
Kematian Matthew Perry, aktor yang memerankan tokoh Chandler Bing dalam serial Friends yang populer pada tahun 90-an, telah menjadi perhatian dunia. Ia ditemukan dalam keadaan meninggal di jacuzzi rumahnya di Los Angeles. Laporan medis menunjukkan adanya kandungan ketamin dalam kadar tinggi. Meski Matthew menerima terapi ketamin untuk mengatasi gangguan kesehatannya, terapi tersebut tidak berkorelasi dengan temuan kadar tinggi ketamin dalam darahnya. Penyebab utama kematiannya disebabkan oleh stimulasi kardiovaskular berlebih dan depresi pernafasan, namun ada indikasi penggunaan ketamin secara berlebihan.
Tren penyalahgunaan ketamin di Indonesia juga mulai meningkat. Meskipun bukan kasus baru, banyak orang belum menyadari risiko dari penyalahgunaan obat ini. Berdasarkan data dari otoritas pengawas obat, yaitu BPOM RI, terdapat peningkatan jumlah penyaluran ketamin sediaan injeksi ke fasilitas pelayanan kefarmasian seperti instalasi farmasi rumah sakit, apotek, dan puskesmas. Pada tahun 2024, jumlah penyaluran ketamin injeksi mencapai 440 ribu vial, meningkat 87% dibandingkan tahun 2023 sebanyak 235 ribu vial. Jumlah ini juga meningkat 75% dari tahun 2022 sebanyak 134 ribu vial. Dari data tersebut, jumlah ketamin injeksi yang didistribusikan ke apotek pada tahun 2024 mencapai 152 ribu vial, meningkat 246% dari tahun 2023 yang berjumlah 44 ribu vial.
Mengapa tren peningkatan peredaran ketamin ini dianggap mengkhawatirkan?
Sekilas tentang Ketamin
Ketamin termasuk dalam kategori obat keras yang secara legal digunakan sebagai salah satu jenis sediaan anestesi (bius) umum untuk prosedur operasi singkat. Ketamin memiliki kemampuan untuk tetap menjaga fungsi atau refleks pernafasan dan kardiovaskular dalam tubuh. Oleh karena itu, ketamin menjadi pilihan ideal untuk situasi darurat karena dapat diberikan tanpa perlu alat pernapasan tambahan. Selain itu, ketamin juga digunakan sebagai pre-anestesi untuk menginduksi anestesi umum ketika dikombinasikan dengan anestesi umum lainnya. Ketamin bekerja dengan cara menghambat reseptor NMDA pada sistem saraf pusat. Hambatan ini akan memblokir rasa sakit sehingga mengurangi rasa nyeri.
Meski demikian, efek samping seperti mual, muntah, pusing, penglihatan ganda, mengantuk, gelisah, dan kebingungan bisa terjadi jika dosis terlalu tinggi. Penggunaan ketamin dalam pengawasan medis tentu bermanfaat, tetapi jika digunakan sembarangan, dosis berlebih, atau jangka panjang, dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan.
Modus Penyalahgunaan Ketamin dan Risikonya Bagi Kesehatan
Karena memiliki efek psikoaktif seperti sedasi, halusinasi, dan amnesia, ketamin rentan disalahgunakan. Dalam konteks penyalahgunaan, ketamin digunakan sebagai pereda nyeri saat membuat tato. Selain itu, penggunaan ilegal ketamin sering dilakukan dengan cara dihirup. Baru-baru ini, petugas gabungan dari BPOM, BNN, dan Bea Cukai berhasil membongkar penyelundupan ketamin dalam produk cartridge cairan vape yang diproduksi di laboratorium rahasia di Bogor, Jawa Barat.
Vape atau rokok elektronik marak digunakan sebagai media penyelundupan narkotika dan zat psikoaktif lainnya. Studi di luar negeri menyoroti isu penyalahgunaan narkotika dan zat terlarang seperti cannabinoid, kratom, hingga ketamin yang disusupkan dalam e-cigarette. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku semakin kreatif dalam mengelabui petugas keamanan, dan bahaya penyalahgunaan vape untuk zat-zat terlarang semakin nyata.
Dampak Buruk Penyalahgunaan Ketamin
Efek jangka pendek dari penyalahgunaan ketamin antara lain euforia semu, kebingungan, halusinasi, hingga hilang kesadaran. Efek jangka panjang meliputi gangguan memori dan fungsi kognitif. Risiko adiksi juga tinggi, karena pengguna cenderung meningkatkan dosis, yang bisa berujung pada overdosis. Penyalahgunaan ketamin yang dikombinasikan dengan obat seperti benzodiazepin, barbiturat, dan opiat juga berisiko menyebabkan kematian.
Mencegah Penyalahgunaan Ketamin
Saat ini, ketamin masih termasuk obat keras yang harus berdasarkan resep dokter. Namun, karena potensi penyalahgunaannya cukup tinggi, BPOM akan mengusulkan agar ketamin dimasukkan dalam golongan psikotropika. Regulasi Peraturan BPOM nomor 12 tahun 2025 telah diterbitkan, di mana ketamin masuk ke dalam golongan Obat-Obat Tertentu (OOT) yang sering disalahgunakan bersama enam obat lainnya.
Regulasi ini mengatur produksi, distribusi, dan pelayanan kefarmasian untuk OOT dengan sistem pengelolaan yang lebih ketat. Pencegahan penyalahgunaan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, tenaga medis, dan masyarakat. Pelaku usaha harus menerapkan standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB), sementara apoteker harus mampu melakukan analisis risiko saat melayani penyaluran OOT.
Partisipasi Masyarakat dalam Pencegahan
Masyarakat dapat berpartisipasi dengan beberapa cara: * Menolak pemberian atau tawaran barang dari orang asing dengan modus seperti pengiriman paket salah alamat. * Menghindari rasa penasaran untuk mencoba sesuatu yang melanggar hukum. * Memperhatikan pergaulan yang tidak baik. * Memperkaya literasi terkait modus penyalahgunaan zat terlarang. * Meningkatkan kepedulian sosial terhadap orang-orang terdekat.
Ketamin memiliki manfaat dalam dunia pengobatan, tetapi risiko penyalahgunaannya menjadi tantangan. Diperlukan komitmen kuat dari seluruh stakeholder untuk melindungi masyarakat dari bahaya zat terlarang.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar