
aiotrade
Dalam upaya memperkuat apresiasi terhadap warisan budaya sekaligus membuka ruang dialog lintas negara, berbagai institusi kerap menghadirkan program kolaboratif yang menyoroti kekayaan seni tradisi. Pameran-pameran bertema budaya menjadi salah satu wadah penting untuk mempertemukan masyarakat dengan karya, sejarah, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui pendekatan kreatif dan edukatif, kegiatan seperti ini tidak hanya memperluas wawasan publik, tetapi juga merayakan hubungan antarbangsa yang terjalin melalui seni dan pengetahuan.

Museum Nasional Indonesia menghadirkan pameran istimewa bertajuk “Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang” atau “Threading Across Time: Dyeing and Weaving of Indonesia and Japan”, yang berlangsung pada 25 Oktober hingga 7 Desember 2025. Pameran ini terselenggara melalui kolaborasi antara Museum Nasional Indonesia, Tokyo National Museum, Kementerian Kebudayaan, Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, serta Komunitas Jepang di Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon turut membuka pameran ini pada tanggal 24 Oktober 2025. Selama lebih dari satu setengah bulan, publik diajak menelusuri jejak panjang pertukaran budaya kedua negara melalui seni kerajinan dan wastra Nusantara, sebuah medium tradisional yang tidak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga identitas dan diplomasi kultural lintas zaman.

Melalui rangkaian aktivitas publik, workshop, dan instalasi koleksi, pengunjung dapat merasakan langsung bagaimana tradisi Jepang berinteraksi secara harmonis dengan kekayaan tekstil Indonesia.

Kolaborasi Wastra: Dialog Dua Negeri dalam Satu Panggung
Salah satu program unggulan adalah workshop “Let’s Get to Know Kimono: Collaborative Fashion Show between Indonesia and Japan”, yang menampilkan paduan indah antara kimono dan wastra Indonesia melalui karya dua tokoh penting:
- Fusami Ito, desainer tekstil asal Jepang yang telah mempelajari dan meneliti batik Indonesia sejak 1970-an, dikenal sebagai figur yang menjembatani pemahaman batik di Jepang melalui konsep batik renaissance dan kolaborasinya dengan para perajin Indonesia. Fusami Ito juga merupakan Ketua Asosiasi Seniman Lintas Budaya (CCAA).
- Nakamura Tomi, pemilik Kimono Gallery Yawara Jepang, yang mendedikasikan hidupnya untuk memperkenalkan kekayaan tekstil dan kerajinan daerah-daerah Jepang kepada publik internasional.
Dalam peragaan kolaboratif tersebut, kimono dari berbagai daerah Jepang tampil berdampingan dengan batik, songket, tenun, endek Bali, dan ulos Batak, merepresentasikan bahwa dalam setiap helai benang, tersimpan filosofi, doa, dan jejak sejarah para perajin dari kedua negeri.

Pertemuan Koleksi: Batik, Tenun Nusantara, dan Kimono Bersejarah
Sebanyak 26 koleksi wastra Jepang dari Tokyo National Museum dipamerkan di Museum Nasional Indonesia, termasuk:
- Kimono klasik dengan teknik Yuzen,
- Tekstil pewarnaan Shibori,
- Warna-warni Bingata dari Okinawa,
- Serta tekstil istana seperti Karaori dan Kinran dari Kyoto.
Koleksi-koleksi ini “berdialog” secara visual dengan ragam batik, tenun, dan songket Nusantara. Pertemuan ini tidak hanya menyoroti kemiripan teknik, tetapi juga mengajak pengunjung memahami bagaimana dua tradisi tekstil besar dunia menghadirkan narasi tentang keindahan, keuletan, filosofi dan nilai kehidupan masing-masing budaya.
Diplomasi Melalui Wastra Nusantara: Suara dari Penggerak Budaya Indonesia–Jepang
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Tokyo periode 2020–2025 sekaligus penggagas acara ini, Nuning Akhmadi, yang selama ini aktif mempromosikan pemahaman publik mengenai kimono dan wastra Indonesia, menegaskan pentingnya diplomasi berbasis tekstil.
“Wastra – baik batik, tenun maupun kimono—adalah bahasa budaya yang tidak diucapkan, tetapi dirasakan melalui sentuhan, warna, cara mengenakannya, dan terutama filosofi di baliknya. Semoga ini menjadi pengingat bahwa hubungan dua bangsa tidak hanya terpaut karena urusan politik dan ekonomi, tetapi juga karena kita lebih saling mengenal budaya dan seni masing-masing. Semoga ini mempererat persahabatan antara Jepang dan Indonesia,” ujar Nuning Akhmadi.
Fusami Ito, desainer tekstil yang telah lebih dari lima dekade mendalami batik Indonesia, turut mengisi sesi “Introduction to Kimono”. Pengunjung dapat mencoba secara langsung memakai kimono, yukata, dan haori di sesi ini. Di kesempatan ini, Fusami Ito turut memamerkan karyanya yaitu Kimono dengan motif Batik.
“Saya membuat kimono Jepang dengan menggunakan teknik tradisional batik, karena sepertinya belum pernah ada yang mencobanya. Meskipun teknik tradisional Jepang berbeda dengan teknik tradisional batik, keduanya sama-sama istimewa dan memiliki tingkat kesulitan yang sama,” ujar Fusami Ito.
Wastra Indonesia dan Kimono memiliki nilai yang sama, bahwa karya ini bukan hanya tentang mode, tetapi keduanya merepresentasikan soft power kedua bangsa yang melekat pada pariwisata, kebanggaan nasional, bahkan diplomasi budaya. Nakamura Tomi, melalui fashion show dan diskusi publik, menegaskan harapannya agar lebih banyak masyarakat Indonesia memahami filosofi di balik kimono, sekaligus melihat kesamaan sensitivitas estetika antara perajin Jepang dan pengrajin wastra Nusantara.
“Berkat dukungan banyak pihak, kami dapat menyelenggarakan peragaan busana istimewa ini, yang memadukan kain tradisional Indonesia dengan kimono Jepang, simbol budaya tradisional. Saya berharap perpaduan budaya Indonesia dan Jepang ini akan semakin mempererat persahabatan. Saya yakin hal ini akan berkontribusi pada pelestarian dan pengembangan budaya tradisional kedua negara,” ujar Nakamura Tomi.
Program Publik: Menghidupkan Dialog Budaya Secara Langsung
Pameran ini dilengkapi rangkaian program publik yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman budaya Jepang secara langsung, antara lain:
- Introduction to Kimono — sejarah, filosofi, dan perkembangan kimono; bersama Nuning Akhmadi, Fusami Ito, dan Nakamura Tomi.
- Sho-do (Japanese Calligraphy) — dipandu oleh Kashiwabara-sensei, mengajak pengunjung merasakan ketenangan dalam seni menulis Jepang.
- Workshop Origami — mengenal seni melipat kertas dan simbolisme paper crane sebagai lambang harapan dan perdamaian.
- Mizuhiki: Chopstick Cover Crafting — membuat penutup sumpit tradisional Jepang yang sarat makna seremonial.
- Furoshiki: Japanese Wrapping Method — teknik membungkus tradisional Jepang yang indah, fungsional, dan ramah lingkungan.
Rangkaian aktivitas ini dirancang untuk memperkaya pemahaman lintas budaya, sekaligus menegaskan bagaimana praktik artistik dan kerajinan dapat menjadi jembatan diplomasi yang hangat dan inklusif. Acara Threading Across Time - Jalinan Waktu: Pewarnaan dan Tenunan Wastra Indonesia dan Jepang masih akan berlangsung hingga 7 Desember 2025 di Museum Nasional. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk Museum Nasional dan pameran serta workshop ini dapat diikuti secara cuma-cuma. Pameran ini merangkum keindahan dan kedalaman wastra kedua negara, sekaligus menegaskan bahwa seni dan tradisi dapat menjadi jembatan yang menguatkan persahabatan Indonesia–Jepang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar