Mengapa Timur Tengah Kesulitan Pangan Meski Kaya?

Permasalahan Krisis Pangan di Kawasan Timur Tengah

Di balik kilau gedung pencakar langit yang terletak di kota-kota seperti Dubai, Qatar, dan Riyadh, kawasan Timur Tengah menyimpan paradoks yang menarik. Negara-negara yang kaya akan sumber daya minyak justru menjadi wilayah yang paling rentan terhadap krisis pangan. Kerentanan ini tidak berasal dari ketidakmampuan finansial, melainkan merupakan hasil dari kombinasi berbagai faktor seperti geografi gurun, iklim ekstrem, ketergantungan besar pada impor, serta konflik politik yang terus mengganggu stabilitas kawasan.

Kondisi Geografis yang Menyulitkan Produksi Pangan

Secara geografis, sebagian besar negara di kawasan Timur Tengah berada dalam wilayah kering dengan curah hujan rendah dan sumber air yang sangat terbatas. Kondisi ini membuat produksi pangan domestik sulit untuk mengimbangi kebutuhan penduduk. Laporan The Outlook for Food Security in the Middle East and North Africa menunjukkan bahwa banyak negara di kawasan MENA memiliki ketersediaan air per kapita terendah di dunia. Akibatnya, pertanian hanya bisa bertahan melalui irigasi mahal dan teknologi intensif yang tidak semua negara mampu memenuhinya.

Dampak Perubahan Iklim

Masalah ini diperparah oleh perubahan iklim. Studi terbaru yang diterbitkan di Environmental Advances (2025) menemukan bahwa kenaikan suhu sebesar 1C saja sudah cukup untuk mengurangi ketersediaan pangan sekitar 8,2 kkal per orang per hari di kawasan MENA. Gelombang panas yang semakin lama, kekeringan ekstrem, dan pergeseran musim tanam membuat produksi gandum lokal terus menurun. Hal ini berarti negara-negara di kawasan ini tidak punya pilihan lain selain mengandalkan pasar global untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Ketergantungan Impor yang Rentan

Ketergantungan impor menjadi titik paling rapuh dalam rantai ketahanan pangan Timur Tengah. Banyak negara seperti Mesir, Yaman, dan Lebanon mengimpor sebagian besar gandum dari pasar internasional. Ketika perang RusiaUkraina meletus, jalur logistik terganggu dan ekspor gandum dari Laut Hitam anjlok. Studi yang dipublikasikan oleh Frontiers in Sustainable Food Systems (2023) menunjukkan bahwa gangguan perdagangan gandum di pasar global memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap ketahanan pangan MENA, terutama karena kawasan ini tidak memiliki cadangan pangan besar dan sangat sensitif terhadap fluktuasi harga dunia.

Instabilitas Politik dan Konflik

Namun bukan hanya iklim dan impor yang menjadi masalah. Instabilitas politik dan konflik berkepanjangan di Suriah, Irak, Yaman, Gaza, dan Libya menyebabkan lahan pertanian rusak, distribusi terputus, dan biaya logistik meroket. Laporan dari Middle East Council on Global Affairs (2023) menegaskan bahwa konflik mempersempit akses pangan bagi jutaan warga, terutama kelompok rentan, karena harga naik sementara pendapatan rumah tangga jatuh. Di negara-negara tertentu, krisis ekonomi dan instabilitas bahkan membuat pemerintah kesulitan membiayai subsidi pangan atau menambah stok cadangan nasional.

Paradoks Negara Kaya Namun Rentan Pangan

Maka lahirlah paradoks negara kaya sumber daya energi, tetapi rapuh dalam urusan pangan. Kekayaan minyak tidak otomatis menjamin roti di meja makan jika produksi pangan domestik minim, air terbatas, iklim makin panas, dan situasi politik tidak stabil. Dan selama faktor-faktor ini tidak berubah, kawasan Timur Tengah akan terus berada di tepi krisis setiap kali terjadi guncangan global entah itu perang, pandemi, atau kenaikan harga komoditas dunia.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan