
Kondisi Pengungsi Hamil di Gor Kota Pandan
Seorang ibu hamil bernama Sri Asmara (22) tampak berjalan perlahan dengan wajah penuh kehati-hatian. Ia mengenakan daster berwarna biru dan sedang mengandung anak keempatnya yang sudah memasuki usia 4 bulan. Di sebelah kirinya, ia membawa bayi laki-laki yang masih sangat kecil, sementara di tangan sebelah kanannya, ia menuntun seorang balita berusia di bawah lima tahun.
Langkahnya terasa berat karena harus menaiki anak tangga satu per satu. Lantai keramik membuatnya semakin waspwas. Di belakangnya, ada satu anak lagi yang berjalan mengikutinya. Sri Asmara adalah salah satu pengungsi di Gedung Gelanggang Olahraga (Gor) Kota Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Ia berasal dari Kota Medan dan tinggal di Kecamatan Tukka, namun kini harus tinggal di tempat penampungan akibat banjir dan longsoran yang merendam rumahnya.
Sri Asmara telah mengungsi selama 18 hari bersama ratusan warga lainnya. Meski kebutuhan pangan terpenuhi, ia mengeluhkan masalah lain yang cukup mengkhawatirkan. Salah satunya adalah jumlah popok yang diberikan untuk bayi dan balita. Dalam sehari, setiap ibu hanya diberikan 2 buah popok, padahal kebutuhan mereka jauh lebih besar.
Biasanya perhari diberikan 2 Pampers. Tetapi karena ini sudah diare, jadi butuhnya itu 10 sampai 15 Pampers. Dari 3, dua anak saya yang diare, keluh Sri. Anak-anaknya yang kedua dan ketiga mengalami diare sejak dua hari terakhir, sehingga kebutuhan popok meningkat drastis. Namun, permintaan tambahan tidak pernah dipenuhi karena jatah yang ditentukan tetap 2 perharinya.
Selain itu, Sri juga mengeluhkan kurangnya layanan kesehatan untuk ibu hamil. Meskipun vitamin diberikan, susu untuk ibu hamil tidak tersedia. Ia sempat mengeluhkan sakit pada perutnya, tetapi hanya diberikan obat pereda nyeri tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Semalam saya mengeluh sakit hanya diberikan obat saja, tidak diperiksa apa-apa. Kemarin perut saya keram, mules-mules hanya diberi Paracetamol.
Kondisi ini membuat Sri semakin lelah dan ingin segera pulang ke Medan. Ia berharap dapat kembali menjalani kehidupan normal. Namun, ia tidak mau kembali ke rumahnya di Kecamatan Tukka karena kondisi lingkungan belum pulih sepenuhnya.
Ia berharap layanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui ditingkatkan, termasuk penambahan tenaga medis jika memang diperlukan. Rasanya pengen pulang. Disini gak nyaman, ujar Sri.
Masalah Utama yang Dihadapi Pengungsi
- Keperluan popok yang tidak cukup untuk bayi dan balita
- Jumlah popok hanya 2 per hari, padahal kebutuhan bisa mencapai 10-15 per hari
- Anak-anak mengalami diare dan membutuhkan perawatan intensif
-
Permintaan tambahan popok sering ditolak karena keterbatasan pasokan
-
Kurangnya layanan kesehatan untuk ibu hamil
- Vitamin diberikan, tetapi tidak ada suplemen khusus untuk ibu hamil
- Keluhan kesehatan seperti keram dan nyeri perut hanya diatasi dengan obat
-
Tidak ada pemeriksaan medis yang mendalam
-
Ketidaknyamanan hidup sebagai pengungsi
- Lingkungan tidak aman dan tidak nyaman
- Harapan untuk kembali ke rumah asli masih jauh
- Kebutuhan dasar seperti makanan dan air bersih terpenuhi, tetapi fasilitas kesehatan tidak memadai
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar