Musim Hujan Mulai, Tarakan Waspadai Bencana Hidrometrologi, Ini Penjelasan BMKG

Potensi Bencana Hidrometeorologi di Kaltara, Termasuk Tarakan

Periode Monsun Asia yang sedang berlangsung saat ini menunjukkan bahwa potensi bencana hidrometeorologi masih bisa terjadi di Kalimantan Utara (Kaltara), termasuk di kota Tarakan. Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG Tarakan, M Sulam Khilmi.

M Sulam Khilmi menjelaskan bahwa periode Monsun Asia ditandai dengan udara yang basah dan angin yang bertiup dari Asia ke Indonesia. Angin ini mengandung banyak uap air yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan. Dengan tingginya pertumbuhan awan hujan, maka intensitas hujan juga akan meningkat.

Menurutnya, dalam seminggu ke depan, intensitas hujan di Kaltara diperkirakan berada pada kategori menengah. Fenomena cuaca seperti hujan intensitas sedang hingga lebat dapat berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi, seperti genangan banjir atau longsor.

Bencana hidrometeorologi terjadi akibat peningkatan intensitas curah hujan. Hal ini tidak hanya terjadi di Tarakan, tetapi juga di seluruh wilayah Kaltara. Informasi tentang peringatan dini cuaca ekstrem harian tersedia di grup-grup WhatsApp, termasuk detail daerah dan tanggal yang akan diupdate setiap hari untuk tiga hari ke depan.

Dinamika Atmosfer dan Potensi Siklon

M Sulam Khilmi menjelaskan bahwa kondisi atmosfer memengaruhi kemungkinan terjadinya hujan intensif. Jika tekanan udara semakin rendah, maka peluang peningkatan intensitas curah hujan juga semakin tinggi.

Saat ini, di Laut Filipina, sedang tumbuh bibit siklon yang menjadi perhatian BMKG. Jika bibit siklon tersebut berkembang menjadi siklon, maka tekanan udara akan semakin rendah dan kecepatan angin akan meningkat. Dengan tekanan yang rendah, lebih banyak uap air akan tertarik, sehingga potensi pertumbuhan awan hujan juga meningkat.

“Ini yang harus diwaspadai oleh masyarakat, karena dampaknya ketika terjadi, selain intensitas hujan yang tinggi, juga salah satu dampaknya lagi adalah naiknya ketinggian gelombang di wilayah perairan Kaltara,” ujarnya.

Peran Nelayan dalam Memantau Cuaca

Ia berharap nelayan tetap waspada dan terus memantau update cuaca dari BMKG. Alhamdulillah, para nelayan sudah memiliki grup khusus untuk mendapatkan informasi terbaru.

Penjelasan Mengenai Bibit Siklon

M Sulam Khilmi menjelaskan bahwa siklon yang sedang diamati belum diberi nama karena masih dalam tahap bibit. Namanya adalah bibit siklon tropis 93W.

Dalam situasi dengan pertumbuhan awan hujan yang signifikan, angin kencang bisa muncul. Perbedaan tekanan antara wilayah dengan tekanan tinggi dan rendah akan memengaruhi kecepatan angin. Semakin besar perbedaan tekanan, semakin kencang anginnya.

Potensi hujan yang tinggi juga terkait dengan pemanasan matahari yang masif. Penurunan tekanan udara yang semakin dalam akan menarik angin dari wilayah dengan tekanan tinggi. Konsep temperatur dan tekanan berbanding terbalik, sehingga tekanan yang rendah menyebabkan perbedaan tekanan yang lebih besar dan angin yang semakin kencang.

Di tempat dengan tekanan yang rendah, awan hujan yang masif akan tumbuh. Inilah yang dinamakan bibit siklon. Semakin rendah tekanannya, semakin kencang anginnya dan kemungkinan berkembang menjadi siklon juga semakin besar.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan