Mengenal Desa Wisata Nglanggeran, Juara Best Tourism Village

Desa Wisata Nglanggeran: Kombinasi Alam, Budaya, dan Pariwisata Berkelanjutan

Desa Wisata Nglanggeran yang terletak di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi salah satu destinasi wisata yang paling menonjol di Indonesia. Berjarak sekitar 25 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, atau sekitar satu jam perjalanan dengan mobil, desa ini menawarkan pengalaman unik berupa perpaduan antara lanskap alam purba, budaya lokal, dan pengelolaan pariwisata yang berbasis masyarakat.

Pada tahun 2021, Nglanggeran dinobatkan sebagai Best Tourism Village versi UNWTO (United Nations World Tourism Organization). Penghargaan ini memberikan pengakuan internasional terhadap upaya desa dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendorong perekonomian warga setempat.

Sebelumnya, Nglanggeran juga meraih predikat Salah Satu Desa Wisata Terbaik ASEAN pada tahun 2017, dengan konsep Community Based Tourism (CBT) yang menjadi fondasi utama pengelolaannya. Mayoritas penduduk Nglanggeran bekerja sebagai petani, pekebun, dan peternak. Keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan pengelolaan desa wisata, mulai dari atraksi, akomodasi hingga produk oleh-oleh.

Ikon Wisata: Gunung Api Purba Nglanggeran

Daya tarik utama Desa Wisata Nglanggeran adalah Gunung Api Purba Nglanggeran, yang diperkirakan memiliki usia sekitar 60–70 juta tahun berdasarkan sejarah geologinya (Oligosen–Miosen). Gunung ini merupakan formasi batuan andesit hasil endapan vulkanik purba dan menjadi bagian dari Geosite Gunung Sewu UNESCO Global Geopark.

Wisatawan dapat melakukan trekking menyusuri gugusan batu raksasa yang menjulang tinggi, menyerupai gedung-gedung bertingkat. Aktivitas ini tidak hanya menawarkan tantangan fisik, tetapi juga pengalaman visual yang luar biasa, seperti bentang alam pedesaan, persawahan, serta panorama matahari terbit dan terbenam dari puncak gunung.

Kampung Pitu dan Embung Nglanggeran

Selain Gunung Api Purba, wisatawan juga bisa mengunjungi Kampung Pitu, sebuah perkampungan unik yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Kampung ini memiliki sumber mata air sakral bernama Tlaga Guyangan, yang dipercaya masyarakat setempat sebagai tempat pemandian kuda sembrani.

Dari puncak Kampung Pitu, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Yogyakarta serta Gunung Merapi dan Merbabu, sekaligus menjadi spot favorit untuk sunrise dan wisata minat khusus seperti tyrolean dan cliff swing. Sementara itu, Embung Nglanggeran menjadi destinasi favorit untuk menikmati pemandangan perbukitan dan genangan air yang berfungsi sebagai sumber irigasi sekaligus objek wisata.

Desa Wisata Berbasis Ekowisata dan Teknologi

Nglanggeran dikenal sebagai pelopor inovasi dalam pengelolaan desa wisata. Salah satunya adalah penerapan sistem e-ticketing sejak tahun 2016. Sistem ini dikembangkan untuk mengurangi penggunaan kertas, mempercepat pelayanan, meminimalkan kesalahan pencatatan, serta meningkatkan transparansi.

Data jumlah kunjungan diperbarui secara berkala dan dapat diakses publik melalui laman desa. Selain itu, melalui lokakarya penyusunan grand desain ekoeduwisata, BP2SDM Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjuk Desa Wisata Nglanggeran sebagai role model pengembangan hutan dan alam berbasis ekoeduwisata. Model pengelolaan ini nantinya menjadi acuan pengembangan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) di Indonesia.

Cokelat Lokal hingga Glamping

Desa Wisata Nglanggeran juga dikenal sebagai sentra olahan kakao melalui Griya Cokelat Nglanggeran, yang dikembangkan sejak 2014 dengan pendampingan lembaga riset dan pemerintah daerah. Wisatawan dapat belajar proses pengolahan kakao dari hulu ke hilir sekaligus membawa pulang produk cokelat sebagai oleh-oleh.

Untuk akomodasi, tersedia berbagai pilihan mulai dari homestay warga hingga Kedung Kandang Glamping, yang beroperasi sejak 2021. Terletak sekitar 1,5 kilometer dari Gunung Api Purba, glamping ini menawarkan pengalaman menginap di tengah hamparan sawah dan perbukitan dengan fasilitas setara hotel.

Dengan kekayaan alam, budaya, serta pengelolaan wisata yang berkelanjutan, Desa Wisata Nglanggeran menjadi contoh bagaimana desa dapat berkembang tanpa kehilangan jati diri.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan