
Festival Literasi Sulawesi Utara 2025: Kehadiran Buku Keberagaman Dalam Semangkuk Tinutuan
Festival Literasi Sulawesi Utara (Sulut) 2025 menampilkan berbagai inisiatif yang menarik, salah satunya adalah peluncuran buku berjudul Keberagaman Dalam Semangkuk Tinutuan (Kumpulan Cerita Dari Utara). Buku ini menjadi fokus utama dalam beberapa sesi kegiatan festival yang digelar pada Kamis, 11 Desember 2025. Dengan mengangkat tema kearifan lokal, buku ini berhasil mencuri perhatian peserta dan pengunjung.
Dalam sesi Bedah Buku, Keberagaman Dalam Semangkuk Tinutuan dibahas secara mendalam oleh sejumlah tokoh literasi. Hadir sebagai pembicara adalah Ketua Umum Perkumpulan Literasi Indonesia (PLI) sekaligus pendiri perpustakaan komunitas Baca di Tebet, Wien Muldian. Selain itu, dua penyunting sekaligus penulis buku, yaitu Ursula Monoarfa dan Sahril Kadir, juga turut serta dalam diskusi tersebut. Moderator sesi ini adalah founder Perkumpulan Literasi Sulawesi Utara, Faradila Bachmid.
Buku ini berisi 17 cerita pendek yang menceritakan kearifan lokal dari Sulawesi Utara. Pemilihan cerita-cerita tersebut dilakukan dari total 180 karya yang masuk. Proses seleksi ini menunjukkan antusiasme para penulis daerah terhadap tema kearifan lokal.
Ursula Monoarfa, salah satu penyunting dan penulis buku, menjelaskan tantangan dalam proses penyusunan buku ini. Ia menyebutkan bahwa memasukkan konten lokal ke dalam fiksi merupakan tantangan tersendiri. Konten lokal lebih mudah ditulis dalam bentuk nonfiksi karena berbasis riset, ujarnya.
Di sisi lain, Sahril Kadir menyoroti kesalahan teknis yang sering ditemui oleh para penulis pemula. Kita sering keliru menulis kata sambung dan kata pisah seperti di, ke, atau dari, katanya. Ia juga menemukan bahwa beberapa karya yang masuk menggunakan AI dalam proses penulisannya.
Selain itu, Wien Muldian membawakan materi dengan judul Mengulik Lokalitas, Mengayak Gagasan, Menyemai Narasi: Perihal Karya Kreatif. Dalam presentasinya, ia mengapresiasi lahirnya buku ini sebagai bukti tumbuhnya bibit-bibit penulis muda berbakat di Sulawesi Utara.
Festival Literasi Sulawesi Utara 2025 mengusung tema Menguatkan Literasi Melalui Kearifan Lokal. Kegiatan ini menjadi wujud komitmen Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dalam memperkuat budaya literasi dan mendorong kreativitas generasi muda melalui karya sastra yang berbasis lokalitas.
Tantangan dan Peluang dalam Penulisan Lokal
Proses penyusunan buku ini tidak hanya tentang pilihan cerita, tetapi juga bagaimana mempertahankan nilai-nilai lokal dalam narasi fiksi. Dalam hal ini, para penyunting harus bekerja sama dengan penulis untuk memastikan bahwa setiap cerita tetap merepresentasikan kearifan lokal tanpa kehilangan daya tarik sastra.
Salah satu tantangan yang dihadapi adalah mengubah informasi yang bersifat factual menjadi narasi yang menarik. Hal ini membutuhkan keterampilan khusus dalam menulis fiksi yang tetap menghormati aspek lokal.
Selain itu, adanya penggunaan AI dalam penulisan karya-karya yang masuk menunjukkan perkembangan teknologi dalam dunia literasi. Namun, penggunaan AI juga membuka pertanyaan tentang otentisitas dan kreativitas dalam penulisan.
Peran Festival dalam Pengembangan Literasi
Festival Literasi Sulawesi Utara 2025 tidak hanya menjadi ajang pameran karya, tetapi juga menjadi wadah untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Dengan hadirnya tokoh-tokoh literasi, peserta dapat belajar lebih dalam tentang cara menulis, menyunting, dan mengembangkan karya sastra.
Melalui acara ini, generasi muda di Sulawesi Utara memiliki kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses kreatif. Mereka bisa belajar dari pengalaman para penulis senior dan penyunting yang sudah berpengalaman.
Dengan demikian, festival ini tidak hanya memberikan wadah bagi karya-karya lokal, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun komunitas literasi yang kuat dan berkelanjutan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar