
Menyambut Tahun 2026 dengan Refleksi dan Nilai
Pergantian tahun sering dianggap sebagai momen untuk merayakan perubahan, menetapkan resolusi, dan mengharapkan hal-hal baru. Namun, menyambut Tahun 2026 dari wilayah pinggiran Priangan, yang terdiri dari desa-desa di kaki gunung, hamparan sawah, dan kampung-kampung yang hidup dengan kesederhanaan, memberikan makna yang lebih dalam. Bukan sekadar bergerak cepat, melainkan bergerak dengan arah yang jelas.
Di Priangan, kehidupan tidak pernah terlepas dari nilai-nilai yang kuat. Ungkapan Sunda silih asih, silih asah, silih asuh bukan hanya pepatah, tetapi fondasi pembentukan manusia. Dari sanalah talenta tumbuh, bukan dari gemerlap fasilitas, tetapi dari kebiasaan, keteladanan, dan keuletan. Sayangnya, dalam arus modernisasi, talenta sering kali diidentikkan dengan kota, gelar, dan akses teknologi. Desa lalu diposisikan sebagai penonton, bukan pelaku.
Padahal, jika merujuk pada teori human capital, manusia adalah aset utama pembangunan. Namun, sebagaimana diingatkan para pemikir sosial, modal manusia tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh subur ketika ditopang oleh social capital: kepercayaan, solidaritas, dan nilai bersama. Di titik inilah desa-desa Priangan justru memiliki keunggulan yang sering luput dihitung. Gotong royong, musyawarah, dan etos kerja yang diwariskan lintas generasi membentuk karakter yang tahan uji.
Potensi Manusia dalam Pandangan Islam
Islam memandang potensi manusia sebagai amanah Ilahi. Al-Quran menegaskan, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (QS. At-Tin: 4). Ayat ini menghapus dikotomi pusat dan pinggiran. Setiap manusia, di mana pun ia hidup, membawa potensi kebaikan yang sama. Yang membedakan adalah bagaimana potensi itu dirawat dan diberi ruang.
Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya" (HR. Ahmad). Hadis ini terasa sangat kontekstual dengan kehidupan desa. Di Priangan, banyak talenta bekerja tanpa panggung: petani yang menjaga keberlanjutan pangan, guru madrasah yang mendidik dengan keterbatasan, pengrajin dan pelaku UMKM yang bertahan di tengah arus pasar bebas. Mereka mungkin tak viral, tetapi manfaatnya nyata.
Keadilan diabaikan, Peradaban akan Rapuh
Ibnu Khaldun, jauh sebelum istilah pembangunan menjadi bahasa kebijakan modern, telah mengingatkan bahwa peradaban dibangun oleh manusia yang berakar pada nilai dan solidaritas (ashabiyyah). Ketika ikatan sosial melemah dan keadilan diabaikan, peradaban akan rapuh dari dalam. Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Jika talenta desa terus terpinggirkan, tidak diberi ruang, dan dipaksa mengikuti ukuran yang asing maka yang kita bangun sejatinya hanyalah kemajuan semu.
Gus Dur pernah mengingatkan bahwa pembangunan sejati adalah pembangunan yang memanusiakan manusia. Kalimat yang tampak sederhana ini justru menyimpan kritik mendalam. Sudahkah kita memanusiakan talenta di desa dengan segala keunikan budaya, nilai, dan cara hidupnya atau justru memaksanya meniru standar kota yang sering kali memutus akar sosialnya? Menyambut Tahun 2026 dari pinggiran, khususnya dari tanah Priangan, pertanyaan ini layak direnungkan bersama.
Lima Pelajaran Penting dari Refleksi
Dari refleksi tersebut, ada lima pelajaran penting yang dapat kita petik sebagai bekal menatap tahun baru:
-
Talenta adalah amanah, bukan milik pribadi
Dalam budaya masyarakat Priangan, kemampuan selalu dilekatkan pada tanggung jawab sosial. Ungkapan hirup kudu mangpaat keur batur hidup dalam keseharian warga desa. Orang yang mampu justru dituntut lebih banyak memberi, bukan lebih banyak menuntut. Talenta tidak dipamerkan, melainkan diabdikan melalui kerja, keteladanan, dan pengabdian sunyi. Inilah amanah yang dijaga dengan rendah hati. -
Desa bukan pinggiran peradaban, melainkan akarnya
Priangan memahami desa sebagai sumber nilai dan kehidupan. Kota boleh tumbuh menjulang, tetapi desa menjaga arah dan keseimbangan. Peribahasa leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak mengingatkan bahwa jika akar dirusak, kehidupan akan runtuh. Tanpa desa, kota kehilangan manusia yang berakar, dan pembangunan kehilangan maknanya. -
Pendidikan sejati menyatukan ilmu dan akhlak
Di Priangan, pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Ia hidup di keluarga, madrasah, pesantren, dan lingkungan sosial. Anak-anak diajarkan sopan santun sebelum prestasi, adab sebelum ambisi. Peribahasa elpu tanpa adab, ibarat seuneu tanpa seuneuan menggambarkan ilmu tanpa akhlak yang justru membakar. Pendidikan sejati melahirkan kecerdasan yang meneduhkan dan bertanggung jawab. -
Kemajuan tanpa keadilan hanya memperlebar jurang
Masyarakat Priangan menolak kemajuan yang dinikmati sendiri. Prinsip ulah meunang sorangan menjadi kompas moral agar keberhasilan tidak meninggalkan yang lain. Ketika akses pendidikan, ekonomi, dan pengakuan hanya berputar di pusat, bonus demografi berubah menjadi kegelisahan sosial. Keadilan adalah syarat agar kemajuan benar-benar menjadi milik bersama. -
Tahun baru adalah momentum muhasabah, bukan sekadar resolusi
Budaya Priangan mengajarkan ketekunan dan kesabaran. Perubahan besar tidak lahir dari kegaduhan, melainkan dari konsistensi. Peribahasa laun-laun asal luyu menegaskan bahwa pelan bukan berarti salah arah. Tahun baru adalah waktu menata niat, mengukur diri, dan memperbaiki laku bukan sekadar menumpuk janji.
Tahun 2026 dari Priangan, Ajakan untuk Muhasabah
Menyambut Tahun 2026 dari Priangan sejatinya adalah ajakan untuk muhasabah bersama: sudahkah pembangunan kita adil, sudahkah talenta dimanusiakan, dan sudahkah nilai dijadikan fondasi? Sebab kemajuan tanpa akar akan mudah tumbang. Namun kemajuan yang berangkat dari desa, dirawat oleh nilai, dan diarahkan pada kemaslahatan bersama, akan tumbuh kokoh seperti bambu Priangan: lentur, kuat, dan memberi naungan. Di sanalah harapan itu bertumbuh pelan, senyap, tetapi pasti. Wallahu Alam.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar