Mengapa Orang Indonesia Makan 12 Anggur di Tahun Baru? Ini Penjelasan Sosiolog

Tradisi Makan 12 Anggur Saat Tahun Baru di Indonesia

Masyarakat Indonesia tidak memiliki tradisi khusus yang dilakukan secara turun-menurun saat merayakan tahun baru. Berbeda dengan berbagai negara lain yang memiliki beragam tradisi unik untuk merayakan pergantian tahun, sebagian masyarakat Indonesia justru mengikuti tradisi dari Spanyol, yaitu menyantap 12 anggur saat pergantian tahun.

Tradisi ini telah menjadi tren di media sosial, dan banyak orang mulai mempersiapkan diri untuk melakukannya. Namun, mengapa orang Indonesia ikut menjalankan tradisi yang dikenal sebagai las doce uvas de la suerte? Menurut sosiolog, ada beberapa alasan yang mendasarinya.

Alasan Orang Indonesia Mengikuti Tradisi Makan Anggur Tahun Baru

Menurut Dosen Sosiolog Fisip Universitas Sebelas Maret (UNS) Drajat Tri Kartono, sebagian masyarakat Indonesia melakukan tradisi ini karena memiliki pengalaman atau kedekatan dengan budaya Spanyol. Beberapa di antaranya mungkin pernah menempuh pendidikan, bekerja, atau merayakan pergantian tahun langsung di Negeri Matador.

Selain itu, ada kemungkinan bahwa orang-orang Spanyol yang tinggal di Indonesia rindu akan tradisi tersebut dan berbagi dengan teman-teman Indonesia mereka. Proses ini terjadi dalam konteks globalisasi yang membuat penyebaran nilai dan budaya lintas negara semakin mudah.

Pengaruh Globalisasi dan Glokalisasi

Drajat menilai fenomena ini tak terlepas dari proses globalisasi yang membuat penyebaran nilai dan budaya lintas negara. Namun, sejumlah pakar memandang proses tersebut bukan sekadar menghubungkan budaya global, tetapi sebuah pertemuan antara global dan lokal, yang dikenal dengan istilah glokalisasi.

Pakar Roland Robertson menyatakan glokalisasi merupakan proses bertemunya nilai-nilai dari negara lain dan nilai dari negara asal. Proses ini tidak saling meniadakan. Contohnya, penelitian Drajat pada masyarakat Bawean, Jawa Timur yang bermigrasi ke Singapura, Malaysia, dan Afrika Selatan. Budaya Bawean tetap dipraktikkan di mana mereka berada, dan masyarakat luar tidak keberatan. Ada proses saling menyesuaikan.

Situasi ini dikaitkan dengan tradisi makan 12 anggur saat tahun baru yang berasal dari Spanyol, kemudian hadir di Indonesia. Namun, hal ini bukan berarti kita dikendalikan oleh budaya Spanyol. Lebih ke menghargai. Ini disebut sebagai glokalisasi, yaitu proses bertemunya antara global dan lokal, tidak saling menguasai, tidak saling meniadakan, tapi melengkapi.

Apakah Makan Anggur Saat Tahun Baru Jadi Tren?

Berdasarkan pantauan, sebagian masyarakat Indonesia sudah bersiap diri untuk turut mengkonsumsi 12 anggur saat pergantian tahun. Tak sedikit yang percaya bahwa tradisi ini akan membawa keberuntungan. Bahkan ada pula yang mengaku merasakan dampak positif setelah melakukannya pada tahun sebelumnya.

Namun, apakah ini merupakan tren? Drajat menjelaskan, hal itu bergantung pada seberapa besar pengaruh budaya itu meluas di Indonesia. Contohnya, cosplay Jepang atau Korea yang meluas bisa disebut tren. Sementara itu, tradisi makan 12 anggur di pergantian tahun baru dinilai masih terbatas. "Saya lihat makan anggur belum cukup luas, hanya sebagian orang yang tahu," lanjutnya.

Tersirat Doa dan Harapan

Di samping itu, Drajat melihat hal menarik di balik tradisi makan anggur saat tahun baru. Ada makna simbolik yang dipanjatkan bagi mereka yang mempercayainya. "Selalu punya harapan tahun depan menjadi lebih baik, tidak ada bencana dan masalah yang serius," lanjutnya.

Fenomena ini mencerminkan kondisi ketidakpastian dalam kehidupan sosial manusia. Dalam kehidupan sosial ini mereka menemui permasalahan, perubahan yang belum bisa mereka pastikan akan berjalan lebih bagus di masa mendatang. Rasa cemas akan sesuatu yang akan datang menjadi momentum membangun harapan.

Sejarah Tradisi Makan 12 Anggur Saat Tahun Baru

Lalu, bagaimana sejarah tradisi makan 12 anggur? Drajat menjelaskan, kebiasaan ini berakar pada upaya petani anggur untuk memasarkan hasil panennya. Pada tahun 1900-an, petani anggur ingin masyarakat sekitar mempunyai kebiasaan makan anggur. Supaya punya momentual yang bagus, kebiasaan tersebut dikaitkan dengan pergantian tahun baru.

Ritual mengkonsumsi anggur tersebut dilakukan pada pergantian tahun pukul 00.00. Ketika lonceng gereja yang menandai datangnya tahun baru berbunyi, masyarakat memakan anggur satu per satu. Konsumsi tiap butir anggur dilakukan setiap dentangan lonceng, hingga mencapai hitungan ke-12.

"Angka 12 menandakan bahwa akan ada kesejahteraan dan keberuntungan selama 12 bulan," kata Drajat. Ia menambahkan, tradisi ini sebenarnya suatu ritual yang dirayakan secara adaptif dan lentur. Awal tradisi ini adalah upaya menggabungkan budaya konsumsi anggur dengan perayaan tahun baru. Dalam perjalanannya, tradisi ini kemudian dinarasikan memiliki filosofi harapan kehidupan yang lebih baik ke depan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan