Merawat Kampung di Zona Merah Erupsi Gunung Lewotobi Laki Jelang Nataru

Merawat Kampung di Zona Merah Erupsi Gunung Lewotobi Laki Jelang Nataru

Suasana Sunyi di Dusun Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya

Suara mesin pemotong rumput memecah kesunyian kampung yang setahun lebih ditinggal mengungsi penghuninya akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Pemuda-pemuda seperti Aldi Lengari, Handro Witin, Batista Bean, dan Hule Puhun sedang memangkas rumput liar yang menjalar hingga badan jalan. Sementara itu, para pemuda lainnya membersihkan dengan parang, lalu menjumput rumput tersebut.

Penyintas tak tega melihat suasana Dusun Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya yang mati akibat bencana. Wilayah ini termasuk dalam kawasan risiko bencana erupsi di Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT. Jalanan yang mulanya sempit kini semakin terbuka karena rumput yang tumbuh liar. Namun, badan jalan masih tertutup material pasir. Warga berusaha membersihkan kampungnya dengan cara yang bisa dilakukan.

Jumat pagi ini mereka fokus memotong rumput di sudut-sudut kampung. Tanaman aneka jenis ini tak bisa dikendalikan pasca ditinggalkan penghuninya. Setahun lebih mereka tinggal di pengungsian, lalu dipindahkan ke Huntara III di Desa Konga, Kecamatan Titehena. Rasa rindu dan harapan membawa mereka merawat kampung.

"Merawat kampung sama saja mengobati trauma bencana. Ini tempat kami dilahirkan dan dibesarkan," ujar Ramon Witin, penyintas.

Ramon bersama teman-temannya datang dari Huntara III pukul 08.00 Wita, berjarak sekira 12 kilometer ke Padang Pasir. Mereka berinisiatif melaksanakan pembersihan di tanah kelahiran, apa lagi sebentar lagi merayakan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).

Sejak akhir 2024 hingga jelang penutupan 2025 ini, enam wilayah terdampak termasuk Hokeng Jaya bak tak ada kehidupan. Suasana sunyi di "kampung mati" itu semakin menyeramkan. Cuaca yang semula cerah mendadak berselimut mendung di lereng Lewotobi Laki-laki. Mereka masih melanjutkan pekerjaan ke bagian barat dusun.

Beberapa saat berselang, hujan intensitas rendah mengguyur Padang Pasir. Gemuruh terdengar menggelegar. Mereka memutuskan pulang. Khawatir akses jalan putus lantaran banyak titik banjir di Desa Dulipali yang berada di mata Jalan Trans Flores itu.

Pemerintah Desa Hokeng Jaya yang dipimpin Gabriel Bala Namang punya program Jumat Bersih. Dalam suasana bencana, warga desa pernah sekali membersihkan kampung. Kali ini tak berjalan lagi karena terhalang keadaan.

Desa Hokeng Jaya tak tersentuh banjir lahar setiap kali hujan. Berharap wilayah zona merah itu luput dari ancaman material yang tertumpuk di badan gunung, seperti hasil riset BNPB yang memaparkan ada lebih dari 3 juta ton kubik material berisiko banjir.

Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, melaporkan status gunung kini Level III atau Siaga. Statusnya diturunkan dari Level IV atau Awas. Dalam enam jam, 06.00 Wita sampai 12.00 Wita, Lewotobi Laki-laki mengalami 2 gempa hembusan, 4 gempa tremor non harmonik, 1 gempa tremor harmonik, 3 gempa vulkanik dalam, 1 gempa low frekuensi, dan 3 gempa tektonik jauh.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan