
Penemuan Baru Mengungkap Alasan Kepunahan Homo floresiensis
Bertahun-tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu sepupu hominin terakhirnya, yaitu Homo floresiensis. Spesies manusia purba berukuran kecil ini mendiami Pulau Flores dan sering disebut sebagai "hobbit". Setelah hidup selama lebih dari satu juta tahun di pulau yang terisolasi, penyebab kepunahannya masih menjadi teka-teki besar.
Kini, tim peneliti dari University of Wollongong, berkolaborasi dengan University of Queensland dan Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengungkap alasan hilangnya para hobbit dari Flores. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Communications Earth & Environment pada 8 Desember 2025 ini berisi rekaman iklim paling rinci dari wilayah tempat tinggal Homo floresiensis.
Kekeringan Ekstrem Picu Kepunahan
Para ilmuwan menemukan bahwa kekeringan ekstrem yang dimulai sekitar 61.000 tahun lalu kemungkinan menjadi pemicu utama hilangnya Homo floresiensis. Spesies ini dan mangsa utamanya, gajah kerdil Stegodon, diduga terpaksa meninggalkan habitat mereka akibat kekeringan berkepanjangan. Peneliti juga menekankan kemungkinan hobbit sempat berhadapan dengan manusia modern (Homo sapiens) yang berperawakan lebih besar.
Penemuan hobbit pada 2003 mengubah pandangan ilmuwan tentang evolusi manusia. Tinggi mereka hanya sekitar 1,1 meter, dengan otak kecil, namun mampu membuat perkakas batu dan bertahan di pulau vulkanik yang sulit dijangkau meski tampaknya tidak memiliki teknologi perahu. Sisa-sisa hobbit ditemukan di Gua Liang Bua dan berusia 50.000–190.000 tahun.
Perubahan Iklim yang Signifikan
Sekarang, Flores memiliki iklim muson dengan pola cuaca yang cukup teratur yakni hujan sangat lebat yang biasanya turun pada November hingga Maret, serta hujan ringan yang turun pada Mei sampai September. Namun, pada masa lampau yakni periode glasial terakhir, pola curah hujan di wilayah itu berubah drastis. Baik jumlah hujan maupun waktu kedatangannya tidak lagi mengikuti pola yang kita kenal sekarang.
Untuk memahami seperti apa pola hujan di masa lalu, tim peneliti turun langsung ke Gua Liang Luar, yang berada sekitar 700 meter di hulu Gua Liang Bua. Di bagian dalam gua tersebut terdapat sebuah stalagmit yang pertumbuhannya berlangsung tepat pada periode hilangnya Homo floresiensis. Setiap tetes air yang membentuk lapisan pada stalagmit membawa jejak kimiawi. Seiring lapisan itu menumpuk dari waktu ke waktu, komposisinya menjadi rekaman alami perubahan iklim.
Tiga Fase Iklim yang Dilalui
Para ahli paleoklimatologi menggunakan dua indikator geokimia utama untuk membaca curah hujan masa lalu dari stalagmit. Pertama, rasio isotop oksigen untuk melihat seberapa kuat monsun pada suatu periode. Kedua, perbandingan magnesium dan kalsium yang menunjukkan berapa banyak hujan yang turun.
Hasil analisis menunjukkan tiga fase iklim utama:
- Periode 76.000–91.000 tahun lalu: Iklim tercatat lebih basah sepanjang tahun dibandingkan kondisi saat ini.
- Periode 61.000–76.000 tahun lalu: Pola musim semakin jelas, dengan musim panas yang jauh lebih basah dan musim dingin yang makin kering.
- Periode 47.000–61.000 tahun lalu: Iklim berubah signifikan menjadi jauh lebih kering pada musim panas.
Migrasi H. floresiensis Bersama Mangsanya
Para peneliti telah memiliki catatan perubahan iklim yang cukup lengkap, namun mereka masih perlu mengetahui bagaimana perubahan itu memengaruhi lingkungan sekitar Liang Bua. Untuk itu, tim ilmiah menyusun ulang garis waktu fosil Homo floresiensis dengan bantuan analisis isotop d18O pada email gigi fosil Stegodon florensis insularis, gajah kerdil yang menjadi salah satu mangsa utama hobbit.
Kecocokan ini memungkinkan peneliti menentukan usia fosil Stegodon dan sisa H. floresiensis secara lebih akurat. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 90 persen fosil gajah kerdil berasal dari periode 76.000–61.000 tahun lalu, masa dengan iklim sangat musiman yang tampaknya ideal bagi kedua spesies tersebut. Namun, ketika iklim berubah lebih kering, populasi gajah kerdil dan hobbit turut menurun.
Peneliti menduga berkurangnya curah hujan menyebabkan sumber air penting seperti Sungai Wae Racang mengecil. Stegodon kemungkinan bermigrasi untuk mencari air, dan H. floresiensis diduga mengikuti, sehingga Liang Bua akhirnya ditinggalkan secara bertahap.
Faktor Gunung Berapi
Beberapa fosil Stegodon dan peralatan batu terakhir di Liang Bua diketahui tertutup lapisan abu vulkanik, yang diperkirakan berasal dari 50.000 tahun lalu. Namun, belum diketahui apakah letusan gunung berapi di dekatnya menjadi 'titik akhir' kepunahan H. floresiensis.
Bukti arkeologi pertama yang dikaitkan dengan Homo sapiens berada di atas lapisan abu. Meskipun belum ada bukti langsung bahwa H. sapiens dan H. floresiensis bertemu, temuan arkeologi dan DNA terbaru menunjukkan bahwa manusia modern telah berpindah-pindah pulau di Indonesia hingga ke superbenua Sahul setidaknya 60.000 tahun lalu.
Jika H. floresiensis terdorong oleh tekanan ekologis ke daerah pantai, kemungkinan mereka berinteraksi dengan manusia modern, dan faktor seperti persaingan, penyakit, atau pemangsaan bisa berperan.
Penelitian tersebut menyediakan kerangka kerja bagi penelitian selanjutnya mengenai kepunahan H. floresiensis, sekaligus menekankan peran penting ketersediaan air tawar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar