Nasib Restoran Petani yang Bergantung pada Wisata di Jatiluwih Bali

Petani di Jatiluwih Protes dengan Menutup Pemandangan Sawah


Para petani di kawasan subak atau pertanian Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali, memasang seng dan plastik hitam sepanjang 15 sampai 20 meter. Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap penyegelan beberapa restoran yang berada di kawasan tersebut. Mereka menutup pemandangan garis melengkung di sawah yang lahir dari tangan mereka.

Pemandangan sawah Jatiluwih menjadi salah satu destinasi populer bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Subak Jatiluwih bahkan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia (WBD) oleh UNESCO pada 2012. Namun, status ini kini terancam karena pembangunan yang tidak terkendali.

Penyebab Penyegelan Restoran


Perwakilan petani sekaligus Pengelola Restoran Gong Jatiluwih, Agus Pamuji Wardana, menjelaskan bahwa pemasangan seng dan plastik merupakan bentuk protes kepada pemerintah yang menyegel 13 restoran milik warga atau petani. Beberapa alasan penyegelan adalah kawasan subak Jatiluwih masuk zona hijau sehingga tidak boleh ada pembangunan, serta kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai warisan budaya oleh UNESCO.

Menurutnya, sebagian besar petani tidak mengetahui bahwa kawasan Jatiluwih ditetapkan sebagai zona hijau. Mereka telah hidup puluhan tahun di kawasan itu.

Penyegelan Dilakukan Secara Sepihak


Selain itu, penyegelan restoran dilakukan secara sepihak oleh Pansus TRAP DPRD Bali dan Satpol PP, tanpa adanya surat pemberian penyegelan. Agus mengatakan bahwa pemerintah menganggap bahwa kawasan tersebut adalah warisan budaya dunia. Namun, ia merasa bahwa daerah pariwisata ini justru merusak lingkungan.

“Kita membuat karena di sana butuh faktor penunjang pariwisata. Kalau dianggap usaha petani merusak lingkungan, lebih baik pariwisatanya nggak ada di Jatiluwih,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa tujuan dari pemasangan seng adalah agar terlihat. Selama ini, pemandangan sawah yang dinikmati oleh wisatawan. Mereka ingin mengganggu pemandangan tersebut.

Wisatawan Datang untuk Menikmati Pemandangan


Berdasarkan data yang dihimpun, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jatiluwih lebih dari seribu orang per hari. Agus mengaku sebagian besar wisatawan justru tidak mengetahui status Jatiluwih sebagai warisan budaya; mereka datang ingin menikmati pemandangan sawah.

“Kalau saya sendiri, saya nggak berkomentar setuju atau tidak dicabut oleh UNESCO. Tapi sepengetahuan saya, wisatawan ke Jatiluwih itu nggak tahu kalau itu warisan budaya dunia. Mostly mereka tahu pemandangannya bagus, baru kita kasih tahu ada label UNESCO,” tambahnya.

Harapan Petani untuk Solusi Win-Win


Agus berharap pemerintah memberikan solusi win-win terkait status UNESCO dan penataan ruang di kawasan tersebut. Ia mencontohkan Restoran Gong Jatiluwih yang dibangun dengan konsep ramah lingkungan atau eco-friendly—ala rumah joglo dari bambu.

Petani berharap wisatawan bisa menikmati pemandangan sawah mereka sekaligus mencicipi makanan yang disediakan anak-cucu mereka. Agus mengaku para petani sekaligus pengusaha juga taat membayar pajak.

“Petani itu karena sawahnya sebagai objek pariwisata, dan mereka mencoba mengais sedikit rezeki dengan membangun lapak di sawahnya sendiri, bukan menyerobot lahan pemerintah.”

“Kita sebenarnya mencari win-win solution. Jadi begini, semua pengusaha di Jatiluwih petani juga. Mereka memiliki lahan di sawah yang notabene objek wisata, dan pengusaha itu lokal semua, nggak ada investor asing,” katanya.

Penjelasan Pansus TRAP Bali


Pansus TRAP (Tata Ruang, Aset, dan Perizinan) DPRD Bali menjelaskan beberapa alasan penyegelan restoran. Pertama, menjaga kawasan subak Jatiluwih sebagai warisan budaya dunia. Kedua, merespons semakin sempitnya lahan pertanian di Bali.

“Kondisi ini mengancam identitas budaya Bali serta citra Jatiluwih sebagai destinasi sawah terindah yang dicari wisatawan mancanegara,” kata Ketua Pansus TRAP, I Made Supartha, dalam rilisnya.

Ketiga, bangunan yang boleh berdiri di kawasan warisan budaya hanya berukuran 3×6 meter. Keempat, petani tidak boleh mengalihkan lahan, terutama yang masuk dalam lahan sawah yang dilindungi (LSD).


Supartha mengaku sedang mengkaji solusi bagi petani. Di antaranya penataan kawasan Jatiluwih, mendesain rumah penduduk dengan konsep homestay, dan membangun restoran dengan konsep khas desa yang menampilkan kuliner lokal.

Wisatawan akan dilibatkan dalam atraksi budaya seperti manyi, metekap, nandur, mandi lumpur, menangkap belut, dan trekking di sawah. Selain itu, pemerintah akan menyalurkan bantuan benih, pupuk, memperhatikan irigasi, pengenaan pajak, asuransi pertanian, dan memperkuat sistem subak agar produksi tetap stabil.

“Bisa saja para pemilik lahan disentuh lewat program pemerintah, misalnya beasiswa pendidikan satu KK satu sarjana,” katanya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan