
Nenek 85 Tahun di Makassar Viral Setelah Digendong Tetangganya ke Kantor Lurah
Seorang nenek berusia 85 tahun di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan setelah viral di media sosial. Kejadian ini terjadi ketika ia digendong oleh tetangganya ke kantor lurah untuk mengambil bantuan pangan. Peristiwa ini menimbulkan banyak reaksi dari masyarakat, terutama karena kondisi kesehatan nenek tersebut yang tidak memungkinkannya untuk berjalan sendiri.
Pengalaman Nenek Wahbah
Nenek Wahbah tinggal di Jl Monginsidi Baru, Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar. Dalam video yang diunggah oleh akun Instagram @teropongmakassar, terlihat bagaimana seorang lansia tampak digendong dari dalam rumah menuju becak motor (bentor) yang menunggu di ujung lorong. Ia kemudian dibawa ke Kantor Kelurahan Maricaya Baru untuk mengambil bantuan pangan.
Tribun Timur menemui Wahbah di rumahnya. Saat itu, ia terbaring di kasur yang diletakkan di lantai rumahnya. Di sampingnya, tampak putranya, Ahmad (56), dan menantunya, Emmi (65). Emmi sesekali memijat dan mengusap rambut mertuanya, sambil menceritakan kronologi kejadian tersebut.
Persoalan Pengambilan Bantuan Pangan
Emmi mengaku mendapat informasi adanya pembagian sembako di Kantor Lurah Maricaya Baru. Siang harinya, ia mempercayakan adiknya, Ati, untuk mengambil bantuan tersebut. Namun, Ati mengatakan bahwa petugas menolak pengambilan bantuan karena tidak bisa diwakili. Menurut Emmi, petugas hanya menerima orang yang bersangkutan.
Emmi kemudian meminta Ati kembali ke kantor lurah dengan membawa KTP Wahbah. Namun, KTP tersebut belum dianggap cukup oleh petugas. Akhirnya, Emmi pergi ke kantor lurah dan menemukan bahwa Wahbah sudah tiba di sana menumpang bentor. Kondisi Wahbah terlihat lemah dan digendong oleh warga setempat.
Reaksi dari Petugas dan Masyarakat
Emmi menyebut bahwa lurah setempat melihat langsung kondisi Wahbah yang masih lemas. Menurutnya, lurah menyampaikan rencana kunjungan ke rumah Wahbah. Namun, Emmi merasa kecewa karena baru setelah kejadian tersebut, lurah memberikan perhatian.
Setelah kejadian tersebut, Wahbah akhirnya menerima bantuan berupa dua karung beras dan tiga bungkus minyak goreng. Pantauan Tribun Timur menunjukkan bahwa masing-masing karung bertuliskan “Bantuan Pangan” dengan berat 10 kilogram. Sementara minyak goreng yang diterima bermerk Minyak Kita.
Usai wawancara, Wahbah sempat mengucapkan terima kasih kepada jurnalis tribun timur.com. Ia berbicara dalam bahasa Bugis, yang berarti “Saya sudah tidak mampu lagi, Nak.”
Penjelasan dari Tetangga
Jumriani (26), tetangga yang membawa Wahbah ke kantor lurah, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 13.30 Wita. Ia terpaksa membawa Wahbah karena bantuan tersebut tidak bisa diwakili. “Dibilang petugas tidak bisa diwakili kalau bukan orangnya, jadi kami bawa naik bentor meski hujan,” ujarnya.
Hingga berita ini ditayangkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kelurahan Maricaya Baru terkait kejadian tersebut. Tribun Timur masih berupaya mengonfirmasi lurah setempat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar