Menuju Bintang, Kampung Tenggelam dalam Lumpur dan Pelukan Haru Ceh Didong

Menuju Bintang, Kampung Tenggelam dalam Lumpur dan Pelukan Haru Ceh Didong

Perjalanan Menembus Bencana

Cuaca cerah menjadi penanda awal perjalanan yang dilakukan oleh Tim Desember Kopi Gayo dari Takengon menuju Bintang. Pagi itu, langit tampak bersahabat setelah sehari sebelumnya diguyur hujan. Kondisi jalan yang mulai kering memberikan kesempatan bagi tim untuk melintasi jalur yang sebelumnya terganggu oleh banjir.

Abang Aman Syaiful dan Ceh Didong Bujang Juare Mengaya menggambarkan betapa banjir bandang menyeret ribuan kubik kayu, meninggalkan luka besar di kampung-kampung. Perjalanan ini bukan sekadar tentang kilometer, tetapi juga tentang perasaan yang terluka akibat bencana alam.

Mobil Toyota Avanza yang membawa tim bergerak perlahan meninggalkan Hitam Putih Kafe pada pukul 10.00 WIB. Sebelum berangkat, mereka sempat menikmati kopi panas dan kue bohong sebagai ritual kecil sebelum menjemput kenyataan besar di Bintang. Di dalam mobil, Devie Matahari, Maestro Didong Ceh M Din, Azam Pegayon, dan saya sendiri duduk sambil memandang pemandangan yang terbentang di sepanjang jalan.

Di depan, Abang Aman Syaiful menyetir, sedangkan Ceh M Din duduk di sampingnya. Di pinggir jalan, Pertamax eceran Rp 16 ribu per liter disiapkan. Selebihnya, mereka isi dengan doa. Mobil melaju melewati Belang Kolak II, Gedung Olah Seni, DPRD Aceh Tengah, Kantor Bupati, dan belok kanan di depan Polres menyusuri Jalan Lebe Kader, Simpang Lima, Malim Dewa, lalu menyeberang Totor Bale jembatan rangka baja yang menghubungkan Kampung Hakim Bale dengan kota.

Di Dedalu, longsoran tampak menganga di punggung Bur Telege, seperti luka yang belum sembuh. Kafe Bu Lena, ikon rasa Gayo terhantam lumpur. Sawah membentang cokelat, basah, tebal. Di tikungan, runtuhan tebing masih mengalirkan air.

“Kemarin hujan, ragu kita melintas. Sekarang cerah,” kata Abang Aman Syaiful. Tetap waswas. Lumpur licin di kiri-kanan jalan. Pedemun. Ada posko. Sawah kembali terendam. Sedikit lagi Toweren.

Abang Aman bercerita tentang kampung yang remuk. Dari kejauhan, kayu-kayu besar tampak lintang-pukang. Mendekat, kerusakan menjadi nyata. Kami berhenti sejenak, merekam dengan kamera ponsel. Tak terbayang bagaimana banjir bandang mengangkat ribuan kubik kayu, menyeretnya ke danau.

“Kayu-kayu itu hanyut ke danau,” ucap Abang Aman lirih. Ia Ceh Didong Bujang Juare Mengaya, pencerita ulung yang hari itu suaranya tertahan. Rawe pun sama perihnya. Kayu dan lumpur di mana-mana. Banyak kampung sepanjang jalur Takengon–Bintang yang terluka.

Bewang longsor. Jalan licin, sebagian amblas. Telpam rusak parah rumah dihantam lumpur, jalan hancur, sekitar 30 rumah di tepi jalan remuk. Lumpur tebal masuk masjid. Nosar rusak. Kampung Kalang, Kampung pelangi tak lagi berwarna banyak rumah hancur, kayu bergelimpangan.

Bintang kian dekat. Kami menuju rumah Ceh Didong Kasman, Lut Tawar Jaya. Abang Aman sempat lupa-lupa ingat jalannya. Namun rasa haru tak pernah salah alamat. Ceh Kasman menyambut dengan pelukan. Ia memeluk erat Ceh M Din dan Azam. Dua sahabat yang pernah menjadi juri Festival Negeri Linge, yang pernah berjalan kaki dari Linge ke Bintang dua hari tiga malam menembus longsor dan ketakutan. Kasman bercerita tentang langkah-langkah yang berat, malam yang dingin, dan harapan yang digenggam agar sampai.

Saat bantuan hasil sumbangan para seniman Jakarta dan The Atjeh Connection Foundation diserahkan, Kasman terdiam. “Terima kasih…” katanya lirih. Matanya basah. Di ruang kecil itu pelukan bertemu menjadi saksi bahwa di tengah bencana, seni dan kemanusiaan masih saling menguatkan.

Dari kediaman Ceh Kasman kami menuju kediaman Ceh Erul. Ceh Musara Bintang. Ia harus. Beras dan amplop ia terima dengan penuh syukur. Salam kepada seniman Jakarta, katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan