Pendekatan Gentle Parenting yang Menarik Perhatian
Gentle parenting kini semakin sering dibicarakan di media sosial dan dianggap sebagai pola asuh ideal masa kini. Pola pengasuhan ini menekankan empati, komunikasi, dan kedekatan emosional antara orangtua dan anak. Meski populer, banyak orangtua merasa kesulitan saat mencoba menerapkannya.
Pelatih parenting dan remaja, Chioma Fanawopo, menyebut gentle parenting menarik perhatian karena sejalan dengan riset tentang perkembangan anak dan kesehatan mental. Ia mengatakan bahwa pendekatan ini menjadi populer karena selaras dengan penelitian modern tentang perkembangan anak dan kesejahteraan emosional.
Namun, menurut Fanawopo, merasa kesulitan saat menjalani gentle parenting adalah hal yang wajar. Mengapa pendekatan ini terasa berat?
Menurut Fanawopo, gentle parenting bisa terasa berat karena memang menuntut kapasitas emosional yang tinggi dari orangtua. Pola pengasuhan ini bukan hanya soal mengatur perilaku anak, tetapi juga mengelola emosi diri secara konsisten.
Keterikatan Emosional dalam Gentle Parenting
Parenting coach Lauren O’Carroll menjelaskan bahwa gentle parenting menekankan rasa aman secara emosional dan keterikatan yang kuat antara anak dan orangtua. Ia menegaskan bahwa pola asuh memiliki dampak besar dan jangka panjang terhadap kesehatan mental anak. Gentle parenting menyoroti pentingnya keamanan emosional, co-regulation, dan keterikatan yang aman.
Namun, dalam praktik sehari-hari, menerapkan prinsip tersebut tidak selalu mudah. Situasi seperti anak tantrum, menolak aturan, atau tidak mau mendengarkan kerap memicu respons spontan orangtua. Ketika anak menantang batasan, tetap tenang dan teratur secara emosi bisa terasa hampir mustahil, terutama jika orangtua sendiri sudah lelah atau terpicu.
Pengaruh Latar Belakang dan Budaya
Bagi sebagian orangtua, gentle parenting terasa bertentangan dengan pola asuh yang mereka terima sejak kecil. Fanawopo, yang dibesarkan dalam budaya Afrika, mengakui bahwa pendekatan ini bisa terasa asing. Dalam banyak budaya, anak diharapkan patuh dan tidak banyak bicara. Ketika anak bersuara atau menantang batasan, orangtua bisa merasa frustrasi dan ragu dengan pendekatan yang diambil.
Selain faktor budaya, pengalaman masa kecil orangtua juga berperan besar. Orangtua yang tumbuh dengan pola asuh otoriter atau minim afeksi kerap tidak memiliki contoh nyata untuk menghadapi anak dengan pendekatan lembut tetapi tetap tegas.
Tekanan Mental dan Kondisi Orangtua
Gentle parenting juga menuntut orangtua untuk mampu mengatur diri sendiri sebelum membantu anak mengatur emosinya. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua dengan tingkat stres tinggi atau kondisi tertentu.
O’Carroll menyoroti bahwa orangtua dengan ADHD, kecemasan, atau sensitivitas emosional tinggi mungkin merasa lebih sulit menerapkan gentle parenting secara konsisten. Impulsivitas dan reaktivitas emosional dapat membuat respons yang tenang menjadi lebih menantang.
Di sisi lain, gentle parenting juga mengajak orangtua untuk berani meminta maaf dan mengakui kesalahan di hadapan anak. Fanawopo menyebut hal ini sebagai wilayah baru bagi banyak orangtua. Bagi banyak dari kita, meminta maaf kepada anak tidak pernah dicontohkan oleh orangtua kita. Padahal, mengajarkan cara menghadapi konflik dimulai dari contoh orangtua.
Bukan Berarti Gagal sebagai Orangtua
Fanawopo dan O’Carroll sepakat bahwa kesulitan menjalani gentle parenting bukan tanda kegagalan. Sebaliknya, hal ini mencerminkan upaya orangtua untuk lebih sadar dan reflektif dalam mengasuh anak. Tujuan akhirnya adalah membesarkan anak yang percaya diri, menghargai orang lain, dan cerdas secara emosional.
Ia menambahkan bahwa proses tersebut memang membutuhkan kesabaran, fleksibilitas, dan kesadaran diri. Gentle parenting bukan tentang menjadi orangtua yang sempurna, melainkan tentang terus belajar dan menyesuaikan diri.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar