Merawat Kampung di Zona Merah Erupsi Lewotobi Jelang Natal 2025

Merawat Kampung di Zona Merah Erupsi Lewotobi Jelang Natal 2025

Kampung yang Ditinggalkan Kembali Dihidupkan

Di Dusun Padang Pasir, Desa Hokeng Jaya, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, NTT, suasana kampung yang ditinggalkan selama lebih dari setahun akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki mulai berubah. Para penyintas kini kembali ke kampung halaman mereka untuk membersihkan dan merawat tanah kelahiran.

Sejumlah pemuda seperti Aldi Lengari dan Ramon Witin terlihat sibuk memotong rumput liar serta membersihkan jalan kampung yang tertutup pasir. Mereka juga mengangkat material yang menumpuk di sepanjang jalan. Aktivitas ini dilakukan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi kampung yang kini terlihat sunyi dan sepi.

Warga yang sebelumnya tinggal di Huntara III Desa Konga kini kembali ke kampung asal mereka karena rindu dan ingin merawat tanah kelahiran menjelang Natal 2025. Pemuda-pemuda ini datang dari lokasi pengungsian dengan jarak sekitar 12 kilometer menuju Dusun Padang Pasir. Mereka melakukan pembersihan secara mandiri, meskipun hanya bisa melakukannya di bagian-bagian tertentu.

"Merawat kampung sama saja mengobati trauma bencana. Ini tempat kami dilahirkan dan dibesarkan," ujar Ramon Witin, salah satu penyintas yang ikut dalam kegiatan pembersihan tersebut.

Perubahan Suasana di Kampung Mati

Suara mesin pemotong rumput memecah kesunyian kampung yang setahun lebih ditinggalkan mengungsi penghuninya akibat erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki. Aldi Lengari, Handro Witin, Batista Bean, dan Hule Puhun memangkas rumput liar yang menjalar hingga badan jalan. Pemuda lainnya membersihkan dengan parang, lalu menjumputnya.

Jalanan yang mulanya sempit dihimpit rumput kini semakin terbuka. Sementara itu, badan jalan masih tertutup material pasir. Warga berusaha membersihkan kampungnya dengan cara yang bisa dilakukan.

Pada Jumat pagi ini, mereka fokus memotong rumput di sudut-sudut kampung. Tanaman aneka jenis ini tak bisa dikendalikan pasca ditinggalkan penghuninya. Setahun lebih mereka tinggal di pengungsian, lalu dipindahkan ke Huntara III di Desa Konga, Kecamatan Titehena. Rasa rindu dan harapan membawa mereka merawat kampung.

Ancaman Bencana dan Upaya Pemerintah

Sejak akhir 2024 hingga jelang penutupan 2025 ini, enam wilayah terdampak termasuk Hokeng Jaya bak tak ada kehidupan. Suasana sunyi di "kampung mati" itu semakin menyeramkan. Cuaca yang semula cerah mendadak berselimut mendung di lereng Lewotobi Laki-laki. Mereka masih melanjutkan pekerjaan ke bagian barat dusun.

Beberapa saat berselang, hujan intensitas rendah mengguyur Padang Pasir. Gemuruh terdengar menggelegar. Mereka memutuskan pulang. Khawatir akses jalan putus lantaran banyak titik banjir di Desa Dulipali yang berada di mata Jalan Trans Flores.

Pemerintah Desa Hokeng Jaya yang dipimpin Gabriel Bala Namang punya program Jumat Bersih. Dalam suasana bencana, warga desa pernah sekali membersihkan kampung. Kali ini tak berjalan lagi karena terhalang keadaan.

Status Gunung Lewotobi Laki-laki

Desa Hokeng Jaya tak tersentuh banjir lahar setiap kali hujan. Berharap wilayah zona merah itu luput dari ancaman material yang tertumpuk di badan gunung, seperti hasil riset BNPB yang memaparkan ada lebih dari 3 juta ton kubik material berisiko banjir.

Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-laki, melaporkan status gunung kini Level III atau Siaga. Statusnya diturunkan dari Level IV atau Awas.

Dalam enam jam, 06.00 Wita sampai 12.00 Wita, Lewotobi Laki-laki mengalami 2 gempa hembusan, 4 gempa tremor non harmonik, 1 gempa tremor harmonik, 3 gempa vulkanik dalam, 1 gempa low frekuensi, dan 3 gempa tektonik jauh.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan