Perjalanan Panjang Seorang Guru di Wilayah Perbatasan

Rasita Siregar, seorang guru yang tinggal di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya di Kepulauan Meranti, Riau, memiliki kisah luar biasa dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan yang sangat berat dan penuh tantangan hanya untuk mengajar siswa-siswinya.
Medan Ekstrem yang Harus Ditempuh
Setiap pagi, Rasita harus menyeberangi selat sebelum melanjutkan perjalanan darat menggunakan sepeda motor selama lebih dari satu jam melewati hutan bakau. Dalam unggahan media sosial, disebutkan bahwa ia sering bertemu dengan ular besar dan buaya. Meskipun demikian, ia tetap bersemangat dan tidak pernah merasa takut.
“Dari rumah ke sekolahan ya mesti nyeberang selat dulu, baru motoran lagi sekitar sejaman lewatin hutan bakau. Walau kadang ada aja yang ketemu, ya uler gede lah, buaya juga. Asal jangan buaya darat,” tulis akun @sayabangucok.
Unggahan tersebut mendapat respons yang sangat luas dari warganet. Banyak orang yang menyampaikan kekaguman atas dedikasi Rasita dan membuka kembali realitas pendidikan di daerah terpencil Indonesia.
Dedikasi dalam Menyelenggarakan Pendidikan
Rasita telah menjadi Kepala Sekolah TK Negeri Kadabu Rapat di Kepulauan Meranti sejak lebih dari tiga tahun lalu. Baginya, perjalanan melintasi laut dan hutan bukan hanya rutinitas, tetapi bagian dari tanggung jawab profesional.
“Kalau pas lagi musim hujan itu airnya bisa lebih tinggi lagi,” ujar Rasita saat diwawancarai. Ia juga menyebutkan ancaman satwa liar seperti ular dan buaya yang sering muncul di sekitar sekolah.
Untuk menjaga keselamatan murid-muridnya, Rasita membatasi area bermain anak-anak agar tidak sampai ke halaman depan. “Anak-anak diingatkan untuk tidak main sampai ke halaman depan. Biasanya anak-anak jangan main di sekitaran halaman di depan ruang kelas,” katanya.
Membangun Sekolah dari Kondisi Serba Terbatas
Saat pertama kali bertugas di TK Negeri Kadabu Rapat pada 2022, kondisi sekolah jauh dari kata layak. Atap bocor dan ruang kelas sering tergenang air saat hujan turun. Metode pembelajaran juga masih terbatas.
“Terus apa sih, di dalam kelas itu masih sangat minim. Proses pembelajaran pun masih berpusat pada guru, belum berpusat pada anak,” kata Rasita. Ia kemudian melakukan pembenahan dengan pengajuan fasilitas dan penataan ulang ruang belajar.
Kini, sekolah tersebut telah memiliki ruang kelas yang lebih memadai, perpustakaan mini, serta taman belajar yang mendukung tumbuh kembang anak usia dini.
Memperjuangkan Kesejahteraan Guru
Selain tantangan fisik, Rasita juga menghadapi masalah kesejahteraan guru. Saat pertama kali bertugas, sebagian guru belum menerima gaji dari sekolah. Meski begitu, para guru tetap mengajar dengan penuh dedikasi, bahkan sambil bekerja di sektor lain seperti bertani atau mengambil hasil alam.
Rasita mengatur ulang keuangan sekolah dengan pendekatan kolektif. “Ya udah habiskan aja, saya bilang begitu. 'Habiskan aja sisakan Rp 100.000 untuk beli misalnya keperluan beli air', karena di tiap kelas kita ada dispenser sekarang,” ujarnya.
Pada tahun ketiga, ia menaikkan iuran SPP demi menambah honor guru. “Tahun ketiga saya naikkan uang SPP dari 20 jadi 25. Nah, dapat lagi guru Rp 100.000 satu orang,” katanya.
Mengamankan Hak Administratif Guru
Selain soal gaji, Rasita juga memperjuangkan hak administratif guru-guru di bawah kepemimpinannya. “Pertama saya pindah ke situ saya kaget kan. 'Loh, kok belum punya NPTK', saya bilang gitu. Kan ngajarnya udah lama kan?” tuturnya.
Ia kemudian berkoordinasi dengan operator sekolah dan Dinas Pendidikan agar data guru dilaporkan ke pusat. Upaya tersebut membuahkan hasil. “Alhamdulillah tahun ini semuanya sudah PPPK, sudah sertifikasi,” ujar Rasita.
Dedikasi yang Mendapatkan Penghargaan
Dedikasi Rasita dalam memimpin sekolah di wilayah perbatasan membuatnya masuk nominasi GTK Hebat 2025. Baginya, pencapaian tersebut bukan semata soal penghargaan, melainkan bukti bahwa pendidikan di wilayah terpencil tetap bisa berkembang jika dikelola dengan komitmen.
“Tapi saya salut dengan Bunda guru di sekolah itu. Walaupun mereka dulunya tak bergaji, tak punya gaji gitu kan. Tapi mereka tetap semangat pergi ke sekolah,” katanya.
Kisah Rasita Siregar menjadi potret nyata perjuangan guru di perbatasan Indonesia–Malaysia, yang mempertaruhkan waktu, tenaga, dan keselamatan demi memastikan anak-anak di ujung negeri tetap mendapatkan hak pendidikan yang layak.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar