
Sejarah dan Trauma Pulau Babi Pasca Tsunami 1992
Pulau Babi, yang terletak di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dulu dikenal sebagai destinasi wisata alam yang indah. Dikelilingi oleh laut yang jernih, ikan berwarna-warni, dan terumbu karang yang menarik, pulau ini memiliki pesona yang memikat. Namun, kini pulau tersebut menjadi kenangan yang pahit bagi warga setempat. Setelah bencana tsunami pada 12 Desember 1992, yang menewaskan lebih dari 300 jiwa, warga tidak lagi berani tinggal di sana.
Bencana yang terjadi pada tanggal tersebut membuat warga Pulau Babi tidak berani tinggal di pulau yang berada sekitar 5 kilometer dari utara Pulau Flores. Di Pulau Babi hanya tersisa gubuk-gubuk sederhana yang digunakan sebagai tempat persinggahan sementara bagi warga yang ingin melihat kembali kampung halaman mereka.
Setelah peristiwa tersebut, warga Pulau Babi diungsikan ke Desa Nangahale, Kecamatan Talibura. Hingga saat ini, warga masih tinggal di sana dengan mata pencaharian rata-rata sebagai nelayan. Meskipun begitu, beberapa warga tetap kembali ke Pulau Babi untuk berkebun, memberi makan ternak, dan mencari ikan.
Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menjelaskan bahwa terdapat 95 kepala keluarga yang merupakan warga Desa Nangahale, Kecamatan Talibura yang sering kembali ke Pulau Babi. Namun, mereka tidak menetap di sana. "Setelah melihat hewan ternak dan mencari ikan, mereka langsung kembali ke Nangahale," ujarnya.
Warga masih trauma terhadap peristiwa tersebut, namun sesekali mereka kembali ke Pulau Babi untuk melihat kenangan masa lalu. Pulau dengan diameter 2,5 kilometer itu memiliki kenangan tersendiri bagi warga. Beberapa waktu lalu, tim berita bersama Kepala Desa Nangahale, Sahanudin, menyempatkan diri berangkat ke Pulau Babi melewati pesisir pantai wilayah Nebe. Perjalanan hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dan berlabuh di Pulau Babi.
Di Pulau itu, hanya tersisa puing-puing rumah warga yang tersapu tsunami, rumah hanya tersisa tiang dan fondasi, sedangkan beberapa kuburan pun rata dengan tanah. Gempa dan tsunami yang melanda wilayah Flores, khususnya Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 12 Desember 1992 mengisahkan cerita pahit peristiwa kelam itu.
Kekuatan gempa dan tsunami kala itu sempat menenggelamkan Pulau Babi yang berada di wilayah pantai utara Kabupaten Sikka. Pulau Babi disebutkan menjadi pusat gempa. Peristiwa alam itu menewaskan kurang lebih 2.000 orang warga Kabupaten Sikka. Namun, duka tsunami itu mulai terhapus. Pulau Babi yang dulu dinyatakan hilang, kini menjadi Taman Wisata Alam Laut (TWAL) yang dikenal dengan nama Teluk Maumere.
Tsunami yang mengakibatkan patahan pada dasar laut Pulau Babi yang berbentuk jurang, dengan panjang 100 meter dan kedalamannya mencapai 10-20 meter. Patahan laut ini merupakan episentrum ketika tsunami melanda. Warga Pulau Babi, wilayah Kecamatan Alok Timur yang selamat direlokasi ke pemukiman yang dibangun pemerintah di Desa Nangahale, Kecamatan Talibura.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar