Misteri Kematian Mahasiswi Unima di Matani, Kapolsek Tomohon Tengah Bantah Isu Beredar

Peristiwa Kematian Mahasiswi Unima yang Memicu Spekulasi

Kasus kematian tragis mahasiswi Universitas Negeri Manado (Unima), Evia Maria Mangolo, 21 tahun, yang ditemukan tak bernyawa di rumah kos di Kelurahan Matani Satu, Tomohon Tengah, telah memicu berbagai spekulasi di media sosial. Banyak narasi yang muncul, termasuk isu bahwa korban sempat melaporkan kasus pelecehan seksual namun tidak ditindaklanjuti oleh aparat.

Menanggapi hal tersebut, Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan, memberikan klarifikasi untuk meluruskan opini publik. Ia menjelaskan kronologi sebenarnya terkait kehadiran rekan-rekan korban di kantor polisi sebelum peristiwa memilukan itu terjadi. Menurutnya, ada kesalahpahaman informasi yang beredar di masyarakat.

"Jadi ceritanya begini, tanggal 18 Desember lalu, ada teman dari korban Evia ini yang mau datang mengadu ke Polsek Tomohon Tengah. Dirinya mendukung korban untuk terus mengawal kasus dugaan pelecehan ini. Nah, dari situ terjadi perdebatan antar sesama mereka di dalam grup WhatsApp kampus. Dan kasus ini sudah berproses di internal kampus," ujar Iptu Stenly, Rabu (31/12).

Ia menegaskan bahwa kedatangan rekan korban bukan untuk melaporkan tindakan pelecehan secara hukum, melainkan terkait rasa tidak aman akibat konflik di internal grup WhatsApp. "Temannya merasa terancam karena sudah terjadi perdebatan di grup WhatsApp itu. Niatnya mau mengadu, bukan melaporkan kasus yang dialami EMM," sambungnya.

Penjelasan BEM Unima dan Status Laporan Resmi

Selain rekan korban, pimpinan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unima juga sempat mendatangi Mapolsek Tomohon Tengah untuk memberikan keterangan tambahan mengenai situasi yang terjadi di lingkungan kampus. "Dia memberikan penjelasan kepada anggota, jika yang datang ke Polsek Tomohon Tengah itu sudah mendapatkan ancaman. Tapi, dirinya menjelaskan kalau penanganan masalah ini, sudah bergulir di internal Unima. Dan saat itu sudah clear semua," ungkap Kapolsek.

Hingga saat jenazah korban ditemukan pada Selasa (30/12), polisi menegaskan bahwa secara administratif tidak ada berkas laporan yang masuk terkait dugaan pelecehan seksual terhadap korban. "Jadi kesimpulannya, sampai dengan saat ini belum ada laporan resmi perihal kasus korban EMM. Kembali saya tegaskan tidak ada laporan baik dari korban maupun teman korban," imbuhnya.

Fakta-Fakta Terkait Kematian Korban

Sebelumnya, warga Tomohon dikejutkan dengan penemuan mayat perempuan di Kelurahan Matani Satu. Korban diidentifikasi sebagai Evia Maria Mangolo, 21 tahun. Saat ditemukan di lokasi kejadian, korban dalam posisi tergantung dengan kain Bali, mengenakan kaos hitam dan celana pendek hitam.

Di lokasi kematian, ditemukan sepucuk surat yang diduga ditulis Evia terkait kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Ia pun menceritakan detik-detik pelecehan seksual oleh oknum dosen Unima. Hingga kini, pihak kepolisian masih terus mendalami motif dan latar belakang di balik kejadian tragis tersebut.

Klarifikasi Mengenai Laporan Pelecehan Seksual

Pihak kepolisian menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait dugaan pelecehan seksual terhadap Evia. Hal ini disampaikan langsung oleh Kapolsek Tomohon Tengah, Iptu Stenly Tawalujan. Ia menekankan bahwa tidak ada laporan yang masuk baik dari korban maupun rekan korban.

Namun, isu mengenai adanya laporan pelecehan seksual yang tidak ditindaklanjuti tetap menjadi sorotan masyarakat. Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan informasi yang diberikan oleh pihak berwajib agar tidak terjebak dalam misinformasi.

Langkah-Langkah yang Dilakukan Pihak Kampus

Dalam rangka menangani isu yang berkembang, BEM Unima turut serta dalam upaya klarifikasi. Mereka memberikan penjelasan bahwa masalah yang terjadi di lingkungan kampus sudah ditangani secara internal. Meski begitu, pihak kampus tetap membuka ruang komunikasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan kejelasan dan keamanan bagi seluruh mahasiswa.

Kesimpulan

Peristiwa kematian Evia Maria Mangolo menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan komunikasi yang baik antara institusi pendidikan, pihak berwajib, dan masyarakat. Dengan informasi yang jelas dan akurat, masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang. Sementara itu, penyidikan terhadap kasus ini terus dilakukan untuk menemukan fakta-fakta terkini.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan