Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini: Tidak Semua Anak Sama
Banyak orangtua menganggap bahwa penggunaan gadget atau screen time aman bagi anak usia dini selama mereka terlihat mampu mengikuti tayangan atau belajar melalui gawai. Namun, dampak dari penggunaan layar tidak sama untuk setiap anak dan bisa berpengaruh berbeda terhadap perkembangan bahasa maupun emosinya.
Psikolog Klinis Anak dan Keluarga, Ayank Irma, menjelaskan bahwa setiap anak memiliki modal perkembangan yang berbeda. Menurutnya, ada beberapa anak yang kemampuan berbahasanya atau linguistiknya sudah ada sejak lahir. Sehingga, mereka tidak mengalami kesulitan dalam belajar komunikasi atau bahasa melalui smartphone.
Namun, tidak semua anak siap belajar dari layar. Kemampuan bahasa dan komunikasi anak berkembang melalui banyak proses. Beberapa anak lahir dengan modal linguistik yang kuat, sehingga lebih mudah menyerap bahasa dari berbagai sumber, termasuk tayangan digital. Anak-anak seperti ini terlihat mampu mengikuti instruksi, meniru kata-kata, atau menangkap kosakata baru dari apa yang mereka lihat di gawai. Namun, kondisi tersebut bukan standar untuk semua anak.
Pada beberapa anak, screen time justru dapat memperlambat respons komunikasi, membuat mereka kurang terbiasa berinteraksi langsung, dan mengurangi sensitivitas terhadap isyarat sosial. Anak menjadi lebih pasif karena informasi diterima satu arah, tanpa kesempatan berlatih percakapan nyata.
Screen Time Bersifat Satu Arah, Tidak Mengajarkan Interaksi Emosional
Interaksi digital jauh berbeda dengan interaksi manusia. Tayangan pada layar tidak bereaksi terhadap ekspresi anak, tidak menyesuaikan nada suara, dan tidak memberikan umpan balik emosional yang alami. Padahal, kemampuan memahami emosi sangat penting dalam masa tumbuh kembang.
Ayank menjelaskan bahwa gadget bersifat satu arah, lebih banyak satu arah. Ia menekankan bahwa anak usia dini sangat membutuhkan pengalaman langsung untuk belajar bagaimana membaca ekspresi, merespons orang lain, dan memahami konteks sosial.
Ketika anak terlalu banyak belajar dari layar, kesempatan untuk berlatih interaksi langsung menjadi terbatas. Akibatnya, kemampuan sosial emosional bisa berkembang lebih lambat dibandingkan anak yang sering terlibat dalam percakapan nyata.
Dampak Screen Time Berbeda pada Setiap Anak
Ayank menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda sesuai tahap perkembangan, karakter, dan kemampuan dasarnya. Oleh sebab itu, respons mereka terhadap screen time pun tidak bisa disamaratakan.
Makanya kenapa (orangtua) perlu untuk secara bijak mengatur dan mengelola, ujarnya. Ia menyampaikan bahwa orangtua sering kali hanya melihat contoh anak lain yang tampak baik-baik saja dengan screen time, lalu menerapkannya pada anak mereka sendiri. Padahal, efeknya bisa sangat berbeda.
Peran Orangtua dalam Mengelola Screen Time
Ayank menegaskan bahwa kunci utamanya adalah mengenali kebutuhan masing-masing anak. Tidak ada aturan satu untuk semua, orangtua harus memahami tantangan perkembangan anak, kemampuan bahasanya, serta kondisi emosionalnya sebelum memutuskan kapan dan bagaimana gadget diberikan.
Orangtua harus tahu kebutuhannya apa, challenge-nya apa, supaya kita menggunakan ini dengan lebih baik, supaya pertumbuhannya optimal, tegasnya.
Penggunaan gadget bukan sekadar soal durasi, tetapi bagaimana orangtua mengarahkan, mendampingi, dan menyeimbangkannya dengan interaksi langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar