Kehidupan Seorang Petani di Desa Tunas Mudo
Sanubi (39) berjalan keluar dari kantor desa. Sesampai di rumah, dia mengganti seragam cokelatnya jadi kaus oblong. Setelah 15 menit beristirahat sembari minum, dia berdiri sembari tangannya menyambar caping yang digantung di dinding dan cangkul yang ada di bawahnya.
Sebagai kepala dusun di Desa Tunas Mudo, Kecamatan Sekernan, Kabupaten Muaro Jambi, urusan administrasi desa sudah menjadi rutinitas Sanubi. Sementara di tempat yang tak jauh dari kantornya, peran lain menunggunya. Sebagai petani hortikultura, sekaligus ketua kelompok tani.
Kebun Sanubi berjarak sekira 500 meter dari kantor desa. Akses ke sana berupa jalan setapak, dengan hamparan karet dan sawit di kiri dan kanannya. Di wilayah itu, hanya sedikit warga yang memilih bertani hortikultura.
Sanubi memilih tanaman pare sebagai komoditas utama, dan jagung dengan sistem tumpang sari di sela-selanya. "Jagung ini tempat lewat waktu panen pare," ujarnya sambil menunjuk jalur-jalur di antara barisan tanaman. Baginya, bertanam tumpang sari menjadi cara untuk menyeimbangkan penghasilan. Saat harga pare turun, hasil panen jagung bisa menutup kebutuhan sehari-hari.
Pare mulai dipetik sekitar 45-50 hari setelah tanam. Panen berlangsung hampir dua bulan, dengan interval dua hari sekali. Dari lahan sekitar 35 tumbuk, Sanubi bisa mendapat panen enam ton lebih. "Yang jelas di atas enam ton," ujarnya.
Hitung-hitungan Petani vs Kenyataan
Untuk menghasilkan panen tersebut, modal awal yang dikeluarkan tidak sedikit. Sanubi memperkirakan total biaya awal berkisar Rp25 juta-30 juta. "Itu untuk bibit, pupuk, obat-obatan, pupuk kandang, tali, kawat, sampai ongkos kerja," lanjutnya. Sarana seperti lanjar, tali, dan kawat, bisa digunakan hingga dua tahun.
Dari angka yang disebutkan Sanubi, dalam satu kali panen, hampir seluruh modal yang dikeluarkan bisa balik. Biaya selanjutnya, hanya pengeluaran kecil untuk bibit dan pupuk. Dalam pemupukan, Sanubi menerapkan pola bertahap. Pada awal pertumbuhan, pupuk dengan kandungan nitrogen tinggi digunakan untuk mendukung fase vegetatif. Saat tanaman mulai berbuah, pupuk dengan kandungan kalium dan kalsium ditingkatkan agar buah tidak mudah rontok dan busuk.
Pemupukan dilakukan dengan metode kocor manual. Dalam satu kali pemupukan, ia menggunakan sekitar 400 liter air yang dicampur pupuk. Hitung-hitungannya, dalam satu musim tanam, kebutuhan pupuk mencapai sekira 100 kilogram. "Pupuk, belinya di toko pertanian, bukan pupuk subsidi," katanya.
Ilmu Mencampur dan Penanda
Sanubi juga mulai mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Ia mencampurnya dengan bahan organik seperti asam humat dan pupuk cair hasil fermentasi. Bahan-bahannya antara lain urin kambing, molase, dan mikroorganisme lokal. Pengetahuan itu diperolehnya dari pelatihan kelompok tani bersama penyuluh.
"Kalau sepenuhnya organik, kami belum berani," katanya. Alasan utama masih pupuk campuran, karena risiko serangan lalat buah masih tinggi. Karena itu, langkah yang diambil baru sebatas mengurangi pupuk kimia, bukan menghentikannya. Di sela-sela tanaman, tampak jamur tumbuh di permukaan tanah. Bagi Sanubi, itu menandakan kondisi tanah masih sehat.
"Jamur hidup kalau unsur hara tanah masih tepat," ujarnya.
Tantangan Harga
Tantangan terbesar yang dihadapi petani hortikultura seperti Sanubi adalah harga pupuk. Pupuk nonsubsidi harganya jauh lebih mahal, sementara pupuk subsidi jenis dan kadarnya terbatas dan lebih cocok untuk tanaman padi. "Sebabnya, kalau hortikultura, kebutuhannya beda," ujarnya. Dulu, sebelum fokus ke kebun hortikultura, Sanubi juga pernah menggarap sawah. Namun, keterbatasan air membuat sawah di wilayahnya hanya bisa ditanam sekali setahun. Hasilnya hanya cukup untuk konsumsi keluarga.
Setelah melalui pertimbangan panjang dan belajar, Sanubi memutuskan beralih fokus ke kebun hortikultura. Untuk pekerjaan penting seperti penyemprotan dan pemupukan, Sanubi memilih mengerjakannya sendiri bersama istrinya. Alasannya sederhanya, dia merasa hanya dirinya yang benar-benar memahami kondisi tanaman.

Keluhan soal biaya produksi pertanian yang semakin berat, juga diungkapkan petani sayuran di Desa Tunas Mudo, Ernawati (54). Dia bilang, itu akibat harga pupuk dan obat-obatan yang terus naik dan tidak stabil. Perkiraannya, dalam satu kali masa tanam, petani harus menggunakan beberapa jenis pupuk dengan takaran berbeda-beda, menyesuaikan usia tanaman dan kondisi harga di pasaran.
"Kalau pupuk itu bertahap. Awal tanam pakai pupuk dasar, lalu naik lagi pupuk kedua, ketiga, sampai pupuk buah. Bisa sampai 10-15 kilogram untuk satu drum 200 liter, tergantung kondisi tanaman dan harga jual," ujar Ernawati, Jumat (19/12/2025).
Menurutnya, saat harga hasil panen tinggi, petani masih bisa memaksimalkan pemupukan. Namun, ketika harga turun, petani terpaksa mengurangi dosis karena biaya tak sebanding dengan hasil. "Sekarang harga timun cuma Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogram. Kalau segitu, cuma pas-pasan, kadang malah nombok," kata Ernawati.
Selain pupuk, biaya obat hama juga menjadi tantangan besar. Harga obat pertanian terus melonjak, sementara serangan hama dan penyakit tanaman sulit diprediksi. "Obat-obatan mahal. Yang murah Rp45.000, ada juga yang sampai Rp150.000. Padahal tetap harus dibeli, karena, kalau tidak, tanaman rusak," ungkapnya.
Ernawati mengaku sudah lama mencoba mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dengan belajar dari sesama petani dan toko pertanian, termasuk mengenal pupuk organik dan sistem pemupukan bertahap. "Belajar itu lama, dari tahun ke tahun. Kita tanya keluhan di lapangan, dicari solusinya. Tapi tetap saja, kalau harga jual tidak bagus, petani yang stres," katanya.
Menurut Ernawati, proses bertani membutuhkan waktu panjang dan modal besar. Mulai dari pengolahan lahan, pemupukan dasar, hingga masa panen, bisa memakan waktu hingga empat bulan. "Bertani ini bukan kerja singkat. Modal jalan terus, hasil belum tentu sebanding. Kalau panen cuma dapat sedikit, habis untuk biaya angkut dan operasional," ujarnya.
Ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah, terutama soal stabilitas harga pupuk, ketersediaan subsidi, dan perlindungan harga hasil panen petani. "Kalau pupuk dan obat bisa lebih terjangkau, petani masih bisa bertahan. Tapi kalau semua mahal, sementara harga panen jatuh, kami yang paling berat," pungkasnya.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar