Menuju Malam 2026, 7 Doa Lintas Agama Dilantunkan di Jepara

Menuju Malam 2026, 7 Doa Lintas Agama Dilantunkan di Jepara

Momen Spesial di Desa Plajan Saat Pergantian Tahun

Pada malam pergantian tahun menuju 2026, Desa Plajan, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara menjadi tempat yang penuh makna. Di bawah langit malam yang cerah, Bupati dan Wakil Bupati Jepara bersama pemuka agama dari berbagai latar belakang keagamaan serta masyarakat setempat mengadakan doa bersama di Pendopo Desa Plajan.

Satu hal yang membuat momen ini istimewa adalah partisipasi tujuh pemuka agama lintas agama. Tidak hanya tokoh dari Agama Islam, tetapi juga dari agama Kristen, Katholik, Hindu, Buddha, Khongucu, serta perwakilan penghayat kepercayaan. Mereka secara bergantian memimpin doa dengan keyakinan masing-masing, menciptakan suasana yang penuh kedamaian dan persatuan.

Selain doa bersama, para pemuka agama juga ikut serta dalam acara selamatan. Mereka menyantap makanan bersama dalam satu momen hangat yang menunjukkan kerukunan antarumat beragama. Malam tersebut menjadi simbol keharmonisan yang terjalin di tengah masyarakat Jepara.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo, menjelaskan bahwa pergantian tahun menjadi kesempatan untuk merefleksikan diri dan merayakan akhir tahun. Ia menekankan pentingnya doa bersama sebagai bentuk kebersamaan warga dari berbagai latar belakang keagamaan.

Tujuh tokoh lintas agama diberikan kesempatan untuk memimpin doa. Masing-masing memiliki peran sesuai dengan keyakinannya. Doa dari tokoh Islam dipimpin oleh K.H. Ali Mursyid, dari pemuka Kristen oleh Pendeta Danang Kristiawan, Katolik oleh Donatus Henry, Hindu oleh Arbyantoro, Buddha oleh Romo Kaspari, Khongucu oleh Budianto Kwee, serta perwakilan dari Penghayat Kepercayaan oleh Ismoyo Eko Nur Ratno.

Bupati menjelaskan bahwa doa bersama dipilih sebagai cara menyambut tahun baru tanpa perayaan seremonial. Hal ini dilakukan karena kondisi bangsa saat ini sedang menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana alam. Dengan harapan, doa bersama ini dapat memohon perlindungan bagi Kabupaten Jepara dari segala bentuk bencana dan hal-hal buruk.

"Doa lintas agama menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan menjaga ketenangan sosial. Momentum awal tahun patut diisi dengan doa dan sikap saling menghormati. Momentum ini untuk menjaga persatuan masyarakat Jepara," ujar Bupati usai kegiatan.

Witiarso, yang akrab disapa Wiwit, menjelaskan bahwa Desa Plajan dipilih sebagai tempat pelaksanaan doa lintas agama karena desa tersebut dikenal memiliki tingkat kerukunan antarumat beragama yang kuat. Masyarakat di dalamnya mampu mencerminkan kehidupan sosial yang harmonis dan rukun antar umat beragama.

Dengan harapan, dari Plajan bisa menjadi percontohan di tingkat nasional. "Plajan menjadi contoh kerukunan yang sudah dikenal luas. Kami berharap ini bisa menjadi teladan," tambahnya.

Wakil Bupati Jepara, M. Ibnu Hajar, menambahkan bahwa doa bersama lintas agama mencerminkan nilai-nilai toleransi yang telah tumbuh di masyarakat. Keterlibatan berbagai unsur menunjukkan semangat kebersamaan yang harus terus dirawat dan dijaga dengan baik.

Tokoh Lintas Agama yang Terlibat

  • Agama Islam: Dipimpin oleh K.H. Ali Mursyid
  • Agama Kristen: Dipimpin oleh Pendeta Danang Kristiawan
  • Agama Katholik: Dipimpin oleh Donatus Henry
  • Agama Hindu: Dipimpin oleh Arbyantoro
  • Agama Buddha: Dipimpin oleh Romo Kaspari
  • Agama Khongucu: Dipimpin oleh Budianto Kwee
  • Penghayat Kepercayaan: Dipimpin oleh Ismoyo Eko Nur Ratno

Peran Desa Plajan dalam Kerukunan

Desa Plajan tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya doa bersama, tetapi juga menjadi simbol kerukunan antarumat beragama. Masyarakat di sana berhasil menciptakan lingkungan yang harmonis dan saling menghormati. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan Desa Plajan bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam menjaga kerukunan dan toleransi.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan