
Perkembangan Musim Hujan di Bali dan Persiapan Menghadapi Cuaca Ekstrem
Sebagian besar wilayah Provinsi Bali saat ini telah memasuki musim hujan. Namun, terdapat dua wilayah yang masih belum mengalami perubahan cuaca tersebut. Hal ini disampaikan oleh Prakirawan BBMKG Wilayah III Denpasar, Luh Nyoman Didik Tri Utami, pada Senin 1 Desember 2025.
Menurut data terbaru hingga 30 November 2025, sebagian besar wilayah Bali sudah memasuki musim hujan, kecuali beberapa daerah kecil di Kabupaten Buleleng, Karangasem, dan Klungkung. Dilihat dari Zona Musim (ZOM), terdapat 13 ZOM yang sudah masuk musim hujan, yaitu ZOM di wilayah Bali bagian tengah dan barat.
Selain itu, terdapat 3 ZOM yang menunjukkan indikasi masuknya musim hujan. ZOM tersebut berada di wilayah ZOM 424 (Buleleng bagian utara), ZOM 428 (Karangasem bagian timur), dan ZOM 436 (Nusa Penida). Sementara itu, wilayah ZOM di Bali bagian utara dan timur belum memasuki musim hujan.
Dari data titik pos hujan, hingga 30 November 2025 terdapat 46 titik pos hujan yang sudah memasuki musim hujan. Hal ini dikarenakan curah hujan di wilayah tersebut mencapai lebih dari 50 mm dalam tiga dasarian berturut-turut. Sedangkan terdapat 10 titik pos hujan yang menunjukkan indikasi masuknya musim hujan, seperti di wilayah Nusa Penida, Karangasem, dan Buleleng.
Puncak musim hujan di Provinsi Bali diprediksi akan terjadi pada bulan Januari hingga Februari 2026. Sifat musim hujan tahun 2025–2026 diperkirakan normal (75 persen) dan atas normal (25 persen).
Pengaruh Siklon Tropis terhadap Cuaca Bali
Tri Utami menjelaskan bahwa siklon tropis dapat memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kondisi cuaca di Bali. Namun, tidak semua siklon tropis dapat memengaruhi cuaca di wilayah ini. Pengaruhnya bergantung pada lokasi terbentuknya dan jalur yang dilalui oleh siklon tropis.
Masyarakat diimbau untuk selalu waspada terhadap potensi cuaca ekstrem seperti hujan yang disertai kilat atau petir serta angin kencang. Selain itu, masyarakat diminta untuk terus memperbarui informasi cuaca terkini dari BMKG Bali.
Prediksi Curah Hujan Tinggi di Wilayah Jawa, Bali, dan Sekitarnya
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa dua bulan ke depan wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagian Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan Kalimantan akan mengalami curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Ia juga menyebut adanya potensi bibit siklon atau siklon tropis di perairan selatan Indonesia hingga NTT, Laut Arafura, serta selatan Papua.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa, Bali, NTB, NTT, Maluku, Papua Selatan, dan Papua Tengah. BMKG terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga melalui operasi modifikasi cuaca untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem pada puncak musim hujan dan libur Nataru. Namun, teknologi modifikasi cuaca saat ini masih belum mampu mencegah pembentukan bibit siklon atau mengurangi intensitas siklon.
Antisipasi Bencana dan Persiapan Nataru
Periode November 2025–April 2026 merupakan fase pertumbuhan bibit atau siklon tropis di selatan Indonesia yang berpotensi menimbulkan hujan lebat dan angin kencang.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Pemerintah Daerah (Pemda) segera melakukan langkah antisipasi bencana sekaligus mempersiapkan penyelenggaraan Natal 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Tito menegaskan bahwa dalam tiga pekan terakhir ini telah terjadi dua bencana hidrometeorologi besar—longsor dan banjir bandang di Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Karena itu, mitigasi dari Pemda penting untuk mencegah jatuhnya korban jiwa. Hal tersebut disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Pusat dan Daerah untuk Antisipasi Momentum Natal dan Tahun Baru 2026, yang digelar secara hybrid dari Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Senin 1 Desember 2025.
Rapat ini dihadiri Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, Wakil Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk Freidrich Paulus, Wakil Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) Imam Sugianto, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani serta Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pertanian, Suwandi.
“Inti dari rapat ini ada dua, yaitu antisipasi bencana dan persiapan Nataru. Ini memerlukan sinergi dan tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Karena itu, kami di tingkat pusat berkumpul dengan para stakeholder terkait. Harapannya, setelah ini kepala daerah segera melakukan rapat dengan Forkopimda (Forum Koordinasi Pimpinan Daerah) dan pemangku kepentingan kebencanaan di daerah,” ujar Tito.
Tito juga mengingatkan pemda untuk memperkuat kesiapan menghadapi peningkatan mobilitas masyarakat pada masa Nataru, baik transportasi darat, laut, maupun udara.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar