Menuju Bintang, Kampung tertimbun lumpur dan pelukan haru Ceh Didong

Menuju Bintang, Kampung tertimbun lumpur dan pelukan haru Ceh Didong
Ringkasan Berita:
  • Tim Desember Kopi Gayo berangkat dari Takengon menuju Bintang, cuaca cerah memberi kesempatan melintas jalur yang sebelumnya diguyur hujan.
  • Abang Aman Syaiful dan Ceh Didong Bujang Juare Mengaya menggambarkan betapa banjir bandang menyeret ribuan kubik kayu, meninggalkan luka besar di kampung-kampung.
  • Bantuan dari seniman Jakarta dan The Atjeh Connection Foundation diserahkan, membuat Kasman terdiam dengan mata basah.

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah

nurulamin.pro, TAKENGON - “Cuaca cerah. Sebaiknya kita segera berangkat. Kalau hujan, kita khawatir. Jalan licin dan longsor,” ujar Abang Aman Syaiful, Sabtu (3/1/2026).

Kalimat singkat itu menjadi penanda awal perjalanan yang bukan sekadar lintasan kilometer, tetapi lintasan perasaan.

Pagi Takengon tampak bersahabat. Berbeda dengan sehari sebelumnya yang diguyur hujan, langit kali ini membuka jalan.

Arloji menunjukkan pukul 10.00 WIB, saat Toyota Avanza bergerak perlahan meninggalkan Hitam Putih Kafe.

Kopi panas dan kue bohong baru saja dituntaskan ritual kecil sebelum menjemput kenyataan besar di Bintang.

Tim Desember Kopi Gayo di dalam mobil, Devie Matahari, Maestro Didong Ceh M Din, Azam Pegayon dan saya sendiri.

Di depan, Abang Aman Syaiful menyetir, Ceh M Din duduk di sampingnya.

Di pinggir jalan, Pertamax eceran Rp 16 ribu per liter 20 liter diisi. Selebihnya, kami isi dengan doa.

Mobil melaju melewati Belang Kolak II, Gedung Olah Seni, DPRD Aceh Tengah, Kantor Bupati.

Di depan Polres belok kanan, menyusuri Jalan Lebe Kader, Simpang Lima, Malim Dewa, lalu menyeberang Totor Bale jembatan rangka baja yang menghubungkan Kampung Hakim Bale dengan kota.

Di Dedalu, longsoran tampak menganga di punggung Bur Telege, seperti luka yang belum sembuh.

One-one menyambut dengan sunyi yang ganjil. Kafe Bu Lena, ikon rasa Gayo terhantam lumpur.

Sawah membentang cokelat, basah, tebal. Di tikungan, runtuhan tebing masih mengalirkan air.

“Kemarin hujan, ragu kita melintas. Sekarang cerah,” kata Abang Aman Syaiful.

Tetap waswas. Lumpur licin di kiri-kanan jalan. Pedemun. Ada posko. Sawah kembali terendam. Sedikit lagi Toweren.

Abang Aman bercerita tentang kampung yang remuk. Dari kejauhan, kayu-kayu besar tampak lintang-pukang.

Mendekat, kerusakan menjadi nyata. Kami berhenti sejenak, merekam dengan kamera ponsel.

Tak terbayang bagaimana banjir bandang mengangkat ribuan kubik kayu, menyeretnya ke danau.

“Kayu-kayu itu hanyut ke danau,” ucap Abang Aman lirih.

Ia Ceh Didong Bujang Juare Mengaya, pencerita ulung yang hari itu suaranya tertahan.

Rawe pun sama perihnya. Kayu dan lumpur di mana-mana. Banyak kampung sepanjang jalur Takengon–Bintang yang terluka.

Bewang longsor. Jalan licin, sebagian amblas. Telpam rusak parah rumah dihantam lumpur, jalan hancur, sekitar 30 rumah di tepi jalan remuk.

Lumpur tebal masuk masjid. Nosar rusak. Kampung Kalang, Kampung pelangi tak lagi berwarna banyak rumah hancur, kayu bergelimpangan.

Bintang kian dekat. Kami menuju rumah Ceh Didong Kasman, Lut Tawar Jaya.

Abang Aman sempat lupa-lupa ingat jalannya. Namun rasa haru tak pernah salah alamat.

Ceh Kasman menyambut dengan pelukan. Ia memeluk erat Ceh M Din dan Azam.

Dua sahabat yang pernah menjadi juri Festival Negeri Linge, yang pernah berjalan kaki dari Linge ke Bintang dua hari tiga malam menembus longsor dan ketakutan. Kasman bercerita tentang langkah-langkah yang berat, malam yang dingin, dan harapan yang digenggam agar sampai.

Saat bantuan hasil sumbangan para seniman Jakarta dan The Atjeh Connection Foundation diserahkan, Kasman terdiam.

“Terima kasih…” katanya lirih. Matanya basah. Di ruang kecil itu pelukan bertemumenjadi saksi bahwa di tengah bencana, seni dan kemanusiaan masih saling menguatkan.

Dari kediaman Ceh Kasman kami menuju kediaman Ceh Erul. Ceh Musara Bintang. Ia harus. Beras dan amplop ia terima dengan penuh syukur. Salam kepada seniman Jakarta, katanya. (*) 

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan