton Surakarta berbeda dari istana manapun di Nusantara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar