
TANGERANG SELATAN, aiotrade
Masalah yang Terus Berlanjut: Tuntutan Warga terhadap TPA Cipeucang
Permasalahan yang terjadi di Kampung Curug Serpong kini semakin memicu kekhawatiran. Warga setempat menuntut penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang karena kondisi sampah yang terus bergeser hingga mendekati permukiman. Hal ini dikhawatirkan menjadi penyebab banjir dan gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar.
Sejak beberapa waktu lalu, warga mengeluhkan adanya gunungan sampah yang berada sangat dekat dengan rumah mereka. Kondisi ini juga diduga menyebabkan saluran air tertutup, sehingga berpotensi memicu banjir. Dalam beberapa bulan terakhir, dua RT yang berdekatan dengan TPA Cipeucang terkena dampak banjir, yang diduga akibat sampah yang menutupi aliran air.
Demo dan Enam Tuntutan Warga
Pada Senin (8/12/2025), warga melakukan aksi damai di Kantor UPT Cipeucang. Mereka membawa spanduk putih dengan tulisan “Tutup TPA Cipeucang!” serta kertas yang berisi enam tuntutan utama. Keenam tuntutan tersebut meliputi:
- Penutupan TPA Cipeucang per 8 Desember 2025
- Normalisasi aliran kali seperti kondisi awal
- Perapihan sampah di sekitar rumah warga
- Keberadaan alat berat yang siaga untuk mengerjakan perapihan saluran air dan lingkungan
- Penanganan lindi dan bau sampah
- Kejelasan terkait dampak kesehatan dan kompensasi bagi warga terdampak
Agus (50), salah satu warga yang tinggal paling dekat dengan gunungan sampah, mengatakan bahwa keluhan mereka sering diabaikan. Ia menjelaskan bahwa air lindi dari sampah telah jatuh ke tanah, sementara udara yang mereka hirup setiap hari membuatnya merasa sesak di dada.
Respons Pemkot Tangsel
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Hadi Widodo, mengakui tuntutan warga. Namun, ia menegaskan bahwa penutupan TPA Cipeucang tidak bisa dilakukan secara instan. Menurutnya, hal ini memerlukan koordinasi lintas instansi serta penyusunan kebijakan yang matang.
“Ada beberapa poin tuntutan warga termasuk penutupan lokasi TPA Cipeucang. Ini tentu tidak bisa serta-merta kita langsung tutup, kita perlu koordinasi ke berbagai pihak termasuk pimpinan,” ujar Hadi.
Ia menambahkan bahwa penutupan atau relokasi TPA memerlukan rencana jangka panjang dan anggaran besar. Saat ini, Pemerintah daerah sedang menyiapkan tahapan perencanaan, termasuk kajian teknis dan kesiapan pembiayaan.
Pembebasan Lahan sebagai Solusi
Di tengah desakan penutupan, Pemkot Tangsel mulai mengupayakan pembebasan lahan untuk warga yang tinggal paling dekat dengan area TPA. Tahap awal akan membebaskan lahan seluas 4.000 meter persegi dalam waktu dekat. Sisanya ditargetkan menyusul pada tahun depan, dengan total lahan yang disiapkan mencapai sekitar 3 hektar.
“Total sementara sekitar Rp 50 miliar, bidangnya banyak. Kita saat ini sedang menyusun perencanaan, DPPT, appraisal, dan seterusnya,” jelas Hadi.
Meski demikian, bagi warga, langkah tersebut belum menjawab kebutuhan mendesak. Mereka berharap penanganan awal dilakukan segera agar lingkungan kembali aman ditinggali.
Ancaman Aksi Lanjutan
Warga memastikan bahwa apabila enam tuntutan mereka tidak ditindaklanjuti, aksi lanjutan dengan massa lebih besar bukan hal yang mustahil. Agus menegaskan bahwa jika tuntutan tidak direalisasikan, aksinya bakal lebih besar lagi.
“Ini baru awal,” ucap dia.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar