Menggugah Pengalaman Multisensoris di Pameran Memori Papila, Karya Bakmi Maju Tak Gentar

Menggugah Pengalaman Multisensoris di Pameran Memori Papila, Karya Bakmi Maju Tak Gentar

Kombinasi Rasa, Suara, dan Seni di Bakmi Maju Tak Gentar

Aroma kaldu bakmi Jawa yang terkenal gurih menguar di udara, bercampur samar dengan harumnya kopi yang baru diseduh. Namun, malam itu, Kamis (11/12/2025), di Bakmi Maju Tak Gentar, yang berlokasi di Wirobrajan, Kota Yogyakarta, indra pengunjung tak hanya dimanjakan oleh rasa.

Di bawah naungan atap joglo kuno yang temaram, alunan musik jazz yang syahdu dari gelaran rutin "Sinau Ngejazz" mengisi ruang dengar. Sementara, mata pengunjung ditarik menelusuri ruang galeri. Bukan daftar menu yang terpampang, namun deretan karya seni rupa yang menggugah tanya.

Sebuah lukisan berbentuk bulat menampilkan secangkir kopi dengan latte art detail, bersanding dengan kanvas lain yang memotret semangkuk mie ayam bakso dan nasi telur. Suasana malam itupun sontak terasa berbeda. Bakmi Maju Tak Gentar tengah melangsungkan sebuah pameran seni nan unik bertajuk 'Memori Papila.'

Bukan sekadar pameran visual, Saynediva Malika Putri, sang kurator, menuturkan, event mengajak pengunjung mengingat kembali momen masa lalu lewat indra pengecap. Sebanyak 10 seniman, yang seluruhnya berasal dari seputaran Yogyakarta, diboyongnya untuk menumpahkan memori kuliner mereka ke dalam karya.

"Papila itu bagian lidah yang berfungsi mengidentifikasi rasa. Konsepnya sederhana, kita sering mengingat momen tertentu, misal masakan ibu, hanya dari satu suapan rasa di lidah, itu yang coba kita angkat," ujarnya.

Uniknya, pameran bersifat multisensoris dan inklusif. Pengunjung diperbolehkan mengambil camilan-camilan klasik interaktif yang disediakan sembari menikmati karya. Karya yang dipajang pun beragam, mulai dari lukisan konvensional, seni digital, hingga karya mixed media yang turut merekam memori kuliner.

"Kira memberikan experience, bukan cuman visual. Jadi, seniman menceritakan tentang pengalaman-pengalaman mereka di makanan, yang ditumpahkan lewat visual," ucapnya.

Konsep Kuliner Kreatif

Sementara, bagi Sella Ayu Saraswati, pemilik Bakmi Maju Tak Gentar, pameran ini adalah wujud nyata dari konsep "Kuliner Kreatif" yang kini diusungnya. Perubahan besar dalam cara pandangnya mengelola bisnis sedikit banyak dipengaruhi oleh Inkubasi Bisnis Kawula Muda DIY 2025 yang diikutinya.

"Saya dari kecil hidup di lingkungan seni. Jadi, ingin give back to the community. Bagaimana caranya Bakmi Maju Tak Gentar memberdayakan seniman, tapi juga tetap menjual bakmi yang enak," katanya.

"Dulu Bakmi Maju Tak Gentar itu istilahnya 'asal pancal'. Jalan saja dulu. Sekarang, semangatnya tetap membara, tetap maju tak gentar, tetapi kita punya arah yang sudah lebih jelas," tambah Sella.

Adapun "Memori Papila" adalah pameran ketiga yang digelar tahun ini, setelah sebelumnya sukses dengan "Parade Hasil Bumi" dan "Quest of Mundane."

Transformasi yang Nyata

Transformasi terasa nyata. Kedai bakmi sederhana yang berlokasi di perkampungan di kawasan Lapangan Mancasan itu, kini menjelma menjadi ruang temu yang hangat. Di satu sisi, pengunjung bisa menikmati kelezatan bakmi Jawa yang otentik. Namun, di sisi lain, mereka disuguhi pengalaman artistik yang memanjakan mata dan telinga.

"Dari inkubasi kita belajar bagaimana mengelola SDM, termasuk untuk proyek non-profit seperti pameran seni yang butuh semangat nyengkuyung bareng-bareng seperti ini," cetusnya.

Pameran "Memori Papila" sendiri berlangsung sepanjang 11 - 25 Desember 2025, dengan jam operasional selama pukul 15.00 hingga 22.00 WIB. Bakmi Maju Tak Gentar menawarkan sebuah oase yang sayang untuk dilewatkan. Sebuah perpaduan rasa, suara, dan rupa yang menghangatkan hati di tengah hiruk pikuk Kota Pelajar.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan