Museum Keraton Solo Dikunci, Kubu PB XIV Hangabehi Berupaya Buka Pintu Kamandungan

Upaya LDA Keraton Surakarta untuk Buka Pintu Kamandungan Selama Liburan Akhir Pekan

Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat sedang berupaya keras untuk membuka Pintu Kamandungan agar wisatawan tetap bisa mengakses area keraton secara terbatas selama masa liburan akhir pekan. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk solusi atas penutupan Museum Keraton Solo yang masih digembok oleh pihak tertentu.

Museum Keraton Solo tidak dapat diakses karena digembok oleh kubu Pakubuwono XIV Purboyo. Meski sempat dibuka saat peresmian revitalisasi oleh Menteri Kebudayaan, setelah peristiwa tersebut, museum kembali ditutup dan tidak bisa diakses hingga kini. Hal ini menimbulkan kekecewaan dari masyarakat, terutama para wisatawan yang ingin menikmati warisan budaya yang telah direvitalisasi.

Ketua Eksekutif LDA Keraton Surakarta Hadiningrat, KPH Eddy Wirabhumi, mewakili Pakubuwono XIV Hangabehi, menyampaikan bahwa pihaknya akan segera mencari solusi agar wisatawan tetap bisa menikmati akses ke area keraton meski dalam batasan tertentu. Ia menjelaskan bahwa dulu pernah ada akses dari Kamandungan ke pelataran, dan kini pihaknya akan melakukan hal serupa.

“Agar di tengah suasana liburan ini wisatawan tetap bisa menikmati, meski terbatas, kami akan memberikan solusi. Seperti dulu, pernah dibuka akses dari Kamandungan ke pelataran, kemudian kembali lagi,” ujarnya saat ditemui, Sabtu (27/12/2025).

Ia juga menyampaikan harapan agar pembukaan akses bisa segera dilakukan. “Mudah-mudahan tidak bisa hari ini, besok. Kalau Sabtu-Minggu penuh, kasihan mereka,” tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah pegawai Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X sempat diusir dari Museum Keraton Solo pada Sabtu (13/12/2025). Namun, sehari sebelum peresmian, Senin (15/12/2025), sejumlah petugas BPK Wilayah X kembali diizinkan masuk. Saat peresmian, gembok museum sempat dibuka. Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau tata pamer yang telah selesai direvitalisasi.

Namun setelah peresmian, museum kembali digembok hingga kini. KPH Eddy memohon maaf atas kondisi tersebut, terlebih penutupan terjadi setelah peresmian dilakukan. Ia menjelaskan bahwa penutupan ini sangat disayangkan karena di masa liburan masyarakat seharusnya bisa mendapatkan informasi tambahan tentang Museum Keraton, tetapi justru digembok rapat.

Pihaknya akan berkoordinasi dengan Panghageng Sasana Wilapa PB XIV Hangabehi, GKR Koes Murtiyah Wandansari, serta Sinuhun Hangabehi untuk memberikan akses bagi wisatawan. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan menerima keluhan, masukan, dan saran agar selama liburan ini diberikan akses untuk menikmati keraton. Hal ini akan disampaikan kepada keluarga besar Gusti Moeng dan Sinuhun agar aksesibilitas bisa diberikan meski terbatas.

KPH Eddy juga mengakui bahwa revitalisasi museum masih berada pada tahap awal. Meski demikian, ruang tata pamer sebenarnya sudah dapat dinikmati publik. “Sejujurnya, BPK yang melakukan konservasi kemarin belum tuntas karena bekerja dalam suasana tertekan. Namun sebetulnya sudah bisa dinikmati,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ingin memperkeruh konflik dengan membuka museum secara paksa. Ia memilih menjaga kondusivitas sesuai arahan pemerintah. “Pemerintah tidak menyarankan pembukaan paksa, sehingga kami akan mencari solusi terbaik,” pungkasnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan