Ngaos Art Tasikmalaya ke Jakarta: "Buat Tangan Tiongkok" dan Cerita Ayah yang Dinantikan

Ngaos Art Foundation Siap Tampil di Jakarta

Komunitas seni Ngaos Art Foundation yang berada di Kota Tasikmalaya kini siap melangkah ke Jakarta melalui pementasan lakon terbaru mereka, “Made in China”. Karya ini merupakan hasil garapan sutradara AB Asmarandana dan menjadi salah satu program dalam Buka Dapur Mini Festival (BUDAmFEST) 2025. Festival yang diselenggarakan oleh Lab Teater Ciputat (LTC) ini didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN). Pertunjukan akan digelar dua kali di Aula Stovia, Museum Kebangkitan Nasional Jakarta, pada 11 Desember 2025 pukul 14.00 dan 16.30 WIB.

Kehadiran Ngaos Art dalam festival tersebut adalah atas undangan panitia, berdasarkan jejaring penyelenggara festival seni di Indonesia. Sebelumnya, lakon ini telah dipentaskan dalam Lanjong Art Festival 2025 pada pertengahan Agustus lalu.

Agenda BUDAmFEST 2025 LTC: Jejak Pertemuan, Ruang Kolaborasi, dan Arti Festival Sesungguhnya

BUDAmFEST 2025 menawarkan berbagai agenda yang menggambarkan jejak pertemuan antara seniman dan penonton. Festival ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi para pelaku seni untuk saling berbagi dan berkembang. Selain itu, BUDAmFEST mencerminkan arti festival sesungguhnya sebagai wadah untuk menyampaikan pesan-pesan penting melalui seni dan budaya.

Barade Monolog Ngaos Art Hadirkan Beragam Kisah: Antara Perhelatan Ego dan Tubuh Organik

Dalam lakon “Made in China”, AB Asmarandana mengajak penonton untuk menelusuri relung domestik sebuah keluarga kecil. Ruang yang sering tampak sederhana ini menyimpan dunia emosi yang luas. Cerita berpusat pada seorang anak yang sibuk bermain dan belajar Bahasa Inggris. Ia menemukan bahwa semua mainannya adalah Made in China sambil menantikan kepulangan ayahnya, sosok yang kerap pergi entah ke mana.

Kehadiran ayah menjadi semacam ruang kosong yang terus diisi oleh imajinasi. Kadang lucu, kadang getir, dan sering kali tidak terduga. Dialog yang dilontarkan oleh para aktor sedikit-sedikit menyerempet dan menggugat isu-isu fundamental yang sedang ramai dibicarakan.

Perjalanan 'Made in China'

Lakon ini menampilkan dinamika akrab antara Ibu dan Anak dengan berbagai tema rumit seperti kelekatan emosional, kehilangan, dan pencarian identitas. Namun, AB Asmarandana menyajikannya bukan dengan nada berat, melainkan melalui gaya yang ringan, imajinatif, menggelitik, naif, dan penuh lapisan emosi yang tidak selalu tampak, tetapi bisa dirasakan.

Kejenakaan kecil dan adegan-adegan absurd menjadi pintu bagi penonton untuk masuk ke dunia batin tokoh-tokohnya, tanpa kehilangan kedalaman makna.

Produksi "Made in China"

Sebagai karya produksi Ngaos Art, “Made in China” memperlihatkan bagaimana seni pertunjukan dapat merangkai isu personal menjadi pengalaman kolektif. Dengan bahasa visual dan dramaturgi yang akrab namun segar, lakon ini membuka ruang refleksi tentang keluarga—bahwa tidak semua yang hadir terlihat, dan tidak semua yang terasa mampu diucapkan.

Lakon ini beberapa kali dipentaskan. Dalam produksi Ngaos Art, pertama kali dimainkan pada perayaan ulang tahun ke-4 kelompok tersebut yang menjadi bagian dari pertunjukan 'Salah Casting' di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya akhir tahun 2022. Kemudian dipentaskan kembali sebagai lakon yang berdiri sendiri di Studio Ngaos Art pada tahun 2023. Untuk persiapan menuju Lanjong Art Festival 2025, dipentaskan kembali pada Juni 2025. Semua pertunjukan tersebut ditampilkan dengan konsep garap, terutama artistik, yang berbeda.

Pada Senin malam, 1 Desember 2025, Kabar Priangan menyaksikan latihan persiapan kelompok tersebut di Studio Ngaos Art. Kali ini AB Asmarandana menyiapkan empat aktor yang dibuat dalam dua pasang, untuk bertempur di Jakarta. Mereka adalah Kiki Kido berpasangan dengan Lingkar Andin, dan Kahfi Nurul dengan Rika Mustika. Dan tentunya digarap dengan konsep artistik yang berbeda dengan multimedia.

Keikutsertaan Ngaos Art dalam BUDAmFEST 2025

Keikutsertaan Ngaos Art dalam BUDAmFEST 2025 bukan hanya langkah artistik, tetapi juga penanda pertumbuhan jejaring seniman daerah dalam gelanggang nasional. Jakarta akan menjadi saksi bagaimana sebuah kisah domestik yang intim dapat beresonansi lebih luas, meninggalkan jejak pada siapa pun yang pernah menunggu seseorang pulang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan