Kronologi Tabrakan yang Mengguncang Ken dan Grat

Pada pagi hari, Ken, Grat, dan anak mereka Kiana sedang berada di dalam mobil dan ingin keluar dari komplek. Tiba-tiba, ada mobil di depan mereka yang tiba-tiba mundur dengan cepat ke arah mobil mereka. Mereka segera mengerem dan menekan klakson, berharap pengemudi tersebut berhenti. Namun, mobil itu terus mundur tanpa mengurangi kecepatannya hingga akhirnya menabrak mobil Ken dan Grat secara keras.
“Pagi-pagi mau keluar komplek, tiba-tiba di tengah jalan ada mobil yang mundur. Langsung kita ngerem (saat itu jarak masih 4-5 meter) dan klakson-klakson berharap mobil depan berhenti mundur,” tulis pasangan ini dalam unggahan Instagram.
Tidak hanya tidak berhenti, pengemudi mobil tersebut malah memainkan peran korban. Ia bahkan bertanya, “Kenapa tabrak saya?” Seolah-olah mereka yang bersalah. Ken dan Grat mencoba menjelaskan kronologi kejadian, tetapi pelaku tidak merespons dengan baik. Justru, mereka dituduh dan ditunjuk-nunjuk.
Istri Pelaku Turun dan Menambah Kekacauan

Harapan akan situasi yang tenang sempat muncul ketika istri dari pengemudi tersebut turun dari mobil. Namun, nyatanya, ia juga ikut marah-marah dan menambah kekacauan. Ia tidak mencoba mendengarkan penjelasan dari pihak Ken dan Grat terlebih dahulu.
“Gak lama ibunya turun, kirain mau nenangin, eh marah-marah juga,” ungkap mereka.
Bantuan Satpam yang Tidak Dianggap

Beberapa satpam datang untuk melerai situasi yang tidak kondusif. Salah satu satpam senior yang melihat langsung kejadian tersebut menyatakan bahwa mobil depan memang yang terus mundur hingga menabrak. Sayangnya, meski fakta sudah jelas, pelaku tetap mengomel dan satpam kewalahan menghadapi sikap mereka.
“Satpam-satpam pada datang dan kebetulan ada 1 satpam senior yang ngelihat jelas kejadiannya dan beliau bilang memang mobil depan yang mundur terus sampai akhirnya nabrak kita. Tapi, satpam-satpam juga nyerah ngelawan bapak-ibu yang ngomel-ngomel ngalor ngidul terus,” tutur mereka.
Tidak Ada Itikad Baik dari Pelaku

Ken dan Grat tidak menuntut macam-macam. Mereka hanya meminta pelaku bertanggung jawab dengan mengecek kondisi mobil ke bengkel atau setidaknya melihat apakah ada kerusakan mesin akibat benturan. Namun, respons yang diterima justru tidak enak didengar.
Pelaku pergi tanpa permintaan maaf dan membawa emosi yang tidak jelas. Bahkan, mereka meremehkan kerusakan dengan mengatakan bahwa itu hanya “plastik plat mobil yang pecah”.
“Akhirnya kita bilang, ya sudah gak mau perpanjang, bayar saja klaim asuransi, mereka tetap gak mau, dan ibunya bilang 'itu cuma plastik plat mobil yang pecah, plastik gitu kamu mau saya ganti berapa?'. Anyway, disini dia berarti sudah ngaku ya, bahwa mereka yang salah.”
Masalah Terus Memanas

Situasi makin memanas saat pelaku mulai menggunakan kata-kata tidak pantas. Bahkan, mereka menyuruh papanya Ken datang untuk menghadapinya. Tindakan itu menunjukkan bahwa mereka memilih memperkeruh keadaan daripada bertanggung jawab. Akhirnya, Ken dan Grat memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah.
Dampak yang Dirasakan

Setelah tabrakan, mereka menemukan aroma gosong dan AC mendadak panas. Setelah kap mobil dibuka, ternyata baling-baling AC mati total. Para satpam pun mengonfirmasi bahwa mobil memang berbau gosong.
Akhirnya, perjalanan mereka harus terhambat dan memutuskan untuk segera pulang karena khawatir terjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Mobil mereka harus diderek agar bisa diperbaiki.
Penyesalan atas Etika dan Tanggung Jawab

Melihat mobil pelaku yang lebih mewah, Ken dan Grat merasa bahwa perbedaan itu membuat pelaku menganggap kerusakan pada mobilnya bukanlah masalah besar. Namun bagi mereka, ini soal rasa tanggung jawab dan etika. Belum lagi, anak mereka mengalami trauma setelah mendengar suara benturan yang sangat keras.
“Kita sadar sih, mobil kita gak seberapa dibanding mobil mereka yang milyaran, mungkin bagi mereka ini nothing, sampe ibunya nyepelein banget plat mobil kita yang patah berkeping-keping. Tapi, bagi kita ini tuh soal tanggung jawab dan etika. Belum lagi traumanya Kiana ditabrak bunyinya begitu kenceng.”
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar