
Kepedulian Menteri Koordinator Infrastruktur dalam Bantuan Bencana Aceh
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), secara langsung memantau pengiriman bantuan pangan ke wilayah-wilayah yang terdampak banjir dan longsor di Aceh. Dari Pelabuhan Belawan, Medan, AHY melepas keberangkatan KRI Sutedi Senaputra–378 milik TNI Angkatan Laut yang membawa 50 ton beras ke Lhokseumawe dan Idi Rayeuk.
Selanjutnya, AHY terbang dari Lanud Suwondo menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara dengan muatan 13 ton beras Bulog menuju Bandara Rembele di Kabupaten Benermeriah. Daerah ini menjadi salah satu yang paling parah terdampak bencana sejak Rabu, 26 November 2025. Banyak jembatan rusak, berbagai ruas jalan amblas, pasokan BBM terhenti, listrik padam, dan jaringan komunikasi lumpuh. Stok pangan juga menipis.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Benermeriah, Iwan Pasha, mengatakan bahwa masyarakat terkurung. Dari sepuluh kecamatan, tujuh di antaranya terisolasi. Jika tidak melalui udara, warga tidak bisa keluar, kecuali berjalan kaki selama satu hari ke Lhokseumawe atau tiga hari ke Bireuen.
Iwan bersama Ketua DPRK Benermeriah Muhammad Saleh menyampaikan bahwa belum ada bantuan dari pemerintah daerah karena jalur distribusi terputus dan rusak parah. Bantuan baru datang dari pusat ke kawasan transmigrasi Samarkilang menggunakan helikopter.
“Jalan putus total, yang kita lewati ini jalur alternatif, baru saja dibikin. Di beberapa kecamatan banyak yang lebih parah. Kendala kami saat ini, tenaga kesehatan belum bisa mengevakuasi korban. Obat-obatan belum disalurkan. Bahan bakar untuk alat berat tidak ada, SPBU tutup semua,” ujarnya.
AHY menegaskan akan mengawal penanganan tanggap darurat, termasuk memastikan bantuan logistik dapat menjangkau wilayah-wilayah yang masih terisolir secara cepat dan tepat. KRI Sutedi Senaputra–378 menempuh perjalanan sekitar 17-18 jam menuju Lhokseumawe, kemudian 5 jam menuju Idi Rayeuk, dua wilayah yang hingga kini masih mengandalkan pasokan logistik jalur laut.
“Semua bantuan dari Pak Presiden untuk masyarakat yang terisolir dan membutuhkan bantuan. Ada juga sembako lainnya, termasuk mi instan dan obat-obatan,” kata AHY.
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah terus mengawal penanganan tanggap darurat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menurut AHY, dampak bencana kali ini tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menimbulkan korban jiwa serta beban fisik dan psikologis bagi masyarakat. Kondisi ini menuntut respons cepat dan terpadu untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapat perlindungan dan bantuan yang dibutuhkan.
“Kita kawal proses tanggap darurat bencana di tiga provinsi ini. Cukup banyak kabupaten dan kotanya yang terdampak langsung,” ucap AHY.
Bupati Benermeriah Tagore Abubakar mengirim surat kepada kepala Badan Pangan Nasional memohon bantuan bahan pangan darurat pada 28 November 2025. Tagore menyatakan kabupatennya berstatus tanggap darurat bencana sejak 26 November sampai 9 Desember 2025. Kondisi darurat itu ditetapkan karena jalur utama putus total sehingga mengganggu distribusi logistik dan kebutuhan masyarakat.
Akses jalan menuju 10 kecamatan sulit dilalui akibat banjir bandang dan longsor yang merusak jalan dan jembatan. Dampak bencana membuat 177.967 jiwa terisolir dan 37.306 orang mengungsi di 27 lokasi.
Sampai Ahad sore, 30 November 2025, BNPB mencatat 96 jiwa meninggal dunia dan 75 orang hilang, tersebar di Benermeriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Timur, Lhokseumawe, Gayolues, Subulussalam, dan Naganraya. Jumlah pengungsi mencapai 62.000 kepala keluarga.
Jalur-jalur utama masih terputus total, termasuk perbatasan Sumatera Utara-Acehtamiang, jembatan Meureudu di perbatasan Pidie Jaya–Bireuen, serta jalan nasional di Gayolues, Aceh Tengah, dan Benermeriah. Akses Subulussalam-Aceh Selatan masih tergenang tanpa jalur alternatif. Pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum terus melakukan percepatan perbaikan infrastruktur vital tersebut.
BNPB mengaktifkan perangkat komunikasi darurat Starlink di Gayolues, Aceh Tengah, Benermeriah, Lhokseumawe, dan Acehtamiang. Mobilisasi perangkat ke wilayah lain masih berlangsung. Sebanyak 11 dari 17 kabupaten dan kota sudah menerima bantuan logistik. Operasi udara dari Lanud SIM telah melakukan lima sorti, sementara pengiriman dari Kualanamu dan jalur laut juga terus berjalan.
Bantuan Presiden berupa 28 unit Starlink, 28 genset, 20 perahu karet, serta paket makanan dan tenda telah diterima dan sebagian didistribusikan. Penguatan buffer stock juga disiapkan untuk kebutuhan respons lanjutan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan juga telah dijalankan. Tiga helikopter TNI dan satu helikopter yang berada di Kualanamu dikerahkan untuk pengiriman logistik ke wilayah yang terputus akses daratnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar