Mengungkap Kehidupan Sekolah Rakyat: Siswa Bangun Pukul 4 Pagi dan Rindu Keluarga

Kehidupan Siswa di Sekolah Rakyat: Disiplin dan Harapan Masa Depan

Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6, yang berada di Cipayung, Bambu Apus, Jakarta Timur, menjadi salah satu contoh dari program pendidikan pemerintah yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan untuk menekan angka kemiskinan melalui jalur pendidikan gratis, berkualitas, aman, dan berasrama. Di sekolah ini, kehidupan siswa diatur dengan disiplin ketat sejak bangun pagi hingga tidur kembali.

Bangun Pagi Jam 4, Rutinitas Dimulai Sejak Fajar

Kepala Sekolah SRMP 6, Regut Sutrasto, menjelaskan bahwa pola hidup siswa diatur padat sejak bangun hingga tidur kembali. Siswa-siswi di sini terbiasa bangun pada pukul 04.00 pagi, beribadah bersama, belajar hingga sore hari, lalu menjalani pengasuhan malam.

Regut menyebutkan bahwa tantangan utama adalah bagaimana mengubah pola perilaku anak-anak, khususnya dalam hal keteraturan hidup. “Di awal-awal, anak-anak terbiasa tidur jam 23.00 dan jarang olahraga. Di SRMP 6, mereka dibiasakan tidur lebih awal, bangun pukul 04.00, beribadah, membersihkan kamar, lalu mengikuti pelajaran,” jelasnya.

Baris Sebelum Makan, “Lapor Siswa Siap Makan!”

Rutinitas disiplin tidak berhenti di pagi hari. Setiap jam makan siang, puluhan siswa keluar dari kelas dan langsung berbaris di dua koridor berbentuk huruf “L”. Chief — ketua piket harian — memimpin pengecekan jumlah dan kerapian barisan. Barisan rapi kemudian bergerak menuju ruang makan, di mana meja dan kursi disusun melingkar agar semua siswa saling berhadapan.

Sebelum makan, seorang chief memberi hormat kepada guru dan melaporkan: “Lapor, siswa-siswi SRMP 6 yang berjumlah 69 siap makan!” Seorang guru menjawab singkat, “Laksanakan.” Doa dipimpin, lalu makanan disantap bersama.

Disiplin Ala Militer, Kepala Sekolah Jelaskan Tujuan

Pola baris sebelum makan meniru gaya militer untuk melatih kepemimpinan. Regut menjelaskan bahwa gaya tersebut mengikuti gaya TNI, sehingga terbentuk disiplin anak-anak. Selain pendidikan akademik dan ekstrakurikuler, keteraturan hidup menjadi fokus utama.

Tantangan terbesar di Sekolah Rakyat adalah membuat anak terbiasa dengan pola baru. Sejak Juli 2025, lima dari 75 siswa memilih mengundurkan diri karena tidak kerasan. Kini, sekitar 70 siswa bertahan dan mulai terbiasa dengan pola hidup disiplin.

Rindu Orang Tua, Siswa Belajar Mandiri di Asrama

Di balik pola ketat yang dijalani setiap hari, ada sisi emosional yang tak kalah penting. Meski fasilitas makan tiga kali sehari, camilan dua kali, dan teknologi belajar tersedia, kerinduan pada orang tua tetap terasa kuat.

Afriza, salah satu siswa, mengaku sempat menangis setiap malam. “Kalau pertama datang ke sini, kangen, nangis. Setiap malam enggak bisa tidur,” ungkap Afriza. Zahwa, siswa lain, memilih menahan tangis dengan mengingat tujuan utama. “Kalau kangen pastinya ada. Tapi aku enggak pernah nangis. Karena tujuan utamaku di sini belajar, dan mama maunya aku sukses,” kata Zahwa.

Suara Orang Tua: Faktor Biaya dan Harapan

Tidak hanya siswa, orang tua juga merasakan dampak program ini. Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Jakarta Timur, 14 Juli 2025, sejumlah orang tua siswa menyampaikan pandangan mereka.

Seorang ibu bernama Kustini mengatakan anaknya sebelumnya bersekolah di swasta namun pindah ke Sekolah Rakyat karena faktor biaya, dan ia merasa senang anaknya diterima di sekolah ini. Sementara itu, Abdul Azis, orang tua lain, menekankan bahwa ia membebaskan anaknya memilih sekolah, dan melihat Sekolah Rakyat sebagai alternatif yang lebih terjangkau dibanding sekolah formal di tempat asalnya.

Di Balik Disiplin, Ada Rindu dan Harapan

Kehidupan di SRMP 6 bukan sekadar rutinitas disiplin ala militer. Di balik barisan rapi dan laporan sebelum makan, ada cerita tentang anak-anak yang belajar mandiri, menahan rindu, dan berjuang demi masa depan. Disiplin yang ditanamkan sejak dini menjadi bekal, sementara kerinduan pada orang tua mengingatkan bahwa pendidikan selalu berakar pada nilai kemanusiaan.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan